POJOKSATU.ID - Eh, pernah kepikiran nggak sih?
Kenapa hampir semua daerah pengin punya jalan tol, tapi kenyataannya nggak semua proyek tol itu langsung diserbu investor?
Nah lho, ternyata di balik pembangunan tol, ada “persaingan diam-diam” yang jarang dibahas.
Faktanya, investor itu nggak asal masuk. Mereka super selektif.
Bahkan, ada proyek tol yang jadi rebutan karena dianggap menguntungkan, tapi di sisi lain ada juga yang malah sepi peminat.
Waduh, kok bisa beda banget ya?
Kalau dilihat lebih dalam, salah satu faktor paling menentukan adalah potensi lalu lintas kendaraan alias traffic.
Baca Juga: Solusi Cegah PHK PPPK Mengemuka, Gubernur Siap Usul Gaji Diambil Alih Pusat
Tol yang berada di jalur padat seperti kawasan industri atau kota besar jelas lebih menarik.
Contohnya Tol Trans Jawa. Jalur ini bisa dibilang “ladang emas” karena setiap hari dilintasi ribuan kendaraan.
Nah, investor melihat itu sebagai peluang cuan. Semakin ramai kendaraan, semakin besar pemasukan dari tarif tol.
Jadi ya wajar saja kalau proyek seperti ini jadi incaran banyak pihak.
Sebaliknya, proyek tol di daerah yang masih berkembang sering kali kurang dilirik.
Bukan berarti nggak penting, tapi dari sisi bisnis, keuntungannya belum tentu cepat terasa.
Investor biasanya menghitung dengan sangat detail kapan balik modal, berapa risiko, dan bagaimana prospek jangka panjangnya.
Nggak cuma itu, faktor pembebasan lahan juga jadi momok tersendiri.
Duh, urusan ini memang sering bikin pusing.
Baca Juga: 3 Bulan Tanpa Gaji! Nasib 2.341 Guru PPPK Paruh Waktu Picu Aksi Besar Mahasiswa
Kalau prosesnya lama dan berlarut-larut, investor bisa langsung mundur perlahan.
Soalnya, makin lama proyek tertunda, makin besar juga biaya yang harus ditanggung.
Belum lagi soal risiko konstruksi. Ada proyek tol yang medannya sulit, seperti di daerah pegunungan atau rawa.
Ini tentu butuh biaya lebih besar dan teknologi khusus. Nah, di titik ini, investor biasanya mulai berpikir dua kali.
Baca Juga: Surat Edaran Kemenkes Picu Kecemburuan! PPPK Protes Keras 'Kami Dianaktirikan!'
Menariknya, ada juga proyek tol yang akhirnya tetap berjalan meski minim investor.
Kok bisa? Jawabannya campur tangan pemerintah.
Yup, beberapa proyek masuk dalam kategori Proyek Strategis Nasional (PSN), sehingga tetap harus dibangun demi pemerataan ekonomi.
Dalam kasus seperti ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sering turun tangan.
Bahkan, ada proyek yang sebagian besar dananya berasal dari negara.
Tujuannya jelas, bukan semata-mata keuntungan, tapi membuka akses dan mendorong pertumbuhan wilayah.
Contoh yang cukup sering dibahas adalah beberapa ruas Tol Trans Sumatera.
Proyek ini punya potensi besar, tapi karena belum semua wilayah ramai, investor swasta masih cenderung berhati-hati.
Akhirnya, pemerintah mengambil peran lebih besar agar pembangunan tetap berjalan.
Baca Juga: Tak Ikut Pangkas Tunjangan! Kutim Pilih Amankan TPP dan Kuota PPPK Saat Daerah Lain Tertekan
Eh tapi jangan salah, bukan berarti tol yang sepi peminat itu nggak bagus, ya.
Justru dalam jangka panjang, proyek seperti ini bisa jadi sangat penting.
Bayangin saja, ketika suatu daerah mulai berkembang, kebutuhan akses pasti meningkat.
Nah, di situlah tol mulai menunjukkan nilainya.
Baca Juga: Profil AKN Aceh Barat, Kampus Vokasi D-II dengan Tiga Program Unggulan
Jadi sebenarnya, ini soal timing. Investor cenderung masuk ketika peluang sudah terlihat jelas.
Sementara pemerintah sering kali harus “buka jalan duluan” agar perkembangan bisa terjadi.
Wah, menarik juga ya. Ternyata pembangunan jalan tol bukan cuma soal kebutuhan masyarakat, tapi juga soal hitung-hitungan bisnis yang super detail.
Jadi, kalau kamu lihat ada tol yang ramai banget dan ada yang masih lengang, jangan heran.
Bisa jadi, di balik itu semua ada cerita panjang tentang siapa yang berani ambil risiko lebih dulu.***

