POJOKSATU.com - Pemilihan umum merupakan salah satu agenda penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Tahun 2024 mendatang akan menjadi tahun penting bagi rakyat Indonesia saat berbondong-bondong datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memilih pemimpin, dan wakil rakyat yang baru.
Dalam kontestasi politik tersebut, kelompok pemilih pemula yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, atau pemilih dengan rentang usia 17 sampai 21 tahun.
Baca Juga: Pesan Wamenag RI Pesta Pemilu 2024 Harus Riang Gembira
Itu diprediksi mendekati 60 persen (survei CSIS, 2022) menjadi sasaran para kandidat yang berkontestasi.
Kuantitas Generasi Milenial dan Gen Z
Milenial ialah mereka yang lahir pada 1995 – 2000an, jumlahnya sekitar 60 persen atau 66.822.389 orang dari DPT.
Adapun Gen Z ialah mereka yang lahir pada 1995 hingga 2000-an berjumlah 46.800.161 pemilih atau 22,85 persen dari total DPT Pemilu 2024 (Rilis KPU RI, 2022).
Jika diakumulasikan berjumlah lebih dari 113 juta pemilih.
Pada kontestasi Pemilu 2024 nanti, mereka akan mendominasi dan diyakini akan meningkatkan tingkat partisipasi pemilih pemula, seperti pada pemilu 2019 yang mencapai 81 persen.
Baca Juga: Ketua MPR Sebut Politik Identitas dan Polarisasi Politik Jadi Masalah Besar Jelang Pemilu 2024
Isu-isu penting yang Diperjuangkan
Mereka memiliki kelebihan sebagai kelompok yang melek teknologi, terhubung dengan berita dan informasi politik dengan cepat melalui media sosial dan platform online.
Beberapa isu yang menjadi perhatian mereka diantaranya anti korupsi, Hak Asasi Manusia, dan Perubahan Iklim.
Melihat hal itu, para kandidat dan partai politik akan berusaha memasukkan isu-isu tersebut ke dalam agenda mereka agar dapat menarik perhatian pemilih pemula.
Media sosial akan memainkan peran yang semakin besar dalam kampanye pemilu 2024 nanti.
Partai politik dan para kandidat akan berlomba-lomba untuk memanfaatkan platform digital untuk mencapai pemilih pemula yang aktif online.
Ini termasuk penggunaan iklan berbayar di media sosial, kampanye daring, dan berbagai bentuk konten digital lainnya.
Keberpihakan Generasi Milenial dan Generasi Z
Mereka memiliki potensi besar untuk membentuk masa depan negara ini.
Namun, mereka juga memiliki tantangan tersendiri, seperti kurangnya pengalaman dalam memilih calon kandidat dan rentan terhadap informasi atau berita hoax atau palsu.
Beberapa faktor yang mempengaruhi keberpihakan mereka, yaitu, Pertama, Pendidikan Politik.
Mereka perlu diberikan edukasi yang baik tentang bagaimana menjadi seorang pemilih yang baik, memahami proses pemilu, dan mengetahui kualitas calon kandidat yang mereka pilih.
Kedua, Partisipasi Aktif. Mendorong pemilih pemula untuk terlibat secara aktif dalam diskusi politik dan melibatkan diri dalam kegiatan pemilihan umum dapat.
Hal itu membantu mereka merasa lebih terlibat dalam proses politik.
Dan ketiga, Fakta Akurat. Upaya harus dilakukan untuk mengedukasi pemilih pemula tentang pentingnya mendapatkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya dan berita yang benar.
Baca Juga: Megawati Diskusi dengan Jokowi Situasi Pemilu 2024, Ada Perang Udara, Pasangan Bisa Ganti-ganti
Keberpihakan mereka akan berdampak signifikan pada Indeks Demokrasi Indonesia (IDI).
The Economist Intelligence Unit (EIU) pada Februari 2023 lalu menilai skor indeks demokrasi Indonesia mengalami stagnasi.
Indonesia berada di peringkat ke-54 dari 167 negara dengan skor 6,71. Skor ini sama dengan indeks demokrasi tahun 2021.
Namun, peringkat Indonesia turun dari 52 ke 54. Indonesia berada di bawah Kolombia yang duduk di peringkat ke-53, yakni dengan skor 6,72.
Indonesia juga berada di bawah Filipina yang peringkat ke-52 dengan skor 6,73 dan Malaysia yang peringkat ke-40 dengan skor 7,30. Indonesia juga dianggap menjalankan demokrasi cacat (flawed democracy).
Berdasarkan hal itu, maka Pemilu 2024 di Indonesia akan menjadi peristiwa penting dalam sejarah politik negara ini.
Keberpihakan para pemilih pemula akan menjadi faktor kunci dalam menentukan hasil pemilu.
Dengan pendidikan politik yang baik, partisipasi aktif, dan akses ke informasi yang akurat, pemilih pemula dapat memainkan peran penting dalam membangun masa depan politik yang lebih demokratis di Indonesia.
Tak terlewat, juga berkontribusi pada peningkatan Indeks Demokrasi Indonesia.
Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk mendukung partisipasi aktif pemilih pemula dalam pemilu ini.***

