POJOKSATU.ID - Tol baru Jakarta–Bandung membawa perubahan besar dalam pola mobilitas masyarakat.
Namun di balik narasi besar soal ekonomi dan efisiensi waktu, ada kelompok yang mengalami dampak sangat spesifik perempuan.
Bagi banyak perempuan, khususnya usia produktif, tol ini membuka ruang gerak baru:
Lebih mudah bepergian lintas kota
Lebih fleksibel bekerja, berdagang, dan mengurus keluarga
Lebih mandiri dalam mengatur perjalanan tanpa bergantung pada transportasi umum
Perempuan kini tak hanya menjadi penumpang, tetapi juga pengemudi aktif, pekerja komuter, hingga pelaku usaha di sekitar jalur tol.
Baca Juga: Dua Polisi Tertabrak Truk TNI di Tugu 2 Cisarua Dianggap Gugur dalam Tugas, Diberi Pangkat Anumerta
Meningkatnya mobilitas tidak selalu berbanding lurus dengan rasa aman. Di sinilah persoalan mulai muncul.
Banyak perempuan yang harus:
Berkendara sendirian di jam malam
Berhenti di rest area yang sepi
Melintasi jalur panjang dengan penerangan terbatas
Rest area yang idealnya menjadi ruang aman justru bisa memunculkan kecemasan, terutama bagi perempuan yang bepergian sendiri.
Area parkir minim pengawasan, toilet yang letaknya jauh, serta kurangnya petugas perempuan menjadi kekhawatiran tersendiri.
Tol memberi kebebasan, tetapi juga menghadirkan kerentanan baru yang kerap tak masuk dalam perencanaan infrastruktur.
Jalur Sepi dan Risiko yang Tak Terlihat
Berbeda dengan jalan kota, jalur tol memiliki karakter:
Panjang dan tertutup
Minim aktivitas warga
Sulit mencari bantuan cepat jika terjadi sesuatu
Bagi perempuan, kondisi ini meningkatkan risiko:
Pelecehan verbal
Intimidasi di rest area
Ketakutan saat kendaraan bermasalah di tengah jalur
Baca Juga: Tinggal di Bandung, Kerja di Jakarta Pilihan Baru Anak Muda Setelah Tol Japek 2 Selatan Dibuka
Isu ini jarang muncul ke permukaan karena sering dianggap persoalan individual, padahal bersifat struktural dan sistemik.
Perempuan Lokal Melihat Peluang Ekonomi Baru
Di sisi lain, tol Jakarta–Bandung juga membuka peluang ekonomi baru bagi perempuan lokal di sekitar jalur tol.
Beberapa perubahan yang mulai terlihat:
Perempuan membuka warung makan kecil dekat akses tol
Terlibat dalam UMKM kuliner di rest area
Mengelola homestay, kos, atau usaha jasa kecil
Menjadi tenaga kerja di sektor layanan tol
Tol menjadi pintu masuk kemandirian ekonomi, terutama bagi perempuan desa yang sebelumnya memiliki akses pasar terbatas.
Antara Pemberdayaan dan Beban Ganda
Namun, peluang ini sering datang bersama beban tambahan:
Jam kerja lebih panjang
Tanggung jawab domestik tetap melekat
Minim perlindungan kerja dan jaminan sosial
Perempuan dipaksa adaptif tanpa dukungan sistem yang memadai.
Mereka diuntungkan oleh peluang ekonomi, tetapi juga menanggung risiko sosial dan fisik yang lebih besar.
Infrastruktur Netral Gender? Tidak Sepenuhnya
Selama ini, pembangunan tol kerap dianggap netral gender. Padahal kenyataannya:
Pengalaman perempuan di ruang publik berbeda
Kebutuhan keamanan perempuan tidak selalu sama
Desain rest area jarang mempertimbangkan perspektif gender
Kurangnya penerangan, CCTV, petugas perempuan, hingga panic button menjadi contoh kecil bagaimana kebutuhan perempuan sering terabaikan dalam proyek besar.
Apa yang Perlu Dibenahi?
Tol Jakarta–Bandung bisa menjadi ruang aman sekaligus produktif bagi perempuan jika didukung kebijakan yang tepat:
Peningkatan keamanan di rest area
Desain fasilitas ramah perempuan
Ruang usaha yang adil bagi UMKM perempuan
Edukasi dan perlindungan bagi pekerja perempuan di sektor tol
Tanpa itu, tol berisiko memperbesar kesenjangan antara kemandirian dan kerentanan.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih! Ini Daftar Kriteria Calon Penerima PIP yang Bisa Diinput di Dapodik
Tol baru Jakarta–Bandung membawa perubahan besar bagi mobilitas perempuan:
Memberi kemandirian dan peluang ekonomi
Membuka ruang kerja dan usaha baru
Namun juga menghadirkan risiko keamanan yang nyata
Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah tol ini cepat dan efisien, tetapi apakah ia aman dan adil bagi semua, termasuk perempuan.
Isu ini jarang dibahas, namun justru penting untuk memastikan pembangunan infrastruktur benar-benar inklusif.***

