Buku ½ Presiden, Gemas karena Jokowi Mudah Diintervensi

KRITIK: Dari kanan, Bambang Soesatyo, mantan kader Golkar Yolanda Yusuf, pengamat politik Tjipta Lesmana, dan Ketua Fraksi Partai Golkar Ade Komarudin dalam peluncuran buku Republik Komedi 1/2 Presiden di ruang Fraksi Partai Golkar.
KRITIK: Dari kanan, Bambang Soesatyo, mantan kader Golkar Yolanda Yusuf, pengamat politik Tjipta Lesmana, dan Ketua Fraksi Partai Golkar Ade Komarudin dalam peluncuran buku Republik Komedi 1/2 Presiden di ruang Fraksi Partai Golkar.
KRITIK: Dari kanan, Bambang Soesatyo, mantan kader Golkar Yolanda Yusuf, pengamat politik Tjipta Lesmana, dan Ketua Fraksi Partai Golkar Ade Komarudin dalam peluncuran buku Republik Komedi 1/2 Presiden di ruang Fraksi Partai Golkar.

POJOKSATU – Kinerja Presiden Joko Widodo selama lima bulan terakhir tidak membuat pendukungnya bangga. Justru mereka merasa profil tegas yang pernah dimiliki Jokowi seketika hilang karena kuatnya intervensi di lingkungan sekitar istana.

Hal tersebut disampaikan pengamat politik Tjipta Lesmana dalam peluncuran buku Republik Komedi ½ Presiden karya Sekretaris Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo Kamis (26/3). Tjipta yang semasa pilpres mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla mengaku kecewa dengan berbagai blunder kebijakan dan ketidaktegasan mantan gubernur DKI Jakarta itu saat ini. ”Saya gemas sekali. Beberapa kali mau kasih advice ke presiden, banyak yang merintangi,” ujar Tjpta di ruang Fraksi Partai Golkar, kompleks gedung parlemen.

Tjipta mengatakan, sudah bukan rahasia bahwa kinerja Jokowi mendapat intervensi parpol pendukung pemerintah, terutama Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Dalam hal intervensi oleh Mega, kata Tjipta, sangat tegas bahwa Jokowi selalu dicap sebagai petugas partai dalam kerjanya sebagai presiden.

”Trademark petugas partai itu sangat menyakitkan. Sebagai presiden, Pak Jokowi memimpin rakyat, bukan PDIP. Presiden Jokowi juga tidak perlu maju sebagai ketua umum PDIP, itu tambah kacau lagi,” kata Tjipta.


Menegaskan istilah setengah presiden yang menjadi judul buku Bambang, Tjipta mengimbau Jokowi untuk kembali ke ciri khasnya pada masa lalu. Jokowi harus bisa keluar dari kungkungan parpol di KIH (Koalisi Indonesia Hebat). Artinya, dalam mengambil keputusan, Jokowi bisa mandiri. ”Kita masih memberi harapan Pak Jokowi bisa mengoreksi. Solusinya ada di tangan Pak Presiden sendiri,” ujarnya.

Bambang di tempat yang sama menyatakan bahwa buku yang dirinya tulis sejak era kepemimpinan Jokowi dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat, terutama para pendukung Jokowi. Dia mengatakan, sebagai kepala negara, presiden tidak bisa independen saat menetapkan beberapa keputusan. ”Kalau Jokowi ini dewa, nyatanya masih ada dewa yang lebih tinggi di atas Jokowi. Ini kan merugikan dia sendiri,” kata Bambang.

Bambang menilai Jokowi bukannya tidak memiliki harapan. Namun, kebijakannya selama lima bulan terakhir membuat kinerjanya untuk empat setengah tahun ke depan mulai meragukan. Pengingkaran untuk tidak merekrut kader partai politik sebagai menteri ternyata berlanjut hingga pemberian jabatan komisaris kepada sejumlah simpatisannya. ”Presiden sekarang sudah membayar utang-utangnya. Harusnya para pendukung ini selesai lah. Biarlah Jokowi melaksanakan tugas dan fungsinya,” tandas dia. (bay/c10/fat/dep)