POJOKSATU.id - Memiliki sekolah formal bagi warga Kota Bogor yang berkebutuhan khusus, terutama Sekolah Luar Biasa (SLB) bagi penyandang Cerebral Palsy ternyata masih sebatas mimpi.

Kebutuhan terhadap SLB sudah beberapa tahun ini diungkapkan komunitas Ramah Cerebral Palsy (RCP) Bogor yang konsisten memperjuangkan hadirnya SLB Tipe D di Kota Bogor.

Dalam peringatan World Cerebral Palsy Day 2023 di Kota Bogor pada Minggu (29/10/2023) kemarin, upaya itu kembali digalang bersama isue strageis lain dalam diskusi bertema "Menuju Kota Bogor yang Ramah Cerebral Palsy" di Gedung Eks Bakorwil, jalan Ir.H. Juanda, Kota Bogor.

Arahan sebelum diskusi disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah yang meminta agar semua pihak bahu membahu menyikapi dan berikhtiar mewujudkan Kota Bogor sebagai Kota Ramah Cerebral Palsy.

Baca Juga: Sekolah Luar Biasa, Ketahui Jenis Pendidikan dan Bantuan yang Perlu Dipahami Agar Kita Peduli

"Dari mulai Kecamatan hingga tingkat desa harus dilakukan pendataan di wilayah, berapa jumlah warga penyandang Cerebral Palsy, sehingga bisa menjadi database dalam melakukan berbagai aksi dan dukungan bagi para penyandang," ujar Sekda, mengarahkan.

Sekda Syarifah juga meminta agar dinas-dinas terkait menyokong aksi ini dengan berbagai program yang memungkinkan untuk dilakukan sebagai tujuan bersama demi menjadikan Kota Bogor yang Ramah Cerebral Palsy.

Perwakilan orangtua penyandang Cerebral Palsy (CP) sekaligus pengurus Yayasan Ramah Cerebral Palsy, Nurwulan Suci menyampaikan harapan dan kebutuhan para penyandang Cerebral Palsy yang selama ini belum terpenuhi.

Selain kebutuhan sekolah, pihaknya juga mengharapkan adanya peningkatan layanan kesehatan bagi penyandang terutama untuk tindakan terapi, dukungan peralatan terapi bagi penyandang, sarana publik yang ramah difabel terutama bagi CP hingga fasilitas dan layanan publik lainnya sehingga para penyandang CP memiliki kesempatan dan kesetaraan yang sama.

Baca Juga: Even Ini Kampanyekan Cerebral Palsy di Bogor, Kenali Mereka, Berikan Kesempatan Setara

"Tidak hanya sekolah. Selama ini kami juga kesulitan mencari tenaga terapis yang bisa mengcover lebih dari 250 orang anggota RCP. Sementara saat ini yang bisa membantu kami hanya 3 orang," ujar Suci.

Suci memaparkan, dari 250 anggota RCP, 150 anak yang aktif melakukan terapi. Tenaga fisioterapi itu merupakan kerjasama RCP dengan Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Kota Bogor yang sudah berlangsung sejak 2018.

"Fisioterapis anak yang menangani terapi secara tetap di RCP Bogor hanya ada 3 orang. Lainnya freelance, artinya membantu ketika mereka bisa," jelasnya.

Suci juga bertutur kurangnya alat terapis yang digunakan selain sulitnya ruang buat layanan terapis bagi penyandang CP.

Tak sampai disana, komunitas Ramah Cerebral Palsy juga tetap berusaha mendorong hadirnya sekolah khusus CP di Kota Bogor.

Sebagai informasi, sekolah luar biasa pun tidak hanya satu jenis. Ada beberapa jenis SLB yang sebenarnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Baca Juga: World Cerebral Palsy Day 2023, Dukung Keseteraan, Sekolah Khusus Cerebral Palsy Penting Hadir di Bogor

Para siswa di SLB bisa dikelompokan ke dalam beberapa golongan yang terdiri dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras dan tunaganda.

Banyaknya golongan kondisi tersebut, membuat setiap jenis SLB menghadirkan strategi pembelajaran serta fasilitas yang sebenarnya berbeda.

Sehingga nantinya, anak-anak berkebutuhan khusus bisa menempuh pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

"Karena jika dipaksa masuk ke sekolah pada umumnya, anak-anak tersebut akan mengalami kesulitan dalam mengikuti seluruh proses pembelajaran," terang Suci.

Baca Juga: Ganjar Creasi Berikan Ruang Kaum Difabel untuk Unjuk Kebolehan

SLB D adalah sekolah khusus bagi anak-anak yang menyandang tunadaksa, termasuk dalam hal ini para penyandang CP. Jenis sekolah ini belum disediakan secara formal di Kota Bogor.

Tunadaksa sendiri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami gangguan gerak, akibat dari adanya kelainan struktur tubuh yang bersifat bawaan, efek samping kecelakaan atau lain sebagainya.

Jika masuk ke SLB-D, para siswa nantinya akan diarahkan dan diajarkan mengenai bagaimana cara mengembangkan potensi diri, merawat diri dengan baik, mandiri, serta membangun rasa percaya diri terhadap kondisi yang dialaminya.***