ICW Nilai Polisi Kurang Serius Garap Kasus UPS

Perangkat uninterruptible power supply (UPS) di SMA Negeri 35, Karet Tengsin, Jakarta.
Perangkat uninterruptible power supply (UPS) di SMA Negeri 35, Karet Tengsin, Jakarta.
Perangkat uninterruptible power supply (UPS) di SMA Negeri 35, Karet Tengsin, Jakarta.

POJOKSATU – Harusnya Mabes Polri sudah bisa dengan cepat menetapkan oknum anggota DPRD DKI sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi uninterruptible power supply (UPS).

Demikian disampaikan peneliti Indonesian Corruption Watch (ICW) Firdaus Ilyas saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL (Grup Pojoksatu.id) beberapa saat lalu, Jakarta, Rabu (22/4).

“Orang ada yang baru sehari dilaporin tiga hari kemudian sudah jadi tersangka. Ini kasus UPS konvensional dan gampang banget. Sudah bisa kebaca siapa oknum legislatif ataupun eksekutifnya. Liat dari rekeningnya juga gampang,”kata Firdaus

Bahkan menurut Firdaus, jika Mabes Polri serius kasus UPS ini tak hanya bisa menyeret oknum legislatif dalam hal korupsi saja, tetapi kasus dugaan suap, gratifikasi bahkan pencucian uang.


“Jadi memang ini Mabes Polri belum ada progress dan keberanian untuk menyeret oknum-oknum kunci dalam kasus UPS ini. Publik makin mempertanyakan komitmen Mabes Polri. Padahal dia bisa mendahului aparat penegakan hukum yang lain,” kata Firdaus.

Berdasarkan data yang dimiliki ICW dalam kasus UPS yang sudah dilaporkan ke KPK, persokongkolan dari awal soal mendesign mata anggaran, penyedia dan penentuan vendor, mekanisme lelang dan supplier sudah dengan mudah terbaca.

“Dari dokumen yang dimiliki ICW, supplier atau oknum DPRD DKI soal siapa yang terlibat dalam pengusulan anggaran ke Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Suku Dinas sudah mudah dilacak. Ini kasus mudah,” demikian Firdaus.

Sebagaimana diketahui, sejauh ini sudah lebih dari 30 lebih saksi yang diperiksa dalam kasus UPS. Polisi pun telah menetapkan dua orang tersangka, yakni Kepala Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat Alex Usman dan Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Pusat Zaenal Soleman. (rus/rmol/dep)