Insiden ‘Kacang’ Perempuan Korea Pemalukan Bangsa

Putri CEO Korean Air Cho Hyun-ah tertunduk malu di hadapan awak media di Seoul, Korsel, usai "Insiden Kacang" dalam penerbangan dari New York ke Seoul - AFP / YONHAP
Putri CEO Korean Air Cho Hyun-ah tertunduk malu di hadapan awak media di Seoul, Korsel, usai "Insiden Kacang" dalam penerbangan dari New York ke Seoul - AFP / YONHAP
Putri CEO Korean Air Cho Hyun-ah tertunduk malu di hadapan awak media di Seoul, Korsel, usai “Insiden Kacang” dalam penerbangan dari New York ke Seoul – AFP / YONHAP

POJOKSATU – Insiden ‘kacang’ perempuan Korea Selatan dianggap sangat memalukan bangsanya. ‘Insiden Kacang’ atau ‘Nut Rage’ ini menjadi pemberitaan dunia. Sebagian pihak di Korsel menyebut Cho Hyun-ah telah mempermalukan nama bangsanya di mata dunia internasional. Demikian seperti ditulis AFP, Kamis (12/02).

Perilaku kurang terpuji putri pemilik maskapai Korea Airlines ini dibenci karena ia tidak menunjukkan rasa bersalah meski sudah divonis satu tahun penjara oleh pengadilan distrik Seoul Korea Selatan.

“Cho telah membuat pesawat itu seperti jet pribadinya,” tutur Hakim Oh Sung-woo, seperti dilansir AFP.

Dalam pembacaan vonis, hakim menyebut Cho tidak memperlihatkan rasa menyesal atas aksinya, walau sudah menyerahkan surat permohonan maaf ke pengadilan.


Citra keluarga Cho kembali tercoreng setelah salah satu adiknya, yang juga pegawai Korea Air, mengirim pesan pada sang kakak bahwa dirinya akan membalas dendam atas semua perlakuan ini. Adik Cho meminta maaf tak lama setelahnya.

Ayah Cho, pemimpin utama Korea Air mengaku sangat malu atas kelakuan anaknya. Kementerian Transportasi Korsel berencana menghukum Korean Air lewat larangan sejumlah rute atau denda USD2 juta.

Kementerian Transportasi juga akan menghukum delapan petinggi Korean Air yang mengaku sudah memberikan keterangan palsu untuk membantu Cho dan perusahaan.

Insiden kacang tersebut terjadi ketika Cho marah besar saat menerima kacang macadamia dari awak pesawat. Cho merasa tidak pernah memesan kacang, dan juga geram karena diberikan dalam kantung, bukan mangkuk.

Tim jaksa penuntut umum meminta Cho dihukum tiga tahun penjara atas berbagai pasal, yakni melanggar keamanan penerbangan, mengganggu penyelidikan dan menyerang seorang kru pesawat.

Ditahan sejak 30 Desember lalu, Cho mengaku tidak bersalah atas semua tuntutan, termasuk menyakiti kepala staf pesawat, Park Chang-jin. Park mengaku diminta berlutut dan memohon maaf, kemudian dihantam Cho dengan sebuah buku manual.(wil/ril)