ISIS di Indonesia Sasar Remaja dan Libatkan Biro Travel

ISIS
Ilustrasi

ISIS di Indonesia, Rekrutmen ISIS

POJOKSATU.id, JAKARTA – Adanya rombongan warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan aparat Turki dalam perjalanan menuju wilayah ISIS menguatkan dugaan, kelompok radikal itu mengincar Indonesia. Bahkan, Mabes Polri memastikan adanya seorang perekrut anggota ISIS yang masih berkeliaran di Indonesia.

Wakil Kepala Polri Komjen Badrodin Haiti menyebutkan, keberadaan perekrut anggota ISIS yang dipastikan WNI itu sudah terpantau. Menurutnya, rekrutmen ISIS di Indonesia bersifat tertutup.

Meski begitu, Polri berhasil mendeteksi ada satu orang yang bertugas merekrut. ”Dia masih di Indonesia. Polri belum menangkapnya,’’ ungkapnya di
Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (14/3/2015).


Badrodin menyatakan, Polri menargetkan menangkap perekrut tersebut secepatnya. Hal itu penting dilakukan untuk menelusuri rantai rekrutmen ISIS. ”Tidak perlu saya jelaskan siapa orangnya secara detail,’’ ujarnya.

Sebelumnya, dia mengungkapkan, ada satu keluarga yang berangkat ke Turki dalam rombongan 16 WNI untuk menyusul suaminya yang mungkin berada
di kelompok ISIS. Bahkan, masih ada kemungkinan bertambahnya keluarga yang berangkat ke Turki.

”Antara lain berasal dari Jawa Timur dan Jawa Barat,’’ katanya.
ISIS di Indonesia, Rekrutmen ISIS

REMAJA SASARAN REKRUTMEN ISIS

Sementara itu, arus warga negara Indonesia (WNI) bergabung dengan ISIS ternyata tidak hanya menjangkiti warga yang berdomisili di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) mendeteksi adanya pelajar-pelajar Indonesia yang belajar di wilayah Timur Tengah juga mulai bergabung dengan ISIS. Jumlahnya pelajar yang bergabung dengan ISIS masih belum bisa dihitung.

Tim ahli BNPT Wawan Hari Purwanto menuturkan, ada sejumlah pelajar Indonesia yang telah bergabung dengan ISIS. Sesuai data BNPT mereka merupakan
pelajar Indonesia yang belajar di Yaman, Sudan, Arab Saudi, dan Mesir.

“Pelajar-pelajar di kawasan Timur Tengah (Timteng),” tuturnya.

Kisaran umur pelajar itu antara 20 tahun hingga 25 tahun. Mereka merupakan sasaran empuk ISIS untuk diajak bergabung. Dalam umur yang sangat
muda ini, mereka masih mencari jati diri dan memiliki semangat yang besar.

“Mereka tidak memiliki tanggungan sehingga bisa dibilang memiliki kenekatan,” paparnya ditemui di kantornya.

BNPT mulai mendeteksi arus pelajar Indonesia bergabung dengan ISIS beberapa bulan yang lalu. Dengan itu, BNPT berupaya untuk mengantisipasinya. Caranya, dengan bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang ada di setiap negara di Timur Tengah.

“Dengan mereka kami berkampanye agar bisa mencegah pelajar bergabung,” jelasnya.

Namun, kesulitannya ada banyak pelajar Indonesia yang tidak tergabung dalam sebuah forum pelajar. Sehingga, para pelajar ini kurang terdeteksi.
“Inilah yang sedang kami upayakan, semoga para orang tua yang menyekolahkan anaknya di luar negeri bisa lebih waspada mengawasi
anaknya,” ujarnya.

BNPT sendiri memprediksi jumlah WNI yang telah bergabung dengan ISI mencapai 500 orang. Ratusan orang itu campuran dari pelajar hingga orang yang telah berkeluarga. “Perlu ditegaskan, ratusan orang ini sebenarnya bukan musuh. Namun, harus kita ajak untuk berkomunikasi sehingga bisa mengerti satu sama lain,” terangnya.

Sebenarnya, sebelum isu soal ISIS merebak, sudah banyak orang yang keluar masuk dari wilayah ISIS dan Indonesia. Mereka merupakan warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Namun, awalnya memang tidak ada masalah.

“Hanya, setelah isu merebak timbulah kekhawatiran,” ujarnya.

Kekhawatiran itu ada bila mempelajari dari aksi terorisme yang terjadi selama ini di Indonesia.

Misalnya, Bom Bali I dan II, kejadian tersebut dilakukan oleh alumni dari Afghanistan. Yang awalnya berperang dengan Uni Soviet lalu menjadi musuh Amerika Serikat.

“Masalah ini berdampak ke seluruh dunia, yang dikhawatirkan para alumni ISIS juga bisa melakukan hal yang sama. Tapi, seharusnya ini bisa diantisipasi,” terang Wawan.

ISIS di Indonesia, Rekrutmen ISIS
MODUS REKRUTMEN ISIS

Misalnya, jangan memperlakukan setiap orang yang ingin bergabung dengan ISIS itu musuh. Lalu, mencegah berbagai upaya ajakan dari anggota ISIS, selain oknum yang berkeliaran di Indonesia.

ISIS juga merekrut anggota melalui berbagai media social dan internet. Seperti, situs tertentu, Facebook, dan Twitter.

“Kami telah bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) agar menutup situs seperti itu,” jelasnya.

Terkait 16 WNI yang tertangkap di Turki, dia menuturkan bahwa kepala BNPT Saud Usman sedang ke Turki untuk mengetahui bagaimana yang sebenarnya terjadi.

“Masih belum ada perkembangan,” tuturnya.

Sementara Kepala BIN Marciano Norman menuturkan, modus terbaru untuk bisa bergabung dengan ISIS memang dengan menggunakan biro perjalanan.
Untuk itu, BIN sedang menyelidiki kemungkinan terlibatnya biro perjalanan tersebut.

“Masih pendalaman,” ujarnya. Modus menggunakan biro perjalanan ini, mirip dengan apa yang dilakukan mafia TKI untuk mengirim tenaga kerja ilegal.

“Kami akan juga mendeteksi cara rekrutmen lain, tapi belum bisa diungkap,” ujarnya.

Yang jelas, saat ini BIN sedang mengidentifikasi WNI yang tertangkap di Turki. Hal tersebut menjadi penting untuk mengetahui penyebab sebenarnya
mereka bergabung.

“Prediksinya memang ada iming-iming mendapat uang dan lainnya,” tuturnya. (idr/rb/ps)