Gaya Kasar Ahok Dikritik Bu Menteri

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise

POJOKSATU – Perkataan keras yang dilontarkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama atau Ahok mendapat hujan kritik. Salah satunya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Yohana Susana Yembise menilaikan seorang pejabat harus berbicara sopan karena akan ditiru generasi muda.

“Saya pikir pejabat harus memberikan contoh perkataan yang baik dan sopan, karena menyangkut masa depan anak-anak,” ucap Yohana usai acara ‘Woman for Mangrove Carnival’, Jakarta, Senin (23/3).

Menurutnya, perkataan yang tidak baik dari seorang pejabat merupakan cerminan dari didikan keluarganya.

“Pejabat harus sebisa mungkin menahan diri dan hanya mengeluarkan kata-kata yang sopan,” jelas Yohana.


Dia menambahkan hal terpenting pada saat ini adalah membangun masyarakat yang berkepribadian. Namun hal tersebut, akan sulit terwujud jika pejabat di Tanah Air tidak memberi contoh perkataan yang baik.

“Pejabat merupakan tokoh publik yang perbuatan dan perkataannya dilihat dan bisa ditiru khalayak ramai. Oleh karena itu, saya mengimbau para pejabat memberi contoh teladan yang baik, karena hal itu menyangkut masa depan kita,” kata Yohana.

Sementara itu, Pemerhati Perempuan dan Anak, Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan pejabat harus bisa menjadi panutan bagi masyarakat.

“Keluarga juga seharusnya menegur pejabat yang kerap menggunakan kata-kata tidak etis,” saran dia.

Di tempat terpisah, Anggota DPD Provinsi DKI Jakarta Dailami Firdaus menyesalkan sikap Ahok yang berkata kurang santun di depan publik. Menurutnya, perkataan Ahok merupakan preseden terburuk dalam sejarah kepemimpinan DKI Jakarta.

“Dalam sejarah Republik Indonesia baru kali ini ada gubernur yang terus mengeluarkan kata-kata yang kurang beretika dan seringkali mempermalukan orang di depan umum. Ahok lebih mengedepankan perilaku kasar daripada mengedepankan solusi atas permasalahan yang ada,” ujar Dailami.

Dailami mengatakan mengumbar kata-kata yang tidak pantas di depan dan di ruang publik bukanlah contoh yang baik. Apalagi hal itu dilakukan oleh seorang gubernur yang merupakan pejabat publik.

“Itu namanya memberi contoh yang tidak baik kepada masyarakat,” imbuhnya.

Dalam pandangan Dailami, tindakan Ahok yang sering menyerang secara verbal pihak lain tanpa memiliki rasa kepantasan dan kesadaran sangat tidak produktif bagi penyelesaian tugas-tugasnya sebagai gubernur. Bahkan, komunikasi buruk yang ditampilkan Ahok hanya menunjukkan ketidakmampuannya melaksanakan tugas. Bahkan, ini merugikan masyarakat Jakarta.

“Saya jadi ingat pepatah yang mengatakan, ‘kalau satu jari kita menunjuk ke orang lain, empat jarinya nunjuk ke diri sendiri’,” sindir Dailami.(fdi/jpnn/dep)