Ibu Hamil Tak Boleh Abaikan Fungsi Vital Plasenta

Ibu hamil
ilustrasi

114_88_ibuhamil28042014

Fungsi plasenta dalam masa kehamilan sangatlah penting, tetapi para ibu kadang ’’melupakan’’ perannya. Padahal, proses kehamilan hingga persalinan selalu melibatkan plasenta.

Ketika menjalani pemeriksaan kehamilan (ANC = antenatal care) dengan USG, para calon ibu sering tanya perkembangan janin dan jenis kelamin. Jarang yang juga bertanya, bagaimana posisi plasentanya. Padahal, plasenta memiliki peran penting dalam pertumbuhan janin. Plasenta atau ari-ari-lah yang menghubungkan ibu dan janin.

Dokter Stella Shirley Mansur SpOG menuturkan, fungsi plasenta meliputi lima peran utama. Yakni, fungsi nutrisi, ekskresi, imunitas, endokrin/hormon, serta merupakan reservoir darah janin. Plasenta memberikan nutrisi dan oksigen pada janin. Pada saat yang sama, plasenta membawa zat-zat buangan yang tidak berguna atau membahayakan janin untuk dibuang melalui urine atau tinja sang ibu.


Fungsi imunitas berupa transfer antibodi dari ibu kepada janin. ’’Antibodi seperti imunoglobulin G (IgG) dapat menembus plasenta sehingga memberikan perlindungan pada janin dalam rahim. Transfer antibodi ini terjadi mulai kehamilan 20 minggu,’’ papar ahli kebidanan dan kandungan yang berpraktik di RS Mitra Keluarga Jakarta tersebut.

Selain itu, plasenta memproduksi beberapa hormon. Meliputi, hCG (human Chorionic Gonadotropin) atau hormon hamil, hPL (human Placental Lactogen) atau hormon menyusui, hormon estrogen, dan hormon progesteron. Kesemuanya berfungsi mendukung proses kehamilan dan kelahiran. Plasenta juga berfungsi menyediakan reservoir darah untuk janin bila terjadi hipotensi pada ibu (tekanan darah rendah) dan dapat berfungsi sebaliknya.

Nah, kelainan pada plasenta bisa mengganggu proses kehamilan maupun persalinan. Stella menjelaskan, kelainan plasenta dapat berupa plasenta akreta, solusio plasenta, plasenta previa, dan insufisiensi plasenta.

Pada plasenta akreta, jaringan plasenta melekat terlalu erat hingga ke dalam dinding rahim sehingga tidak dapat dipisahkan. Penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Namun, frekuensinya meningkat pada ibu yang pernah operasi Caesar atau memiliki riwayat plasenta previa. ’’Ibu dengan kelainan ini akan melahirkan bayinya dengan bantuan operasi Caesar, sekaligus dilakukan pengangkatan rahim beserta plasenta,’’ tutur alumnus FKUI Jakarta tersebut.

Pada solusio plasenta, plasenta lepas dari dinding rahim. Penyebabnya, biasanya itu terjadi karena trauma (benturan), ibu mengalami kelainan pembekuan darah, ataupun pertumbuhan plasenta abnormal. Bila terjadi pelepasan plasenta, janin harus segera dilahirkan dan diperlukan pemberian darah pengganti.

Apabila plasenta menempel pada bagian terbawah rahim sehingga menghalangi mulut rahim, kondisi itu merupakan plasenta previa. Gejalanya adalah perdarahan berulang, sering diikuti kram. Biasanya perdarahan terjadi pada trimester dua akhir dan trimester tiga kehamilan.

Pada plasenta previa, ada yang marginal (plasenta berada tepat di samping mulut rahim, tetapi tidak menutup jalan mulut rahim), parsial (plasenta menutupi sebagian bukaan mulut rahim), serta totalis (plasenta menutup semua bukaan mulut rahim). ’’Nyaris semua ibu dengan kondisi plasenta previa akan melahirkan dengan operasi Caesar,’’ ujarnya.

Ada pula gangguan insufisiensi plasenta. Hal ini terjadi bila fungsi transpor nutrisi pada plasenta tidak berjalan dengan baik. ’’Akibatnya, ukuran janin lebih kecil daripada normal. Biasanya itu terjadi pada ibu perokok, penderita diabetes kronis, atau kelainan ginjal,’’ jelasnya. (nor/c17/nda)