Mengejutkan, Putra Raja Salman Tawarkan US$ 10 Juta untuk Tidur Semalam dengan Kim Kardashian


POJOKSATU.id, RIYADH — Putra Raja Salman, Mohammad bin Salman Al Saud membuat penawaran kepada Kanye West, suami Kim Kardashian. Menteri pertahanan kerajaan Arab tersebut bersedia membayar US$ 10 juta untuk menghabiskan satu malam dengan Kim Kardashian.

Dilansir worldnewsdailyreport.com, Rabu (8/3) penawaran tersebut, menanggapi keluhan Kanye West di Twitter pada Februari 2016 lalu. Saat itu Kanye West mengumumkan bahwa dirinya terlilit utang pribadi sebesar US$ 53 juta. Rapper Amerika tersebut tidak malu menuliskannya, bahkan ia mengaku utang tersebut karena mengikuti hasratnya di industri fashion.

Kanye bahkan sempat meminta bantuan CEO Facebook, mark Zuckerberg sebesar 1 milyar dolar agar bisa tetap berkarya di dunia musik. Ia juga mengatakan bersedia menerima uang dari Larry Page dari Google atau dermawan kaya lainnya.

Namun sayang, sejauh ini belum ada dermawan kaya yang bersedia membantu Kanye West. Hingga beberapa waktu lalu, tanggapan justru datang dari pangeran kontroversial, Mohammad bin Salman.

Worldnewsdailyreport melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Saudi, Pangeran Mohamad Bin Salman, membuat tawaran yang kontroversial saat konferensi persnya. Ia mengatakan bisa memecahkan masalah keuangan Kanye West.

Ia menawarkan akan membayar Kanye West sebesar US$ 10 juta dengan syarat ia boleh menghabiskan satu malam dengan istrinya, Kim Kardashian. Menhan kerajaan Saudi tersebut bahkan blak-blakan menyebut bahwa ia tidak peduli tentang Kanye West dan musiknya, tapi ia dengan senang hati akan membayar untuk istrinya.

“Saya sama sekali tidak tertarik dalam musiknya atau pakaiannya,” kata pangeran Mohammed kepada wartawan, “tetapi istrinya, dia adalah harta yang tak ternilai. Saya akan dengan senang hati membayar 10 juta dolar atau bahkan lebih untuk menghabiskan satu malam dengannya,” katanya.

Hingga saat ini Kanye West maupun Kim Kardashian belum memberikan tanggapan mengenai tawaran pangeran tersebut. Namun, penawaran tersebut menjadi sorotan berbagai organisasi feminis.

Dalam sebuah wawancara dengan CBS, juru bicara Women’s Liberation Action Network, Jane Austin, menyebut tawaran itu adalah bentuk penghinaan terhadap wanita di seluruh dunia, mengatakan bahwa hal itu menunjukkan bagaimana perempuan masih diperlakukan sebagai objek di beberapa wilayah tertentu di dunia.

(ra/pojoksatu)

Loading...