POJOKSATU.ID — Pemerintah lewat Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah merancang program ambisius bernama Internet Rakyat 2025.

Menargetkan penyediaan internet tetap berkecepatan hingga 100 Mbps dengan tarif sangat terjangkau untuk masyarakat luas.

Dalam diskusi publik dan kajian kebijakan, wacana subsidi dari perusahaan negara seperti PLN ikut muncul sebagai bagian dari strategi memperluas akses digital.

Komdigi sudah mengumumkan rencana lelang pita frekuensi 1,4 GHz seluas 80 MHz untuk memungkinkan layanan broadband fixed wireless (BWA) yang bisa menjangkau rumah-rumah dengan biaya lebih rendah.

Baca Juga: Internet Rakyat 2025, Daerah Mana Saja yang Sudah Kebagian Internet Murah? Berikut Peta Cakupan!

Dengan frekuensi ini, Komdigi menargetkan kecepatan “up to 100 Mbps” bagi paket internet yang bakal disubsidi untuk segmen menengah ke bawah. 

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni, menyebut bahwa tarif yang realistis bagi masyarakat adalah di kisaran Rp 100 ribuan per bulan untuk paket 100 Mbps.

Munculnya wacana keterlibatan PLN dalam Internet Rakyat sebenarnya berkaitan dengan strategi memperluas basis pengguna tetap yang bisa mendapatkan layanan internet murah.

Meskipun belum ada dokumen resmi yang menyatakan PLN secara langsung “membayar” subsidi ke pelanggan internet.

Baca Juga: Subsidi Internet Murah 2025! Program Internet Rakyat Hadir dengan Tarif Rp 100 Ribu dengan 100 Mbps

Beberapa analisis kebijakan menyebut keterlibatan PLN sebagai mitra strategis.

Mengingat jangkauan listrik PLN sangat luas di seluruh Indonesia dan bisa dipakai sebagai basis distribusi utilitas digital.

Beberapa laporan menyebut bahwa pelanggan listrik PLN (terutama rumah tangga yang telah terhubung listrik rumah) menjadi target prioritas untuk paket Internet Rakyat karena infrastrukturnya sudah ada.

Hal ini membuat biaya distribusi bisa ditekan dan memungkinkan operator untuk menawarkan paket dengan harga rendah.

Di samping masyarakat umum, Komdigi juga fokus pada Sekolah Rakyat.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital menjelaskan bahwa 100 Sekolah Rakyat prioritas akan disuplai dengan akses internet berbasis fiber optik, dengan kecepatan minimal 100 Mbps. 

Dalam beberapa kasus, Komdigi bekerja sama dengan Kementerian Sosial (Kemensos) untuk pembiayaan infrastruktur dan langganan internet di sekolah.

Kemensos menanggung sebagian biaya agar sekolah-sekolah rakyat ini bisa menikmati koneksi cepat. 

Dua contoh sekolah rakyat di Yogyakarta sudah terhubung.

Baca Juga: Bandung Kejar Target Olah 500 Ton Sampah per Hari, Warga Jadi Kunci Utama

SMA Sekolah Rakyat 19 Bantul mendapat koneksi hingga 200 Mbps, sedangkan SMA Sekolah Rakyat 20 Sleman terhubung dengan 100 Mbps.

Untuk mendukung Internet Rakyat dengan kecepatan tinggi, Komdigi tidak hanya mengandalkan BWA 1,4 GHz, tetapi juga menarik kabel fiber optik (FO) ke beberapa desa dan titik strategis. 

Dengan kombinasi jaringan fiber dan wireless, diharapkan internet cepat bisa tersedia di wilayah pinggiran dan 3T (terpencil, terdepan, tertinggal), sekaligus menjaga biaya tetap rendah bagi pengguna lewat subsidi.

Tantangan dan Catatan Kritikal

1. Keterlibatan PLN masih ambiguous: Sampai saat ini belum ada konfirmasi resmi bahwa PLN “subsidi internet 100 Mbps”, melainkan wacana kemitraan distribusi.

Baca Juga: Hak Cuti ASN Berubah? Ini Perbedaan Waktu Libur PNS dan PPPK dalam Aturan BKN

2. Komitmen operator: Agar tarif tetap di kisaran Rp 100 ribuan, operator pemenang lelang frekuensi harus benar-benar menjaga biaya operasional rendah dan tidak menaikkan harga saat operasional.

3. Keberlanjutan subsidi: Setelah program awal berjalan, perlu mekanisme agar harga tetap terjangkau secara jangka panjang atau ada model bisnis berkelanjutan.

4. Penyebaran infrastruktur: Menarik fiber optik ke wilayah terpencil sangat menantang, dan pembangunan ini butuh waktu, tenaga, dan biaya besar.

Potensi Manfaat bagi Masyarakat

Literasi digital meningkat: Akses internet cepat dan terjangkau bisa membantu rumah tangga mengakses pendidikan daring, informasi, dan peluang ekonomi digital.

Baca Juga: CPNS 2026 Siap Dibuka, Ini Daftar 5 Instansi yang Berpeluang Besar Menerima Lulusan SMA dan SMK Lengkap Formasi

Inklusi digital: Melalui kemitraan Komdigi dan PLN, rumah tangga yang sebelumnya sulit bayar internet kabel bisa terhubung dengan kecepatan tinggi.

Transformasi Pendidikan: Sekolah Rakyat dengan koneksi 100 Mbps membuka peluang pembelajaran digital dan program smart school di kawasan yang belum terlayani.***