Sebelum Digulingkan Oposisi, PM Imran Khan Dikenal Dekat dengan Rusia dan China

PM Pakistan Imran Khan digulingkan (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA— Sebelum digulingkan dari tampuk kekuasaan, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dikenal dekat dengan Rusia dan China. Khan digulingkan oposisi dengan mosi tidak percaya.


Imran Khan digulingkan oleh oposisi politik melalui mosi tidak percaya pada Minggu (10/4/2022) pagi waktu setempat.

Voting mosi tidak percaya dimenangi oleh oposisi setelah beberapa sekutu Imran Khan dan sebuah partai koalisi utama meninggalkan Imran Khan.

Oposisi gabungan akan membentuk pemerintahan baru, dengan kepala salah satu partai terbesar, Liga Muslim Pakistan, mengambil alih sebagai perdana menteri.


Imran Khan, yang menuduh oposisi berkolusi dengan Amerika Serikat (AS) untuk menggulingkannya, sebelumnya meminta para pendukungnya untuk menggelar aksi unjuk rasa secara nasional pada Minggu.

Sebagaimana dilansir NTD, Imran Khan sebelumnya telah mencoba untuk menghindari pemungutan suara dengan membubarkan Parlemen dan mengadakan pemilihan umum lebih awal.

Tetapi, keputusan Mahkamah Agung memerintahkan pemungutan suara untuk dilanjutkan.

Pemungutan suara dilakukan di tengah hubungan yang mendingin antara Khan dan militer Pakistan yang menurut banyak lawan politiknya membantunya berkuasa dalam pemilihan umum pada 2018.

Oposisi menyerukan penggulingan Khan dengan tuduhan salah urus ekonomi karena inflasi melonjak dan nilai rupee Pakistan yang anjlok.

Pemungutan suara tersebut mengakhiri gejolak politik selama berbulan-bulan dan krisis konstitusional yang mengharuskan Mahkamah Agung untuk menyelesaikannya.

Kebijakan luar negeri yang diambil Khan seringkali tampaknya menguntungkan China dan Rusia dan menentang AS.

Imran Khan berujar, Washington atau Paman Sam menentang pertemuannya pada 24 Februari dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin beberapa jam setelah Rusia menginvasi Ukraina.

Sebelum digulingkan, Imran Khan menuding bahwa lawan-lawannya berkolusi dengan AS untuk menggulingkannya atas pilihan kebijakan luar negerinya.

Hal ini disampaikan Imran Khan pada Jumat (8/4/2022) waktu setempat atau dua hari sebelum Imran Khan digulingkan.

Imran Khan kehilangan kekuasaan, hanya beberapa hari setelah dia memblokir upaya mosi tidak percaya di Parlemen.

Pengesahan mosi pada hari Sabtu terjadi setelah Mahkamah Agung setempat memutuskan bahwa bintang kriket yang berubah menjadi politisi itu bertindak tidak konstitusional dengan sebelumnya memblokir proses dan membubarkan Parlemen.

Mosi tidak percaya, yang membutuhkan 172 suara di Parlemen dari 342 kursi, ternyata didukung oleh 174 anggota Parlemen.

Mengantisipasi kekalahannya, Imran Khan, yang menuduh oposisi berkolusi dengan Amerika Serikat untuk menggulingkannya, pada hari Jumat meminta para pendukungnya untuk menggelar aksi unjuk rasa secara nasional pada hari Minggu (10/4/2022). (ral/int/pojoksatu)