Kisah Keluarga Penumpang Menunggu Kabar Pencarian QZ8501

keluarga-diptawahyu12
Para keluarga penumpang AirAsia QZ8501 berdoa bersama di posko crisis center Terminal 2 Bandara Juanda tadi malam. (Dipta Wahyu/JP)

 

Upaya menjaga kesehatan dan mental keluarga penumpang AirAsia QZ8501 yang disediakan terkesan ’’menunggu bola’’.

Laporan SURYO EKO P.-THARIQ S.K., Surabaya
KANTOR maskapai penerbangan di sebelah timur crisis center gedung penumpang Terminal 2 (T2) Bandara Juanda, Sidoarjo, kemarin (29/12) terlihat ramai. Sejumlah anggota polisi dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokes) Polda Jatim, pegawai negeri sipil dari instansi pemerintah, serta psikolog dari beberapa perguruan tinggi tampak berseliweran. Mereka hilir mudik keluar masuk lorong posko kesehatan dan layanan konseling bagi keluarga penumpang pesawat AirAsia QZ8501.

Posko ante mortem juga disiapkan Biddokes selaku Tim Disaster Victim of Identification (DVI). Sampai hari kedua kemarin petang, baru segelintir keluarga penumpang yang memanfaatkan fasilitas tersebut.


’’Mungkin banyak yang belum mengetahui adanya posko ini. Kami menyiapkan tenaga yang siap membantu selama dibutuhkan,’’ ungkap Ketua Tim Biddokes Polda Jatim Kombespol Budiyono.

Keluarga yang datang ke posko rata-rata mengeluhkan kondisi kesehatan mereka yang menurun lantaran dua hari menunggu kabar hasil pencarian pesawat AirAsia yang kehilangan kontak dalam penerbangan dari Surabaya ke Singapura itu.

’’Barusan ada ibu-ibu berumur 50 tahun yang mengecek tensi tekanan darahnya naik. Setelah kami cek, tensinya mencapai 160,’’ ujar relawan kesehatan Yulia R.D. di posko kesehatan.

Selain belum banyak yang tahu, kunjungan keluarga penumpang ke posko itu sepi karena tidak adanya program ’’jemput bola’’ seperti yang dilakukan petugas saat menangani keluarga penumpang Malaysia Airlines MH370 yang hilang awal Maret lalu. Layanan petugas di crisis center Kuala Lumpur terkesan lebih proaktif. Petugas mendatangi satu per satu keluarga penumpang, memberikan konseling, sekaligus menenangkan kondisi psikologis keluarga penumpang.

Seorang kerabat korban AirAsia pingsan setelah mendapat informasi pesawat ditemukan dalam keadaan tidak utuh, Selasa (30/12/2014).
Seorang kerabat korban AirAsia pingsan setelah mendapat informasi pesawat ditemukan dalam keadaan tidak utuh, Selasa (30/12/2014).

Kombespol Budiyono menuturkan, keberadaan posko ante mortem itu disiapkan sebagai langkah dini. Tidak sebatas mengidentifikasi keluarga korban, tapi juga untuk menyiapkan aspek hukum dan sosial yang ditimbulkan dari identifikasi. Contohnya untuk menghindari sengketa ahli waris hingga perebutan harta dari klaim asuransi. Sengketa dapat diminimalkan melalui pengujian yang terukur dengan menggunakan tes DNA.

Meski manajemen AirAsia menyediakan fasilitas penginapan di hotel berbintang bagi keluarga penumpang, tak banyak yang memanfaatkan. Mereka lebih memilih berada di crisis center daripada harus wira-wiri ke hotel. Mereka ingin cepat mengetahui kepastian kabar dari pencarian yang dipimpin Basarnas itu.

”Informasi update sebagaimana yang dijanjikan pemerintah belum kami dapat,” keluh Hari Candra, salah seorang keluarga penumpang.

Hari merasa disimpangsiurkan informasi yang beredar. Kendati berita yang disiarkan melalui berbagai media televisi bersumber dari pihak yang kompeten, menurut dia, belum diinformasikan seberapa jauh pencarian dilakukan dan di lokasi mana saja.

