POJOKSATU.ID - Air adalah sumber kehidupan, cara manusia mengambilnya bisa menentukan masa depan lingkungan.
Dua sumber air yang sering digunakan adalah air dari sumur bor dalam lebih dari 100 meter dan mata air pegunungan.
Sekilas keduanya sama-sama jernih dan segar, tapi sebenarnya punya perbedaan besar, baik dari sisi kualitas, keberlanjutan, maupun dampak ekologinya.
Baca Juga: Semua Guru Wajib Siap 27 Oktober! Ini Rangkaian Program dan Tunjangan 2025
Dalam sebuah studi Shigut dan tim pada 2017 mengatakan bahwa mata air pegunungan yang ditemukan lebih baik dan aman untuk diminum dibandingkan air dari sumur bor.
Mata air pegunungan bisa jadi pilihan terbaik karena mengalir alami dari dalam tanah setelah melalui proses penyaringan alami oleh bebatuan dan lapisan tanah.
Selain itu, kandungan mineral mata air pegunungan seimbang dan alami, dengan tingkat kekeruhan rendah.
Baca Juga: Unpad Buka Pendaftaran Anggota MWA Unsur Masyarakat, Cari Sosok Terbaik Bangsa
Jika area resapan dan sekitar mata air dijaga, air ini bisa sangat bersih dan aman diminum secara langsung.
Akan tetapi, mata air pegunungan sangat tergantung pada kondisi lingkungan sekitar.
Jika di sekitar pegunungan ada aktivitas pertanian, pemukiman, atau penebangan liar, air mudah tercemar.
Baca Juga: Berkat Pulau Tengah, Warga Pulau Pari Kini Punya Pekerjaan Tetap
Kemudian debit air bisa menurun saat musim kemarau panjang atau jika daerah resapan rusak.
Sementara itu, air dari sumur bor dengan kedalaman lebih dari 100 meter bisa memberikan suplai air yang lebih stabil, terutama di musim kemarau.
Studi menunjukkan bahwa sumur bor sering bisa bertahan lebih baik dalam kekeringan dibanding sumber permukaan.
Air dari sumur bor juga lebih terlindung dari pencemaran permukaan karena berasal dari lapisan akuifer yang dalam.
Akan tetapi, karena kontak lama dengan batuan, air sumur bor sering mengandung mineral tinggi seperti besi atau Fe dan mangan atau Mn yang berdampak pada rasa dan kesehatan jika melebihi standar.
Jika pengeboran tidak dilakukan dengan standar yang benar, risiko kontaminasi kimia dan mikroba bisa tetap terjadi.
Baca Juga: 20 Contoh Soal dan Jawaban Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 5 Semester 1
Dari dampak lingkungan, air dari sumur bor yang diambil secara berlebihan setiap hari dengan skala industri tanpa memperhatikan kemampuan alam untuk mengisinya kembali, akan menimbulkan masalah.
Seperti penurunan muka air tanah, yang bisa membuat sumur warga menjadi kering.
Lalu debit mata air alami juga akan menurun, karena air tanah di bawah permukaan ikut tersedot ke titik pengambilan besar.
Baca Juga: Ubah Limbah Jadi Berkah, BRI Peduli Latih Warga Bogor Olah Minyak Jelantah Jadi Sabun
Kerusakan struktur tanah, permukaan bisa turun atau retak, bahkan longsor karena kehilangan penyangga alami air.
Terakhir bisa terjadi gangguan ekosistem, terutama pada daerah resapan air, hutan, dan sawah di lereng pegunungan.
Pada tahun 2023, Ahli geologi dari ITB, Dr. Bagus, menyebutkan bahwa pengambilan air tanah dalam skala besar tanpa kajian hidrogeologi dapat mengubah keseimbangan akuifer.
Baca Juga: Heboh Pabrik Aqua Bukan dari Sumber Pegunungan, Begini Respon BPKN RI
Selain itu, memicu kerusakan jangka panjang, termasuk penurunan permukaan tanah dan hilangnya sumber air alami.
Sedangkan studi Shigut dan tim pada 2017 di Applied Water Science juga menegaskan bahwa air sumur bor sering memiliki kadar mineral lebih tinggi dan kualitas lebih rendah dibanding mata air yang terlindungi secara alami.***

