Walkot Perempuan Pertama Afghanistan Ini Ketakutan Dibunuh Taliban, “Tak Seorang Pun Akan Datang Membantu”

Zarifa Ghafari (ist)

POJOKSATU.id, KABUL –- Walikota perempuan pertama di Afghanistan Zarifa Ghafari (29) mengaku sedang ketakutan akan dibunuh Taliban. Dia merasa nyawanya terancam usai Taliban rebut Kabul.


Dilansir The Sun, Rabu (18/8/2021), Zarifa Ghafari mengaku saat ini hanya menunggu kedatangan Taliban ke rumahnya untuk membunuhnya.

Dia mengatakan, tak ada pertolongan yang datang kepadanya atau keluarganya.

“Saya duduk di sini menunggu mereka untuk datang. Tidak ada seorang pun yang datang membantu saya atau keluarga saya. Saya hanya duduk bersama keluarga saya dan suami saya. Dan mereka akan datang ke orang-orang seperti saya dan membunuh saya,” tuturnya.


Zarifa Ghafari mengungkapkan tidak bisa pergi dari Afghanistan dan meninggalkan keluarganya. Lagipula, dia juga mengaku tidak tahu akan pergi ke mana.

“Saya tidak bisa meninggalkan keluarga saya. Dan lagipula, ke mana saya akan pergi?” ujar Zarifa Ghafari.

Zarifa Ghafari merupakan perempuan yang pertama kali menjadi wali kota di Afghanistan, tepatnya di Maidan Shahr. Dia didaulat menjadi wali kota pada tahun 2018 lalu.

Zarifa Ghafari membubuhkan sejarah lantaran menjadi perempuan pertama dan termuda yang menjadi wali kota di Afghanistan.

Setelah pengangkatannya, Ghafari berkampanye untuk meningkatkan hak-hak perempuan di Afghanistan. Namun, dia menghadapi ancaman pembunuhan dari Taliban dan Isis atas pekerjaannya.

Sementara Taliban mendeklarasikan ‘amnesti’ di seluruh Afghanistan dan mendesak perempuan untuk bergabung dengan pemerintahan mereka.

Taliban berusaha meyakinkan penduduk yang khawatir kehidupan mereka berubah, pasca kekacauan mematikan dan mencengkeram di bandara utama ketika warga yang putus asa mencoba melarikan diri dari kekuasaan mereka.

Taliban telah berusaha untuk menggambarkan diri mereka sebagai lebih moderat daripada ketika mereka memberlakukan aturan brutal pada akhir 1990-an.

Tetapi banyak orang Afghanistan tetap skeptis dengan klaim itu.

Sebab, generasi tua Afghanistan masih mengingat pandangan Islam ultrakonservatif Taliban, yang mencakup pembatasan ketat terhadap perempuan serta rajam dan amputasi di depan umum.

Ibu kota Kabul sendiri saat ini terlihat tenang beberapa hari terakhir usai Taliban berpatroli di jalan-jalan. Banyak penduduk tetap di rumah karena takut.

Apalagi setelah terjadinya pengambilalihan pemerintahan, penjara dikosongkan dan gudang senjata dijarah.

Banyak perempuan telah menyatakan ketakutannya bahwa eksperimen Barat selama dua dekade untuk memperluas hak-hak perempuan dan membangun kembali Afghanistan tidak akan bertahan di bawah kekuasaan Taliban. (ral/int/pojoksatu)