Anak Ngemis, Orangtua ‘Santai’ di Warung

WEB-CS

POJOKSATU-Walaupun ada bantuan dari pemerintah dan juga pembinaan, godaan untuk turun ke jalan rupanya tak bisa ditolak. Alasanya pendapatan di jalan memang cukup besar. Diasumsikan apabila anjal mangkal di lampu merah jika satu kali berhenti selama satu menit lampu merah menyala, ia dapat Rp2000. Berapa penghasilannya dalam satu jam lampu berwarna merah? Setidaknya ia bisa mengantongi Rp120 ribu.

Dari pantauan Radar Cirebon (Grup Pojok Satu), salah satu jalan kota yang kedapatan kerap dijadikan tempat mangkal anjal yaitu perempatan lampu merah bypass-pemuda. Di tempat itu, ternyata orangtua si anjal juga ikut berperan. Mereka biasanya berdiam diri di beberapa warung di sekitar lampu merah. Bahkan mereka membangun tempat tinggal dibalik warung tersebut. Info yang diterima Radar dari internal satpol PP, ternyata para pemilik warung juga ada yang mempekerjakan anak mereka.
Pekerja Sosial Kemensos RI, Aryo mengatakan pihaknya juga sudah mencoba memberikan pengarahan kepada orang tua dan anak. Namun demikian, mereka tetap saja memperkerjakan anak-anak di bawah umur. Selain itu, mereka juga beberapa kali terjaring razia, namun tidak ada kapoknya. “Kalau kita sebagai pekerja sosial lebih ke motivasi dan supportnya yang lebih besar ketimbang bantuan secara materil,” ujarnya.
Ia mengatakan dalam mena­ngani masalah anjal pihaknya sudah memberlakukan dalam tiga aspek, yakni menjangkau anak, orang tua dan lingkungan. Hal ini berguna untuk memutus mata rantai yang memang sulit untuk dihilangkan. “Penangannya memang harus lintas sektoral, dan lintas wilayah, karena banyak juga anjal yang berasal dari luar daerah,” ucapnya.
Dalam penjaringan razia gepeng oleh satpol pp, ada dua orang anjal yaitu Wisnu (12) dan Aldi Saputer (13). Keduanya mengaku berteman, walaupun bukan dari daerah yang sama. Wisnu mengaku dia berasal dari Klayan, sedangkan Aldi berasal dari Tengah Tani. Keduanya merupakan anak putus sekolah.
Kepada Radar, Wisnu mengaku masih memiliki orang tua. Hanya saja, kedua orang tuanya tidak ada di rumah. “Ibu ke singapur, jadi TKW,” ucapnya dari bibir yang polos. Ia terbiasa bermain dan tidur di jalanan bersama teman-temannya. Sedangkan Aldi juga menyebutkan ia putus sekolah karena alasan ekonomi. kedua orangtunya bekerja sebagai pemulung. Ia rupanya putus sekolah sejak kelas 4 SD. Berdasarkan pengakuannya, Aldi menyebut dirinya mendapatkan Rp 30ribu hingga Rp 50ribu per hari dari hasil mengemis. Apabila sedang beruntung pendapatanya bisa lebih dari itu.
Menanggapi fenomena tersebut Psikolog, Herlina S Dhewantara menyampaikan bahwa anak-anak jalanan akan sulit membentuk konsep diri dan karakter yang positif atau menjadi baik. “Karena sejak kecil role model-nya adalah sesama anak jalanan dan orang tua yang tinggal di lingkungan yang kurang kondusif, maka pembentukan konsep dirinya juga tidak bisa optimal ke arah positif. Demikian juga karakternya,” ujarnya.
Misalnya saja kasar, kurang santun, tidak tahu aturan, memandang dirinya tidak berharga, bahkan hingga merasa masa depannya suram. Konsep diri dan karakter tersebut sulit diubah. Menurutnya, walaupun ada anak jalanan yang bisa membentuk konsep diri dan karakter positif, tetapi presentasenya yang sangat kecil. Hal tersebut bisa terjadi karena mungkin anak tersebut menemukan figur positif di luar lingkungannya.
“Misalnya keterlibatan relawan pendidikan di rumah singgah. Relawan inilah yang akan memberikan stimulasi pembentukan konsep diri dan karakter anak jalanan yang positif. Jika ada relawan-relawan pendidikan yang konsisten, bukan tidak mungkin bisa memberikan stimulasi ke arah lebih positif. Tapi kendalanya, anak-anaknya tersebut juga ku­rang bisa konsisten mengikuti. Kadang orang tuanya kurang pa­ham manfaatnya buat anak mere­ka sehingga kurang mendukung,” jelasnya.(jml/nda)