POJOKSATU.ID - Wah, jagat media sosial lagi panas banget nih!

Kasus dugaan kekerasan seksual di Fakultas Hukum UI mendadak viral dan langsung memicu kemarahan massal.

Mahasiswa, alumni, hingga masyarakat umum ramai-ramai bersuara.

Eh, sebenarnya kenapa sih reaksi publik bisa sekeras ini?

Baca Juga: Fakta Mengejutkan! Ini Alasan Kekerasan Seksual di Kampus Terus Terjadi

Ternyata, bukan cuma soal kasusnya saja, tapi juga bagaimana penanganannya yang jadi sorotan.

Banyak netizen merasa ada ketidakjelasan dan lambannya respons dari pihak terkait.

Duh, ini yang bikin publik makin geram.

Di kalangan mahasiswa sendiri, isu kekerasan seksual bukan hal baru.

Baca Juga: Duh! Aplikasi Cari Jodoh Online Bisa Picu Kekerasan Seksual? Ini Faktanya!

Namun, ketika kasus terjadi di institusi besar seperti UI, ekspektasi terhadap transparansi dan keadilan jadi jauh lebih tinggi.

Nah, saat harapan itu nggak terpenuhi, ya… wajar kalau reaksi jadi meledak.

Selain itu, kesadaran soal isu kekerasan seksual kini memang meningkat drastis.

Generasi muda lebih vokal dan berani bersuara.

Apalagi di media sosial, satu unggahan bisa langsung menyebar luas dalam hitungan menit.

Astaga, efek viralnya nggak main-main!

Faktor lain yang bikin publik marah adalah empati terhadap korban.

Banyak yang merasa korban sering kali tidak mendapatkan perlindungan yang layak.

Baca Juga: Kerja Online Lebih Ramah Lingkungan? Jangan Kaget Sama Faktanya!

Bahkan, nggak jarang korban justru disalahkan.

Nah, narasi seperti ini yang sekarang mulai dilawan habis-habisan oleh warganet.

Di sisi lain, media sosial juga jadi “ruang pengadilan” baru. Publik menuntut kejelasan, transparansi, dan tindakan nyata.

Kalau tidak, tekanan dari netizen bisa terus membesar.

Baca Juga: DPR Buka Suara Soal Isu Akses Udara untuk Militer AS, Tegaskan Semua Kerja Sama Harus Hormati Kedaulatan

Kasus di FH UI ini akhirnya jadi simbol perlawanan terhadap sistem yang dianggap belum berpihak pada korban.

Bukan cuma soal satu kasus, tapi juga akumulasi kekecewaan yang selama ini terpendam.

Jadi, kemarahan massal ini bukan tanpa alasan. Ini adalah bentuk tuntutan perubahan.

Harapannya jelas, kampus harus jadi ruang aman, bukan tempat yang justru menimbulkan trauma.

Nah, menurut kamu, apakah media sosial efektif jadi alat kontrol sosial dalam kasus seperti ini?***