POJOKSATU.ID - Saya duduk menatap ujung kasur hampir tiap hari kala itu.
Pikiran sudah berkelana pada rindu-rindu bertemu dengan teman sebaya hanya untuk mengobrol.
Namun, tanpa disadari ketika gelar keramat itu disahkan, semuanya menjadi lebih serius.
Tanggal 10 Februari, hari spesial pada 2025 karena saya berhasil melakukan uji nyali dengan mempresentasikan hasil penelitian saya secara keseluruhan.
Baca Juga: Bangkit dari Lahan Tidur, Garitan Kalongliud Jadi Model Pertanian Sirkular Andalan ANTAM
Sungguh saya merasa bangga, banyak doa dan hadiah dari rekan sejawat hingga dosen-dosen dari Universitas Padjadjaran.
Tiga hari bagai sulap, pada 13 Februari itu saya dinyatakan lulus di yudisium dengan nilai sempurna.
Rasa syukur saya rasakan berlipat-lipat, “anak ini ternyata bisa memperoleh gelar dan menamatkan apa yang telah dimulainya.”
Semuanya bagai macam-macam bunga yang sedang mekar.
Baca Juga: PPPK Merasa Mirip Honorer, Apalagi Paruh Waktu! Gaji Lebih Kecil, Status Tak Jelas
Namun setelah itu, ternyata saya bingung arahnya mau ke mana?
Lulusan Sastra Indonesia mau jadi apa?
Gelar S.Hum. itu berguna untuk apa?
Walau penuh dengan kebingungan, rasa bingung itu disibukkan oleh bulan Ramadhan dan Lebaran pada tahun 2025.
Pada saat itu saya memanipulasi diri menjadi pebisnis handal bagi orang-orang pencari takjil.
Hingga aplikasi Linkedin itu menjadi sarang laba-laba yang belum pernah tersentuh.
Boom, lebaran menjadi part yang ditunggu, ada banyak pertanyaan “kapan wisuda?” Saya jawab “Mei.” Dan “kapan punya kerja?” Saya hanya bisa terdiam.
Tetapi ternyata alih-alih panik, saya sangat merasa santai karena mungkin sedikit diberikan oksigen untuk bernapas dahulu.
Baca Juga: Resmikan 41 SPPG NU, Gus Yahya Tegaskan Komitmen Jaga Gizi Santri, Bidik 1.000 Dapur MBG
Lalu, satu per satu teman-teman saya sudah mulai membagikan aktivitas day 1 masuk kantor.
Di situ, saya rasanya ingin menghilang.
Setiap bulan, saya selalu berdoa dan bermanifestasi bahwa bulan ini mendapat pekerjaan.
Juni sudah berlalu dan yap begitu saja, Juli yang pada hari ulang tahun pun masih diliputi rasa sedih dan gagal.
Baca Juga: Hajjah Sanah Disambar Petir di Depan Pintu Rumah, Api Membesar Melahap Semua Isi Warung
Agustus, hari kemerdekaan yang belum merdeka mencari lapangan pekerjaan.
September, bulan ini saya mulai pasrah, sudah ditolak paragon dan bingung sekali untuk mencari kerja hingga saya merasakan keputusasaan.
Oktober adalah puncak ulang tahun mama saya, pada bulan ini saya mohon ke mama untuk selalu mendoakan saya.
Pada bulan Oktober saya mencoba ikhlas.
Ternyata Allah memberikan jalannya, Jasmin teman seperjuangan saat kuliah menghubungi bahwa pemerintah akan mengadakan magang nasional bagi fresh graduate lulusan perguruan tinggi.
Lalu saya membuat akun MagangHub sangat mepet, pilihannya pun mepet.
Saya pilih perusahaan yang ada di Cimahi dan di Rancaekek, lalu tidak tahu kenapa satu perusahaan di Bogor.
Tidak ada kelanjutan lagi karena tidak ada informasi apapun ketika Jasmin menanyakan kondisi lamaran saya.
Saya pun tertidur dan bangun jam 3 karena terbiasa.
Baca Juga: Nyawa Pelajar Melayang di Tual, Diduga Dianiaya Anggota Brimob, Kapolri: Ini Nodai Marwah Institusi
Ketika bangun saya dikagetkan karena mendapat notifikasi WA yang belum sempat saya balas.
Kemudian masuk notif email bahwa saya dinyatakan lolos di perusahaan Pojoksatu Indonesia, perusahaan media yang ada di Kota Bogor.
Saya menangis karena bahagia.
Akhirnya saya mendapatkan bagian untuk merasakan yang namanya bekerja.
Baca Juga: Nyawa Pelajar Melayang di Tual, Diduga Dianiaya Anggota Brimob, Kapolri: Ini Nodai Marwah Institusi
Saya bilang mama, dan mama pun merestui saya untuk ke Bogor.
Di tengah huru-hara itu, saya mulai mencari info kost di Bogor yang masih bisa terjangkau harganya dengan budget pas-pasan.
Saya juga mendapat teman baru.
Dea adalah orang yang saya tandai karena keterpukauan saya melihat bagaimana cara dia public speaking saat wawancara.
Lalu di sana saya kenal Vidya, Suci, Silva, dan Pasha.
