POJOKSATU.id - Asosiasi Genomik Indonesia (AGI) menggelar konferensi pertama bertajuk "Sustainable Genetics for Health and Food in Indonesia: Innovation and Challenges" di Hotel Gran Mulia, Jakarta Selatan, Sabtu, 30 September 2023.

Konferensi ini dihadiri ahli berbagai bidang, tak terkecuali kesehatan genetika dan keberlanjutan pangan. Bahasan konferensi pers kali ini adalah tantangan terkini di bidang genomik di Indonesia dalam berbagai perspektif, termasuk bisnis dan teknologi.

Ketua Umum AGI Dr. dr. Ivan Sini mengatakan ilmu genomic masih relatif baru di masyarakat meskipun teknologi genomic lebih affordable saat ini. Tugas AGI, kata dia, adalah memberi edukasi kelada masyarakat umum, kepada profesional dan kepada akademisi.

"Kita adakan acara hari ini sebagai event memberi edukasi secara ilmiah untuk investor untuk melihat seberapa bedar kemampuan kita untuk aspek sosial," kata dia.

"Kita berusaha membuat 1 society inklusif, kita undang doktor agrogenomik di mana untuk bidang ketahanan pangan di negara-negara seperti Brazil, Australia, Selandia Baru, dan lainnya," kata dia.

Saat ini AGI telah memiliki 60 anggota individual dan juga beberapa institusi termasuk dukungan dari Kementerian Kesehatan terutama dari aspek regulasi dalam memprospek dalam biodiversitas.

"Genomik relatif baru. Tujuan kami mendatang untuk bisa mengisi gap, ada 2 gap yang perlu diisi untuk mengisi mempercepat produk genomik," kata dia.

"Pertama, genomik yang menggunakan referensi luar negeri tentu tidak sepenuhnya bisa digunakan. Gap terhadap knowledge memberikan edukasi bersamaan dengan masyarakat supaya mengerti implementasinya. Ini bukan future technology, tapi potential current technology," ucap dia.

Ivan mengatakan secara umum teknologi genomik di Indonesia tidak tertinggal jauh dibandingkan negara di luar negeri. Akan tetapi, perlu percepatan untuk menutup gap tersebut.

Sementara itu Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Dr. Rizka Andalucia menjelaskan Kementerian Kesehatan mengembangman Biomedical & Genome Science Initiative (BGSI) sebagai inisiatif. Dia menyebut teknollgi inisiatif karena teknologi genomik ini harus diimbangi dengan suatu regulasi dan pengaturan yang baik.

"Kalau tidak diatur akan menjadi hasil negatif karena aspek etik, legal, dan keamanan data. Di tingkat nasional dengan adanya BGSI melakukan orkestrasi terhadap kegiatan dan ekosistem di bidang genomik seperti survaillance, data analysis dan pemanfaatan UU Nomor 17 Tahun 2023," ucap dia.

"AGI menjadi enabler pemanfaatan dan pengembangan genomik di Indonesia. Dari kementerian lembaga yang lain dan masyarakat, para akademisi, masyarakat Indonesia untuk membuat policy dari bidang kesehatan," ucap dia.

Dia menjelaskan penerapan genomik sudah berlangsung di beberapa rumah sakit seperti untuk diagnosis kanker. Misal, untuk pasien kanker payudara apakah bisa diberikan hormkn atau tidak, jika diberikan menderita infeksi atau tidak. Hal itu, ucap dia, dapat memanfaatkan teknologi berbasis genomik.

Konferensi ini dilakukan selama satu hari penuh, terdiri dari pidato utama dan sesi pleno. Pembicara utama akan diundang untuk mempresentasikan kemajuan terkini dalam genetika berkelanjutan dan penerapannya pada kesehatan dan pangan di Indonesia. Sesi pleno akan fokus pada tema-tema spesifik tersebut.

AGI pun berharap, Konferensi ini dapat mendorong kolaborasi interdisipliner, menumbuhkan ide-ide penelitian baru, dan memfasilitasi pertukaran pengetahuan di antara para peneliti, pembuat kebijakan, dan perwakilan industri.

Selain itu, juga akan menyediakan platform untuk diseminasi temuan penelitian baru dan identifikasi kesenjangan penelitian dan arah masa depan. Pada akhirnya, konferensi ini bertujuan untuk memajukan genetika berkelanjutan untuk kesehatan dan pangan di Indonesia demi kepentingan negara dan dunia.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Adrian Lembong dan dr. Ariel Pradipta.***