Masyarakat Sejalur Pantura Kena Prank Pengemis Pura-pura Buntung Kakinya, Kedoknya Dibuka Dedi Mulyadi

dedi mulyadi
Anggota DPR RI Dedi Mulyadi, saat menghitung penghasilan seorang pemuda dari hasil mengemis yang pura-pura buntung kakinya.

POJOKSATU.id, SUBANG –Berbagai cara dilakukan untuk menarik simpati masyarakat dan menerima belas kasihan, salah satunya dengan cara pura-pura menjadi orang cacat (buntung salah satu anggota badan).


Seperti yang dilakukan salah seorang pemuda asal Bandung, dirinya berpura-pura kakinya buntung kemudian mengemis di pinggir jalan. Banyak masyarakat tertipu atas aksinya tersebut.

Beruntung, Dedi Mulyadi berhasil membongkar kejanggalan tersebut, sehingga aksi mengemis dengan berpura-pura buntung kakinya itu dibuka kedoknya oleh anggota DPR RI tersebut. Seridaknya masyarakat sejalur pantura, kena prank pemuda tersebut.


Seorang pemuda bernama Rasyidin (35) sejak setahun terakhir berhasil nge-prank warga Subang dengan berpura-pura sebagai pengemis berkaki buntung. Tak tanggung-tanggung setiap hari beraksi ia bisa mengantongi ratusan ribu dari hasil ‘prank’.

Namun aksinya itu kini terhenti setelah ia ketahuan pura-pura buntung untuk menarik simpati orang oleh Anggota DPR RI Dedi Mulyadi belum lama ini.

Kejadian itu bermula saat Kang Dedi Mulyadi akan menuju Jakarta dari rumahnya di Lembur Pakuan Subang. Di perjalanan ia melihat Rasyidin sedang mengemis dengan cara merangkak menyusuri jalan.

Baca Juga : Tegas Dedi Mulyadi Tolak SK KLHK Karena Berpotensi Hilangnya Mata Air Berganti Menjadi Air Mata Kesengsaraan Rakyat  https://pojoksatu.id/news/politik/2022/05/28/tegas-dedi-mulyadi-tolak-sk-klhk-karena-berpotensi-hilangnya-mata-air-berganti-menjadi-mata-air-kesengsaraan-rakyat/

Saat dihampiri Rasyidin mengaku akan pulang ke rumah kontrakannya di Pasar Lama Pagaden. Ia mengaku kakinya buntung karena mengalami kecelakaan.

“Ayo atuh saya anterin naik mobil saya,” ucap Kang Dedi namun ditolak Rasyidin yang keukeuh ingin pulang menggunakan angkutan umum.

Kecurigaan pun mulai muncul saat Kang Dedi memperhatikan secara saksama ternyata Rasyidin masih muda, berbadan sehat dan bertato. Singkat cerita Rasyidin pun akhirnya diantar pulang dengan ojek yang dibayarkan oleh Dedi.

Lagi-lagi kecurigaan muncul saat Rasyidin dengan cekatan loncat dari bawah ke jok motor. Hingga akhirnya Kang Dedi memilih untuk mengikuti ojek tersebut. Dari dalam mobil Dedi semakin yakin jika Rasyidin hanya pura-pura, hingga akhirnya ojek kembali disetop.

“Akang teu (gak) buntung ya? Ternyata dilipat kakinya ditutup celana panjang. Udah jujur buka saja,” ujar Dedi sambil membuka ikatan celana panjang yang dikenakan Rasyidin.

Benar saja Rasyidin memiliki kaki normal dan dilipat di dalam celana agar terlihat buntung sehingga bisa menarik simpati warga untuk memberikan uang.

“Nah kan orang sehat. Saya awalnya berhenti karena kasihan lihat gak ada kakinya, tapi ternyata sehat,” ucap Dedi.

Hal tersebut menarik perhatian warga sekitar dan langsung mengerubuti Dedi. Bahkan di antara warga banyak yang mengaku tertipu karena sebelumnya sering memberi pada Rasyidin.

Kang Dedi pun lantas memeriksa tas yang dibawa Rasyidin. Saat dibuka tas tersebut berisi uang sekitar Rp 500 ribu, HP android dan tiga kaleng lem aibon.

“Ini uang untuk disetorin ke istri sama anak di Soreang. Dulu saya ngamen, cuma dikasih tahu sama anak-anak Bandung katanya kalau mau dapat uang lebih banyak harus kaya gini (pura-pura buntung),” kata Rasyidin.

Karena aksi tipu-tipunya sudah ketahuan, Rasyidin pun akhirnya pasrah ikut masuk ke mobil Dedi. Di dalam mobil ia bercerita sejak awal ia tak mau ikut karena mengenal Kang Dedi Mulyadi.

Rasyidin mengaku sudah setahun terakhir mengemis dengan kondisi pura-pura buntung. Sementara kebiasaannya ngelem sudah dilakukan sejak tiga tahun terakhir.

“Sehari dapat Rp 500 ribu, paling sedikit Rp 300 ribu. Nanti uangnya setiap hari dikirim ke istri sama anak yang kesatu 8 tahun yang kedua 2,5 tahun. Istri gak tahu saya gini, tahunya ngamen,” katanya.

Di perjalanan Kang Dedi mengajak Rasyidin ke sebuah minimarket untuk berbelanja kebutuhan pokok termasuk stok susu untuk anak. Rasyidin juga dibelikan pakaian dan celana baru untuk mengganti ‘seragam’ ngemisnya yang sudah lusuh.

Saat ditawari Dedi untuk ikut ke Pesantren Cireok agar kebiasaan ngelemnya sembuh, Rasyidin menolak. Ia mengaku ingin tobat dan alih profesi sebagai tukang kebun di kampungnya di Warung Lobak, Desa Cingcin, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung.

Akhirnya Kang Dedi Mulyadi mengutus salah seorang staf untuk mengantar Rasyidin ke kampung halamannya. Sehingga nantinya pergerakan Rasyidin bisa terpantau dan tidak kembali ‘prank’ sebagai pengemis buntung. (Adw/pojoksatu)