Charlie Hebdo Bersampul Kartun Nabi Muhammad, Dicetak Lagi 5 Juta Eksemplar

FRANCE-ATTACKS-CHARLIE-HEBDO-MAGAZINE-NEWSAGENTS

Jutaan lembar majalah mingguan Perancis Charlie Hebdo sedang dicetak setelah cetakan pertama terjual habis dalam hitungan jam.

Majalah satire Charlie Hebdo kembali terbit pada Rabu (14/1) setelah penyerangan maut terhadap kantor redaksi mereka, Rabu pekan lalu, yang menewaskan 12 orang.

Tampaknya majalah itu tidak kapok, karena mereka kembali menampilkan kartun Nabi Muhammad dalam sampul depan edisi terbarunya.


Dikabarkan BBC bahwa lima juta eksemplar majalah itu sedang diproduksi kembali. Jumlah itu meningkat dari jumlah tiga juta eksemplar. Padahal biasanya majalah itu hanya mencetak 60 ribu eksemplar per pekan.

Tentu saja terbitan terbaru majalah satire itu kembali membuat marah kaum Muslim karena menggambarkan Nabi Muhammad pada sampulnya.

Sebuah video yang kabarnya dikirimkan Al Qaeda di Yaman, menegaskan bakal ada serangan susulan terhadap Charlie Hebdo. Jurubicara Departemen Luar Negeri AS, Marie Harf, meyakini video tersebut otentik.

Kartun Nabi Muhammad yang ditampilkan kali ini digambarkan seda menangis sambil memegang papan bertuliskan “Je suis Charlie” (Saya Charlie), di bawah judul “semua dimaafkan”.

Pesan “Saya Charlie” adalah bentuk dukungan moral terhadap majalah tersebut menyusul serangan bersenjata pada Rabu pekan lalu, yang menewaskan 12 orang terdiri dari para awak redaksi dan dua orang polisi.

Dua hari setelah penyerangan itu, seorang pria bersenjata bernama Amedy Coulibaly menewaskan empat orang Yahudi dalam penyanderaan di sebuah toko. Amedy diyakini telah menembak polisi wanita hingga tewas sehari sebelumnya.

Sementara itu, Presiden Perancis, Francois Hollande, menegaskan bahwa majalah tersebut akan terus beredar di masyarakat.

“Charlie Hebdo masih hidup dan akan hidup. Anda bisa membunuh pria dan wanita, tetapi Anda tidak akan pernah membunuh ide-ide mereka,” tegas Holande.

Di sisi lain, situs-situs Islam militan dan kritik dari dunia Islam berdatangan mengarah ke terbitan terbaru majalah itu. Kelompok Negara Islam (ISIS) mengatakan hal itu sebagai “tindakan yang sangat bodoh”. (ps)