Menuju bogor saat on boarding, saya diantarkan oleh keluarga: Kakek, Wa Mae, Mama, Nikken, Dede Yola, Nara, dan teman Nara sebagai supir.
Benar-benar menjadi anak rantau.
Tiga bulan pertama bekerja dengan WFA namun ada sewaktu-waktu ke kantor.
Saya pun bertemu dengan teman-teman yang lain, ada Nadhive, David, Panggah, Mamong, Vina, dan Treeya.
Baca Juga: HEBOH Gempa Dahsyat M7,2 Guncang Malaysia! Indonesia Sampai Ikut Bergetar, BMKG Beberkan Penyebabnya
Jujur saya merasa bersyukur bertemu mereka, obrolan kami sangatlah nyambung dan cocok bagaikan teman lama.
Kami jalan-jalan ke Mall Botani, bahkan hingga WFC di Raindevu.
Semuanya kami lewati dan banyak keseruan yang tidak bisa disebutkan karena saya merasa sangat bersyukur mendapat keluarga baru di Bogor lewat divisi Creator Artikel Pojoksatu.
Pada akhir 2025 pun kami menyewa villa di Puncak untuk quality time divisi creator artikel.
Baca Juga: Nyawa Pelajar Melayang di Tual, Diduga Dianiaya Anggota Brimob, Kapolri: Ini Nodai Marwah Institusi
Sebagai anak kost, saya nebeng ke teman-teman yang memiliki motor.
Saya dibonceng Panggah selama ke Puncak.
Deg-degan bagaikan dibonceng Valentino Rossi.
Ketika menuju puncak saya kehabisan nafas untuk berjalan menanjak, saya sangat takut sekali merepotkan yang lain.
Maaf ya teman-teman karena saya banyak merepotkan.
Di sana saya sangat senang sekali karena bisa merasakan keseruan untuk melakukan bonding divisi artikel.
Sebagai perantau, lagi-lagi saya bersyukur bertemu dengan divisi creator artikel Pojoksatu.
Terima kasih untuk MagangHub Kemnaker yang telah mempertemukan saya dengan mereka, dan terima kasih pula untuk Pojoksatu yang telah menerima saya.
Keduanya saya penting dan berpengaruh terhadap rencana takdir yang tidak pernah diduga.
Baca Juga: Belum Genap Sebulan, Aspal Jalan Proyek Rp1,5 Miliar di Bima NTB Sudah Mengelupas dan Tergulung
Selama magang di Pojoksatu saya merasa senang karena teman-temannya sangat baik dan mengerti satu sama lain.
Sejauh ini pekerjaannya juga saya nikmati.
Ilmu kepenulisan jurnalistik saya terpakai sempurna dengan menulis berbagai berita di dunia kerja.
Saya juga berterima kasih kepada Pak Guruh sebagai mentor yang telah memberikan banyak insight baru mengenai kepenulisan di media online.
Semuanya saya syukuri.
Baca Juga: Impor BBM
Hambatan selama ini yang mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan adalah pentingnya meningkatkan bonding antara anak magang dan perusahaan.
Selama menjadi pemimpin organisasi di kampus, saya mendapatkan pelajaran.
Ketika kita terlalu ‘keras’ kepada anggota, anggota mungkin merasa tertekan bukan menikmati.
Walaupun pekerjaan selesai, tapi keharmonisan tidak bisa terbangun secara naluriah.
Karena yang terbangun terlebih dahulu mungkin rasa jengkel dari para anggotanya.
Saya memahami jika mungkin tujuan perusahaan itu ‘baik’ untuk meningkatkan kuasa terhadap anak magang, tapi itulah yang kadang menjadi titik krusial.
Menurut saya, pekerjaan itu bukan hanya sekadar ‘selesai’ dan transaksional saja.
Bekerja dan mendapatkan gaji, bukan hanya seperti itu.
Sebab pada nyatanya kita sebagai makhluk sosial ada yang namanya sosialisasi dan komunikasi.
Ketika perusahaan mengevaluasi anak magang karena ketidaksempurnaannya, maka evaluasi dibutuhkan untuk pelajaran di masa depan.
Evaluasi itu diperlukan agar anak magang menjadi lebih baik dalam bekerja.
Namun, satu poin yang diperlukan juga bahwa perusahaan harus bisa ‘terus belajar’, ‘mengikuti alur’, dan ‘evaluasi karakter’.
Baca Juga: Menenun Ketelitian di Balik Layar Media, Perjalanan MagangHub di PT PojokSatu Indonesia
Visi misi perusahaan mungkin berbeda-beda, tapi lingkungan kerja yang baik dapat dibangun oleh semuanya ketika kita mau ‘belajar.’
Bukan siapa yang harus duluan untuk berubah, tapi bagaimana semuanya dapat membawa perubahan.
Magang di Pojoksatu merupakan suatu kebanggaan bagi saya karena dapat terjun langsung ke dunia pers digital.
Saya berharap diri saya dan Pojoksatu terus berkembang dan bisa sukses di masa depan.
Terima kasih untuk semua ilmu dan pengalaman yang telah diberikan selama ini.
Semoga ini menjadi awal titik baik bagi masa depan saya setelah lulus magang nasional Kemnaker batch pertama.
Pengalaman pertama yang tidak akan dilupakan.
Love you all.***

