Terlalu Jika Raskin Dihapus

Raskin

Wacana penghapusan program Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin) terus menuai penolakan dari banyak pihak. Wacana penghapusan program itu hendaknya tidak dilakukan secara tergesa-gesa karena berdampak langsung terhadap masyarakat.

Guru Besar FISIP Universitas Indonesia (UI) Paulus Wirutomo meminta pemerintah dapat lebih dulu melakukan penelitian dan kajian mendalam. Termasuk terhadap masyarakat yang membutuhkan raskin.

“Kesalahannya adalah terlalu cepat melakukan perubahan,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (30/1).


Menurut Paulus, pemerintah sejatinya mendengarkan keluhan masyarakat, terutama yang selama ini menerima jatah Raskin. Jika tidak, tentu akan berdampak lain yang tidak diinginkan. Salah satunya berbagai penolakan seperti yang terjadi belakangan ini.

“Jadi, pemerintah memang seharusnya benar-benar mendengarkan suara masyarakat,” demikian Paulus.

Diketahui, sebelum ini pemerintah berencana menghentikan program Raskin dan menggantikannya dengan e-money. Namun, setelah mendapat berbagai reaksi, akhirnya pemerintah menganulir rencana tersebut dan tetap melanjutkan Raskin. Hampir seluruh penerima Raskin sempat resah ketika pemerintah akan menghapusnya. Faktanya, tidak sedikit penerima Raskin yang benar-benar miskin dan sudah berusia lanjut. (why/rmol)