POJOKSATU.ID - Menjelang pergantian tahun, lonjakan harga bahan pangan kembali menjadi sorotan.
Kenaikan harga kebutuhan pokok tidak hanya membebani masyarakat, tetapi juga kerap dikaitkan dengan meningkatnya kasus kriminal di sejumlah daerah.
Tekanan ekonomi yang dirasakan rumah tangga menjelang Tahun Baru dinilai menjadi salah satu faktor pemicu.
Setiap akhir tahun, permintaan bahan pokok cenderung meningkat.
Baca Juga: 1.598 Mahasiswa UNSIKA Ikuti KKN Bertema Inovasi Hijau dan Digital
Konsumsi rumah tangga naik, aktivitas ekonomi bertambah, dan distribusi barang kerap terkendala cuaca maupun faktor logistik.
Kondisi ini membuat harga sejumlah komoditas pangan melonjak di pasar tradisional maupun ritel modern.
Beberapa bahan pokok yang paling terasa kenaikannya adalah beras, terutama kualitas medium dan premium.
Harga beras mengalami penyesuaian akibat pasokan yang belum sepenuhnya stabil.
Baca Juga: Walau Libur Nataru, Pos Indonesia Tetap Salurkan Bansos untuk KPM Tanpa KKS
Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kenaikan beras menjadi beban utama karena komoditas ini merupakan kebutuhan harian.
Selain beras, cabai juga menjadi penyumbang inflasi pangan jelang Tahun Baru.
Harga cabai rawit dan cabai merah dikenal fluktuatif, namun menjelang akhir tahun kenaikannya kerap signifikan.
Faktor cuaca dan distribusi dari sentra produksi menjadi penyebab utama terbatasnya pasokan di pasar.
Komoditas lain yang ikut naik adalah bawang merah dan bawang putih.
Keduanya merupakan bumbu dapur utama yang selalu dibutuhkan, terutama saat momentum perayaan akhir tahun.
Ketika pasokan terganggu, harga langsung melonjak dan berdampak pada biaya hidup masyarakat.
Minyak goreng juga masih menjadi perhatian.
Meski pasokan relatif tersedia, harga di tingkat konsumen sering mengalami penyesuaian, terutama di pasar tradisional.
Kenaikan harga minyak goreng berdampak luas karena digunakan hampir di setiap rumah tangga.
Tak hanya itu, daging ayam dan telur turut mengalami kenaikan harga menjelang Tahun Baru.
Baca Juga: Anggaran KUR 2026 Jadi Kunci, Ini Sinyal Pembukaan dari Pemerintah
Permintaan yang meningkat untuk konsumsi keluarga dan pelaku usaha kuliner membuat harga bergerak naik.
Kondisi ini mempersempit ruang belanja masyarakat yang harus menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang terbatas.
Lonjakan harga pangan ini tidak jarang berdampak pada meningkatnya tekanan sosial.
Dalam beberapa kasus, aparat mencatat adanya kenaikan tindak kriminal menjelang akhir tahun, mulai dari pencurian hingga kejahatan jalanan.
Tekanan ekonomi akibat kebutuhan hidup yang meningkat sering disebut sebagai salah satu faktor pendorong.
Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan aktif melakukan pengawasan harga dan menjaga kelancaran distribusi.
Operasi pasar, pemantauan stok, serta koordinasi dengan distributor menjadi langkah penting untuk menekan gejolak harga.
Bagi masyarakat, kewaspadaan dan perencanaan keuangan menjadi kunci menghadapi lonjakan harga pangan.
Mengatur belanja, menghindari pembelian berlebihan, serta memanfaatkan program bantuan pemerintah dapat membantu mengurangi dampak kenaikan harga.
Baca Juga: Diskon Listrik 2026 Belum Pasti, Subsidi dan Bansos Energi Jadi Opsi
Menjelang Tahun Baru, stabilitas harga pangan menjadi isu krusial yang tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Pengendalian harga yang efektif diharapkan mampu menekan tekanan sosial dan menjaga situasi tetap kondusif di akhir tahun.***

