Datangi KBRI Lebanon dan Bawa Poster Jokowi, Ratusan Massa Desak Indonesia Atasi Maraknya Mafia Kapal

Ratusan massa sambil membawa poster Presiden Jokowi mendatangi KBRI di Lebanon (ist)

POJOKSATU.id, LEBANON--Ratusan massa dari karyawan dan keluarga kapal Seniha-S (MV Neha) kembali mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Baabda-Yarzeh, Lebanon, Selasa (28/9/2021).


Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya pada (20/8) lalu dengan tuntutan sama.

Mereka meminta agar pemerintah Indonesia bertindak tegas terhadap mafia kapal di Batam yang telah melakukan penculikan ABK dan penahanan kapal cargo Seniha-S.

Keluarga pemilik dan karyawan yang bekerja di kapal tersebut turut ikut melakukan aksi unjuk rasa.


Mereka juga hadir bersama salah satu pemilik kapal dan juga Direktur Operasional serta juru bicara resmi perusahaan kapal Seniha-S Raef Sharef El-Din, serta Kuasa Hukum Perusahaan Antoine Francis.

Dalam aksi ini para pengunjuk rasa mengutuk ketidakmampuan KBRI dalam menghentikan pembajakan kapal.

Mereka juga meminta Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk turun tangan guna membuka blokir kapal dan mengembalikan mata pencaharian mereka.

“Tujuan dari aksi itu adalah agar pemerintah Indonesia melalui KBRI yang ada di sini benar-benar mendengarkan suara kami,” jelas Pemilik kapal sekaligus Direktur Operasional kapal Seniha-S, Raef Sharef El Din, Rabu (29/9/2021).

“Kami ingin pemerintah Indonesia segera membebaskan kapal Seniha-S atau dikenal juga dengan MV Neha dibebaskan dari cengkraman mafia kapal yang ada di Batam,” katanya lagi.

Raef juga berterima kasih kepada militer dan pasukan keamanan yang menyertai para demonstran serta kepada pemerintah Lebanon yang diwakili Kementerian Luar Negeri dan Kehakiman.

“Atas langkah menuju Jakarta dan Interpol Internasional untuk melindungi kepentingan kita sebagai orang Lebanon,” katanya.

Setelah melakukan aksi, akhirnya KBRI Lebanon mengizinkan pemilik kapal dan kuasa hukumnya untuk masuk ke dalam ruangan.

Saat di dalam mereka menyerahkan berkas kepada KBRI Lebanon untuk segera ditindak lanjuti.

Ketika delegasi Indonesia menganggap bahwa kasus tersebut telah dibawa ke pengadilan, para demonstran meminta pengadilan secepatnya menangkap para perompak.

Kuasa hukum pemilik kapal, Antoine Francis mengatakan pihaknya akan melakukan aksi kedua kalinya di depan KBRI Baabda.

“Hari ini, kami mengucapkan terima kasih kepada otoritas Lebanon, terutama Kementerian Kehakiman, Luar Negeri dan Emigran yang diwakili oleh dua mantan Menteri, Marie Claude Najm dan Zina Aker, atas kerja sama dan dukungan mereka untuk kami, dalam kasus yang benar,” ujarnya..

Menurut Francis, Indonesia merupakan anggota IMO, sebuah organisasi yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang melindungi hak-hak navigasi laut.

Dan apa yang terjadi terhadap kapal Sneha-S adalam merupakan pelanggaran terhadap hukum navigasi maritim dan keselamatan navigasi.

“Kami akan menindaklanjuti masalah ini dengan segala upaya kami dan kami tidak akan berhenti di titik ini. Ini juga akan menindaklanjuti melalui tuntutan hukum di PBB, karena pemilik kapal ini menanggung kerugian besar yang ditanggung oleh perusahaan,” ancamnya.

Sementarar itu, salah satu pemilik kapal sekaligus direktur operasional dan juru bicara resmi perusahaan pemilik kapal yang dibajak itu, Raef Sharef El-Din mengatakan aksi yang dilakukan pihaknya di depan KBRI Baabda merupakan bentuk kekecewaan atas penahanan pembacakan Kapal Sneha-S.

Yang akibatnya para pekerja terputus dari mata pencahariannya.

“Ketidak mampuan kami untuk membayar gaji dan iuran yang menjadi hak hukum mereka, dan hal kedua adalah tidak menanggapi kami dan tidak mengakui apa yang terjadi di kapal-kapal, dan kami menghormati pengadilan dan peradilan,” ujarnya. (rel/int/pojoksatu)