0 Kasus Covid-19, Sultan Brunei Pesta Mewah

Sultan Brunei Hassanal Bolkiah

Cara Brunei Atasi Penularan Covid-19

Kasus Covid-19 di Brunei mulai terdeteksi pada 9 Maret dan mulai menyebar hingga mencapai 100 kasus dalam waktu 15 hari.


Hal ini dipicu dengan adanya seorang jemaah majelis taklim yang berkunjung ke Malaysia.

Untuk mengatasi hal ini Brunei langsung mengambil tindakan tegas dengan mengikuti aturan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


Brunei melakukan jaga jarak serta isolasi mandiri untuk warga yang terinfeksi virus Covid-19. Termasuk menutup tempat-tempat ibadah untuk menekan laju penyaluran.

Dalam menanggapi Covid-19, pemerintah Brunei dengan cepat menyusun rencana deeskalasi, anggaran khusus sebesar 15 juta dolar atau sekitar Rp 160 miliar untuk mengatasi wabah Covid-19.

Untuk mempermudah komunikasi pemerintah Brunei dengan masyarakat, memaksimalkan pemberitaan di media sosial serta televisi, yang didukung dengan layanan hotline 24 jam untuk pertanyaan seputar Covid-19.

Bagi mereka yang tidak patuh, Brunei juga menerapkan denda dan hukuman penjara.

Selain itu rezim kesultanan dianggap efektif membuat keputusan eksekutif dengan output yang efektif.

Sebagai Monarki Islam Melayu, pemerintah Brunei dianggap sensitif terhadap kebutuhan spiritual warga.

“Masjid ditutup dan dibersihkan, pertemuan lebih dari keluarga dekat dilarang sepanjang Ramadhan dan selama Hari Raya (Idul Fitri). Sementara itu, pemerintah mendorong warga Brunei untuk memperkuat dan melaksanakan zikir dan tadarus Al-Quran di rumah saat menjalani perawatan,” tulis situs web itu.

“Sebagai pemimpin politik dan agama bangsa, Sultan Bolkiah memberikan kepemimpinan moral ke publik. Bolkiah kepemimpinan tugas umat Islam untuk mengikuti jarak sosial, mengambil tindakan pencegahan, menciptakan dan melipatgandakan doa-doa mereka dan mencerminkan Al-Quran,” tulisnya.

Ia juga mengingatkan warga Brunei yang umat Islam, bahwa virus itu sendiri dikirim oleh Tuhan.

Sementara itu, menurut The Star Malaysia, salah satu kunci kesuksesan Brunei adalah kedisiplinan pemerintah dalam menerapkan kontrol perbatasan dan perjalanan manusia.

Kedisiplinan ini juga diberlakukan untuk larangan berkumpul massa, termasuk pelacakan kontak berbasis teknologi dan karantina.

Bukan hanya pemerintah, warga juga patuh. Kepatuhan warga ke pemerintah memberi dampak signifikan.

“Melalui seluruh pendekatan pemerintah dan ditambah dengan kepatuhan warga dan penduduk terhadap peraturan kesehatan dan keselamatan selama pandemi, Brunei telah secara sistematis mencabut pembatasan,” tulis media itu. (CNBC/manadopost)