Atas dasar itu, Hari bersama para keluarga penumpang lainnya berharap tim Basarnas bisa mem-broadcast hasil pencariannya secara real time. Misalnya, percakapan yang dilakukan pilot dengan petugas di posko dapat diperdengarkan ke mereka. Begitu pula hasil rekaman video petugas selama menyisir lokasi, dapat disiarkan live maupun tunda. ”Dengan begitu, kami jadi tahu apa yang dilakukan petugas di lapangan. Sejauh ini kami tidak tahu apa-apa,” ujar Hari.

Memang, kendati baru dua hari, keluarga korban terlihat mulai jenuh dengan kondisi di posko crisis center. Apalagi, banyak informasi yang justru membingungkan keluarga penumpang. Misalnya kabar nelayan NTT yang mengaku melihat puing-puing pesawat di tengah laut. Atau penemuan semacam tumpahan minyak di laut sekitar Bangka Belitung. Kabar keduanya dibantah pihak Basarnas.

”Yang kami duga semacam tumpahan minyak itu, setelah dicek tim yang mendatangi titik itu, ternyata gugusan pulau kecil. Jadi bukan minyak,” ujar Kepala Basarnas Marsekal Madya F.H. Bambang Sulistyo kemarin.

Keluarga penumpang juga menyayangkan lambannya penjelasan dari tim pencari di lapangan. Mereka percaya pencarian dilakukan, tapi perkembangan yang diberikan sangat sedikit. ”Informasi tidak segera kami dapatkan, eh sekarang malah ada kabar posko informasi ini bakal dipindah ke Hotel Marriott. Kami jelas tidak bisa terima. Lebih baik di sini, lebih valid,” tegas keluarga penumpang yang minta tidak disebutkan identitasnya itu.

Dia mengusulkan dipasang layar lebar di posko yang menampakkan perkembangan pencarian tim di lapangan. Bukan kabar via televisi saja. Sehingga keluarga bisa lebih tenang.

General Manager PT Angkasa Pura I Trikora Harjo meminta keluarga penumpang tetap tenang. Menurut dia, informasi yang valid dan resmi tentang pencarian pesawat itu akan disampaikan dari posko informasi. Sedangkan kabar yang berkembang di luar posko belum tentu kebenarannya. ”Kami harap semua tetap berdoa semoga lekas ketemu,” ujarnya.

Terkait rencana pemindahan posko informasi ke Marriott, Trikora menegaskan, tidak ada rencana itu. Pihaknya memastikan bahwa posko informasi tetap berada di Terminal 2 Bandara Juanda. ”Karena itu, kami mohon semua tetap tenang,” tuturnya.

Tadi malam Angkasa Pura I juga menggelar doa bersama. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan moral kepada keluarga korban maupun tim pencari di lapangan. Tampak sejumlah keluarga korban tak kuat menahan tangis. Mereka memanjatkan doa sambil menangis sesenggukan.

Sementara itu, mulai kemarin otoritas di Bandara Juanda memberlakukan larangan bagi media menyesaki ruang crisis center. ”Kami trauma ketika ada pemberitaan di televisi yang rasanya memberi harapan (atas penemuan pesawat AirAsia QZ8501, Red), ternyata tidak sesuai kenyataan,” cetus Hendra Boedi, keluarga penumpang.

Dia berharap informasi seputar hilangnya pesawat disampaikan secara proporsional. Hendra belum bisa membayangkan mental keluarga penumpang lain saat hal terburuk terjadi. Seperti insiden jatuhnya Adam Air penerbangan 574 Surabaya–Manado awal 2007.

Salah seorang pimpinan tim Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Seger Handoyo menjelaskan, kondisi psikologis keluarga penumpang saat ini relatif masih stabil. ”Berdasar pengalaman kami saat mendampingi keluarga korban bencana, mereka baru akan mengalami tingkat stres tinggi setelah menanti dalam waktu lama,” terangnya. Puncaknya saat mengetahui kondisi sebenarnya yang dinanti ternyata tidak sesuai harapan.

Sebanyak 50 psikolog anggota Himpsi bersama puluhan personel dari Dinas Psikologi TNI-AL dan Polda Jatim bertugas di posko 24 jam. Dalam sehari mereka membagi jam kerja menjadi tiga sif. Setiap sif beraktivitas empat jam sekali. ”Kami siap memberikan yang optimal,” tandas Seger. (*/c5/c9/ari)