Isi Black Box Terdengar Jelas

CVR-black-box-air-asi

Tim investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), tampaknya, tidak lama lagi bisa menjelaskan penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Sebab, kondisi flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR) yang dievakuasi dua hari berturut-turut masih bagus. Karena itu, tim tidak menemui kesulitan dalam mendengarkan suara percakapan pilot dan kopilot dari peranti tersebut.

Hal itu disampaikan Ketua Subkomite Penelitian Kecelakaan Transportasi Udara Masruri, Rabu (14/1). Dalam keterangan pers di Gedung KNKT, Jalan Medan Merdeka Timur, dia menyatakan bahwa tim sudah selesai mengunduh FDR. Dalam FDR itu terdapat data posisi terakhir pesawat dalam 2 jam 4 menit. Hasilnya masih berbentuk bilangan biner.

Setelah itu, tim KNKT yang dibantu BEA (KNKT-nya Prancis) akan menerjemahkan dalam bentuk tabel dan grafis. ’’Mungkin dua minggu grafisnya selesai dibuat,’’ ujarnya.


Lantas, akan dibuat pemodelan data FDR itu. Di dalam pemodelan nanti, digambarkan posisi pesawat. Mulai take off sampai posisi terakhir pesawat buatan Prancis itu jatuh. Menurut Masruri, pembacaan FDR sangat mungkin berjalan cepat. ’’Sebab, kondisinya masih sangat bagus,’’ ungkapnya.

Begitu pula CVR. Menurut dia, CVR juga akan diunduh. Sama dengan FDR, di dalam CVR terdapat data percakapan selama 2 jam 4 menit. Saat ini pengunduhan (download) sudah selesai. ’’Proses selesai pukul 15.30. Tadi sekilas didengarkan tim dan suaranya jernih,’’ ujarnya.

Untuk perlengkapan membaca kotak hitam (black box), Masruri menuturkan, alat milik KNKT sudah sangat modern. Saat ini, lanjut dia, CVR dan FDR masih berada di ruang laboratorium. Ruangan tersebut berukuran 7 x 7 meter. Terdapat delapan komputer di sana. ’’Sudah sangat komplet,’’ jelasnya.

Selanjutnya, dengan hasil yang diperoleh dari FDR dan CVR, tim melakukan validasi atau sinkronisasi data. Yakni, pencocokan percakapan antara pilot, kopilot, kru, dan air traffic controller (ATC). Menurut Masruri, sinkronisasi data membutuhkan waktu lama. Sebab, data dari kotak hitam dan rekaman di ATC harus dicocokkan.

Capt Ertata Lanang Galih, anggota tim investigasi AirAsia QZ8501, menuturkan, sinkronisasi merupakan data yang dipakai di dunia penerbangan internasional. Para investigator tidak hanya mendengarkan rekaman dari satu alat perekam, namun harus mendengarkan FDR, CVR, dan rekaman ATC agar data yang diperoleh sangat valid.

Nah, berdasar pengalaman, lanjut dia, tidak jarang tim mengalami kesulitan saat sinkronisasi. Misalnya, ketika di CVR terdapat noise atau suara yang hilang. Menurut Ertata, noise itu disebabkan rusaknya kondisi CVR saat ditemukan. Misalnya, terbakar. ’’Namun CVR (QZ8501, Red) berkondisi bagus. Mungkin tidak ada kendala dalam membacanya,’’ jelasnya.

Kesulitan lain adalah menganalisis bunyi yang didengar tim investigasi. Ertata mencontohkan ketika ada bunyi tok tok tok. ’’Tim harus jelaskan bunyi apa itu. Harus sejelas mungkin,’’ tegasnya.

Ketua Tim Investigasi AirAsia Mardjono Siswosuwarno menjelaskan, selain sinkronisasi, transkrip percakapan membuat proses lama. Menurut dia, tim harus menuliskan percakapan setiap detik. Selain itu, membedakan siapa yang berbicara, apakah pilot atau kopilot.

Terkadang, kata dia, suara pilot dan kopilot sulit dibedakan karena hasil rekaman di CVR tidak jelas. Dosen ITB itu mengungkapkan, jika ada suara tidak jelas atau noise, KNKT akan menggunakan voice analyzer. ’’Pakai voice analyzer,nanti suara kembali jernih dan bisa membedakan mana suara pilot dan kopilot,’’ ujarnya.

Dalam proses mendengarkan rekaman, Mardjono tidak ikut menjadi tim pendengar. Dia bertugas menganalisis hasil dari transkrip rekaman tersebut. Meski begitu, tim investigasi yang berjumlah 48 orang tersebut tidak diperkenankan membocorkan isi percakapan di dalam kotak hitam kepada publik. ’’Semua sudah tanda tangan surat kesepakatan tidak boleh membocorkan hasil pendengaran dari black box,’’ tegasnya.

Pria berusia 67 tahun itu menuturkan, kondisi CVR dan FDR yang bagus akan sangat membantu investigasi. Sangat mungkin waktu yang dibutuhkan sampai final report tidak sampai setahun. Namun, Mardjono tidak bisa memastikan kapan investigasi itu selesai dan menghasilkan kesimpulan. ’’Maksimal ya satu tahun,’’ tuturnya. (aph/c5/end)