Ini Buruknya Gadget Bagi Mata

Gadget, sinar gadget bikin gemuk, tidur gunakan gadget, bahaya gunakan gadget
ilustrasi

Gadget

POJOKSATU- Peranti digital semakin beragam, baik dari segi harga maupun jenis. Masyarakat dari berbagai usia mampu mengakses gadget. Meski begitu, pemakaian gadget berisiko terhadap kesehatan organ mata.

Dokter Prillia Tri Suyanti SpM menerangkan, terlalu lama menggunakan gadget bisa memicu computer vision syndrome (CVS). Kondisi itu merupakan kumpulan gejala berupa gangguan visual akibat memandang layar monitor terlalu lama.

Menurut perempuan kelahiran 3 April 1953 itu, CVS dipicu dua faktor, radiasi sinar UV (ultraviolet) dan jarak pandang. Sinar UV pada layar gadget, menurut dia, merupakan blue light alias high visible energy (HEV) yang memiliki kekuatan radiasi cukup besar.


Mata yang terlalu lama terkena HVE akan mengalami ’’kekeringan’’. Sebab, mata dipaksa melek terlalu lama. ’’Jadi, air mata menguap dan berkurang. Padahal, air mata berfungsi sebagai pelembap mata,’’ tutur staf pengajar ilmu penyakit mata FK Unair itu. Solusinya menggunakan air mata buatan berupa obat tetes mata.

Prillia menjelaskan, ada beberapa keluhan berkaitan dengan CVS. Di antaranya, mata buram, pandangan dobel atau berbayang, perih, dan panas. Bisa juga, mata terasa berpasir, kering, atau malah berair

Jika terus-menerus terpapar HVE, risikonya mengganggu lensa dan retina mata. Pada kornea, bisa terjadi keratitis. Jika mengenai lensa, itu akan memicu katarak.

Yang melegakan, CVS bisa dicegah. Prillia merujuk penelitian National Institute of Occupational Safety and Health pada 2012. Dalam penelitian itu, disebutkan bahwa 88 persen orang yang bekerja lebih dari tiga jam di depan monitor berisiko terkena CVS.

Alumnus FK Unair tersebut menegaskan, CVS bukanlah penyebab kelainan refraksi seperti mata minus (myopia), rabun dekat (hypermetropia), ataupun silindris (astigmatisma). Namun, kebiasaan memandang layar gadget berlebihan ikut memperparah gangguan refraksi itu.

Untuk menghindari kelelahan mata akibat menatap monitor, Prillia menyarankan pengguna gadget untuk mengatur kecerahan dan kontras. Dengan demikian, mata tidak ngotot. ’’Kalau dipaksa lihat dekat terus, lama-lama kan mata capek. Fungsi akomodasi mata bisa turun,’’ tegasnya.

Pengguna gadget hendaknya melakukan kebiasaan 20:20:20. Yakni, setiap 20 menit menatap monitor, pengguna berhenti selama 20 detik. Lalu, pusatkan pandangan sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter. Selain itu, pemakaian dibatasi maksimal delapan jam per hari.

Untuk mereka yang memang diharuskan menghadap monitor selama bekerja, spesialis mata itu menyarankan pengaturan jarak antara mata dan monitor komputer. ’’Jarak monitor setidaknya 50 sampai 70 cm dari mata dan lebih rendah 20 derajat,’’ tuturnya. Selain itu, keyboard ditempatkan pada jarak sekitar 30 hingga 40 cm dari mata. Tujuannya, mata tidak terlalu dekat dan tangan tidak lelah.

Kondisi ruangan selama bekerja juga patut diperhatikan. Pencahayaan tetap, baik lokal (dengan lampu duduk) maupun general (dengan lampu ruang), harus tersedia. Selain itu, tingkat terang lampu (lux meter) serta kelembapan ruangan tidak bisa diabaikan.

Sekretaris Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Mata RSUD dr Soetomo tersebut menegaskan, CVS memang tidak mengancam nyawa. Namun, kalau tidak segera ditangani, aktivitas sehari-hari akan terganggu. Selain itu, produktivitas rawan berkurang dan terjadi peningkatan risiko kesalahan kerja. (fam/c6/nda)