Pilkada 2015, Muhammadiyah Cianjur Tetap Netral

jalur independen
Ilustrasi

thumb_572153_09010215022015_pilkada2

POJOKSATU – Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Cianjur menegaskan bahwa posisinya di dalam gelaran pemilihan kepala daerah (pilkada) Cianjur yang akan digelar pada Desember 2015 mendatang tetap netral. Hal ini sekaligus menepis isu yang beredar bahwa Muhammadiyah telah dikait-kaitkan dan cukup dekat dengan salah seorang bakal calon bupati (balonbup).

Ketua PDM Kabupaten Cianjur, Bahkrun Dahlan, mengatakan, Muhammadiyah secara organisasi dan kelembagaan akan tetap berada di tengah-tengah dan netral serta tidak terlibat langsung dengan segala hal yang berkenaan dengan politik praksis maupun partai politik tertentu.

“Secara kelembagaan dan organisasi, Muhammadiyah tetap akan netral. Kami juga sudah bertemu dengan semua bakal calon bupati,” tegas Bahkrun di sela-sela rapat kerja PDM Kabupaten Cianjur belum lama ini.


Menurut Bahkrun, Muhammadiyah akan mendorong siapapun yang menjadi bakal calon bupati. Tapi, dengan syarat utama, bahwa ia haruslah sesuai dengan visi Muhammadiyah yakni membangun dan memberdayakan masyarakat serta beramanah.

“Siapapun orangnya, akan kami dorong dan dukung. Selama, dia sesuai dan sejalan dengan visi serta pemikiran Muhammadiyah, yakni membangun dan memberdayakan masyarakat,” ujar Bahkrun.

Bahkrun menambahkan, untuk soal kriteria yang menurutnya dianggap cocok memimpin Cianjur ke depan haruslah sosok yang sangat amanah. Setidaknya, sosok tersebut juga mencerminkan sifat-sifat Rasul.

Tapi, lanjut Bahkrun, itu adalah sosok secara idealnya saja. Sedangkan secara kriteria logis, sosok tersebut harus memiliki kecerdasan dan keberpihakan terhadap masyarakat kecil. Ia pun haruslah mengerti dan paham betul apa yang menjadi keinginan dan harapan masyarakat.

“Sosok itu tentu harus bisa mendefinisikan apa yang diinginkan dan diharapkan serta didambakan masyarakat. Karena Cianjur memiliki nuansa Islami yang kuat, maka ranah itu pula yang harus menjadi dasar. Tentu saja, tanpa meninggalkan proses toleransi, karena Islam itu rahmatan lil’ alamin,” papar lelaki asal Solo, Jawa Tengah itu.

Disinggung tentang sosok putra daerah, Bahkrun dengan tegas tidak melihat hal itu sebagai salah satu syarat mutlak untuk memimpin Cianjur. Pasalnya, yang menjadi penilaian dasar hanyalah kemampuan, kapabilitas serta komitmennya terhadap Cianjur dan masyarakat Cianjur.

“Pemerintahan yang kuat itu karena kemampuan kepemimpinan. Bukan di dasarkan atas sukuisme. Kalau sukuisme yang dikedepankan, maka saya yakin, daerah itu malah akan stagnan dan tidak akan bisa berkembang,” jelas dia.

Sedangkan jika ada yang mengkampanyekan dan mendukung sosok tertentu dengan dasar suku-ras, sambung Bahkrun, maka akan menjadi bumerang bagi calon yang didukungnya sendiri. Hal ini disebabkan karena dengan melakukan itu, maka sama juga dengan menjatuhkan kewibawaan dari sosok yang didukungnya sendiri.

Menurutnya, Cianjur sebagai daerah penyangga dari kota-kota lainnya, sangat jelas banyak orang yang dari luar Cianjur. Kalau isu suku-ras itu yang dikembangkan, kata dia, malah akan menjelekkan dan merendahkan calon yang didukung.

“Akan lebih baik jika adu program, adu kinerja dan adu bukti kemampuan serta kapabilitas selama ini saja. Biarkan masyarakat yang memilih,” pungkas dia.(ruh/dep)