POJOKSATU.id - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhammad Anwar Iskandar menekankan bahwa kebebasan beragama yang menghormati keberagaman adalah bentuk ketakwaan kepada Allah SWT.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus War, panggilan akrab KH Muhammad Anwar Iskandar, saat memberikan tausiyah kebangsaan dalam acara 'Silaturahim Syawal dan Tausyiah Kebangsaan' yang diadakan DPW LDII Jawa Timur di Aula Ponpes Sabilurrosyidin Annur, Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat, 3 Mei 2024.
Gus War menyoroti pentingnya kasih sayang kepada sesama sebagai bagian integral dari keberagaman manusia. Ia menyatakan bahwa kasih sayang kepada sesama menciptakan kerukunan dalam kebaikan, yang menjadi dasar bagi keharmonisan.
Baca Juga: LDII Minta Prabowo-Gibran Selesaikan 5 Poin Prioritas
"Kerukunan dalam kebaikan tidak mengenal batasan agama, suku, atau profesi," ujar Gus War, yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien dan Pondok Pesantren Assa'idiyah Kota Kediri.
Kebaikan merupakan bagian dari ketakwaan, yang memiliki dimensi universal mencakup kedamaian, persatuan, dan kebersamaan. Kebersamaan tersebut mengilhami kepedulian terhadap sesama, baik dalam keadaan suka maupun duka.
"Kesatuan antara umat beragama dan pemimpin adalah kunci untuk memelihara kedamaian dan memperkuat kesatuan bangsa," jelas dia.
Gus War juga menyoroti pesan kebangsaan dalam ajaran agama, di mana Allah menegaskan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam masyarakat yang beragam.
Sejarah Madinah, menurutnya, menjadi bukti bagaimana kesepakatan dan kesatuan antar berbagai kelompok masyarakat memperkuat kedaulatan dan keamanan.
Selaras dengan pandangan Ketua Umum MUI, Ketua Umum DPP LDII, Kyai Chriswanto Santoso, mengatakan bahwa bangsa Indonesia pada hakikatnya beragam, namun bersatu dan berikrar menjadi satu bangsa, satu bahasa, dan satu negara.
"Indonesia adalah kapal besar, dan setiap penumpang di dalamnya berkewajiban menjaga agar kapal sampai ke tujuan dengan selamat," ungkapnya.
Kyai Chriswanto juga menegaskan pentingnya menghormati nakhoda yang terpilih untuk menjaga keselamatan kapal bernama Indonesia. Setelah terpilih, siapapun harus mempercayai nakhoda tersebut, dengan rencana, kritikan, dan kerja yang didasarkan pada Sila ke-4 Pancasila.***

