Fuad Amin Anggap Suap sebagai Rezeki

Fuad Amin
Fuad Amin
Fuad Amin

POJOKSATU – Mantan Ketua DPRD Bangkalan Fuad Amin Imron untuk kali pertama memberikan kesaksian di hadapan publik. Senin (23/3) dia dihadirkan sebagai saksi untuk persidangan penyuapnya, Antonio Bambang Djatmiko (direktur PT Media Karya Sentosa/MKS).

Dalam kesempatan tersebut, Fuad memberikan pernyataan mengejutkan. Dia menganggap uang dari PT MKS merupakan rezeki. Pengakuan Fuad itu tertuang dalam BAP yang dibacakan jaksa. Fuad mengaku hanya menerima uang Rp 5 miliar di antara total yang didakwakan Rp 18,85 miliar. Penerimaan uang itu terjadi pada 2014. Menurut dia, uang lainnya masuk ke rekening Perusahaan Daerah Sumber Daya (PDSD). BUMD itu bekerja sama melakukan jual beli gas di Bangkalan dengan PT MKS.

’’Saya tidak melaporkan pemberian itu ke KPK karena saya anggap itu rezeki dari Allah,’’ pengakuan Fuad dalam BAP yang dibacakan jaksa. Fuad mengakui, uang tersebut diberikan PT MKS karena dirinya telah membantu perusahaan itu menjalin kerja sama jual beli gas alam di Bangkalan.

Meski mengakui menerima uang, Fuad beberapa kali terkesan menyeret bawahannya, Abdul Hakim. Dia merupakan Kabag Perekonomian Pemkab Bangkalan sekaligus direktur PDSD. Abdul Hakim ternyata juga adik mantan Ketua BPK Hadi Purnomo. Hadi saat ini juga berstatus tersangka di KPK atas kasus korupsi pemberian keringanan pajak PT BCA pada 2004.


Terungkapnya Abdul Hakim sebagai kerabat Hadi Purnomo terjadi saat Fuad ditanya kuasa hukum Antonio Bambang Djatmiko. Saat itu Fuad ditanya mengapa tidak mengganti atau memutasi Abdul Hakim, padahal tahu kerja sama PT MKS dan PDSD tidak beres. ’’Saya sungkan kepada Pak Abdul Hakim. Sebab, dia adiknya Pak Hadi Poernomo yang pernah dititipkan kepada saya,’’ jawabnya.

Fuad menyebut selama ini yang tahu soal pembagian keuntungan dan pemberian uang dari PT MKS memang Abdul Hakim. Bupati Bangkalan dua periode itu menyebut Abdul Hakim kunci dari pelaksanaan kerja sama antara PDSD dan PT MKS.

Ketua majelis hakim Prim Haryadi beberapa kali menegur Fuad karena sering melempar masalah kepada Abdul Hakim. ’’Anda jangan melempar ke orang lain. Jawab saja dengan jujur,’’ ujar hakim. ’’Saya bersedia dikonfrontasi. Untuk urusan teknis kerja sama jual beli gas, yang paling tahu memang Sekda dan Kabag Perekonomian,’’ jawabnya.

Pada persidangan sebelumnya, Abdul Hakim memberikan kesaksian bahwa uang setoran dari PT MKS ke PDSD masuk lewat enam rekening. Nah, salah satu rekening tersebut dikhususkan bagi Fuad Amin. Pengakuan tersebut didukung Abdul Razak, mantan direktur PDSD.

Dalam perkara tersebut, Fuad Amin ditetapkan sebagai tersangka setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap Antonio Bambang. Ketika itu Antonio hendak menyerahkan uang setoran bulanan kepada Fuad via Abdul Rouf (ipar Fuad).

Dalam dakwaan Antonio disebutkan PT MKS memberikan suap secara rutin kepada Fuad Amin selama 2009–2014. Total uang yang diterima Fuad Rp 18,85 miliar. Uang itu, antara lain, berasal dari setoran rutin Rp 50 juta per bulan.

Dalam perjalanannya, nilai setoran rutin untuk Fuad dari PT MKS terus naik. Fuad meminta uang jatah bulanan dinaikkan menjadi Rp 200 juta. Bahkan, sejak Januari 2014, setoran rutin itu naik menjadi Rp 700 juta per bulan. (gun/c6/kim/dep)