Presiden Turki Dikudeta Militer, Begini Sikap Amerika Serikat

President Turki, Recep Tayyip Erdogan
President Turki, Recep Tayyip Erdogan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dikudeta militer, Jumat malam (15/7/2016). Kudeta militer dilakukan ketika Presiden Erdogan sedang berada di Mongoloia.

Kudeta militer di Turki mendapat perhatian Amerika Serikat (AS). Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, mengungkapkan bahwa dirinya sudah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, terkait kudeta militer di Turki.

Dalam hal ini, AS menekankan “dukungan mutlak” terhadap jalan demokrasi di Turki, pemerintahan sipil dan lembaga-lembaga demokratis di sana.

“Amerika Serikat mengamati seksama ketegangan di Turki. Kami memonitor setiap perkembangan,” tulis Kerry dalam surat resmi Deplu AS bertanggal 15 Juli 2016.


Dalam surat itu Kerry mengaku sudah berbicara dengan Menlu Turki sekaligus untuk menyampaikan penentangan terhadap kudeta militer tersebut.

Kerry juga meminta semua pihak menjamin keselamatan para staf diplomatiknya yang berada di Turki. Pihaknya terus melakukan pengumpulan data warga negara AS yang berada di Turki.

Kerry juga meminta warga negaranya untuk tetap berada di dalam tempat tinggal atau perlindungan dan senantiasa berusaha untuk memberi kabar kepada keluarga dan teman masing-masing.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terpaksa menggunakan fitur video chat iPhone, FaceTime, untuk berbicara mengenai kondisi darurat di negaranya.

Dia menggunakan FaceTime dalam sebuah wawancara dengan CNN Turk, mitra jaringan CNN di Turki.

Wawancara berlangsung live di tengah malam waktu setempat di Turki dengan Kepala cabang CNN Turk di Ankara, Hande Firat.

“Pergi ke jalan-jalan dan beri mereka (militer) jawaban,” ucap Erdogan dalam wawancara yang diliput langsung oleh media di sana.