POJOKSATU.ID - Ancaman fenomena El Nino yang diprediksi memicu musim kemarau lebih panjang mulai membuat sebagian masyarakat waspada.
Bahkan, di beberapa daerah, isu kenaikan harga pangan sudah lebih dulu bikin warga khawatir.
Eh, jangan sampai panik dulu, ya.
Pemerintah justru menyiapkan strategi khusus lewat Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman sekaligus mencegah fenomena panic buying saat musim panas atau kemarau ekstrem berlangsung.
Baca Juga: Gubernur Kalteng Ajak Mahasiswa Turun Langsung, Siapkan Kursi Staf Khusus untuk Kawal Program Daerah
Langkah ini dinilai penting karena pengalaman sebelumnya menunjukkan, ketakutan masyarakat sering kali justru memicu lonjakan harga lebih cepat dibanding dampak iklim itu sendiri.
Fenomena El Nino dikenal mampu mengurangi curah hujan di Indonesia.
Dampaknya? Produksi pertanian bisa menurun karena kekurangan air, terutama pada komoditas strategis seperti beras, cabai, dan sayuran.
Nah, ketika kabar kemarau panjang mulai terdengar, biasanya muncul reaksi spontan masyarakat membeli bahan pokok dalam jumlah besar.
Baca Juga: Siap-Siap Kemarau Ekstrem? El Nino 2026 Ancam Indonesia, Ini Langkah Penting yang Harus Dilakukan
“Duh, nanti susah beras,” atau “stok dulu sebelum mahal,” ungkapan seperti ini sering muncul dan akhirnya menciptakan kepanikan pasar.
Padahal, lonjakan permintaan mendadak justru membuat distribusi terganggu dan harga ikut melonjak.
Melihat potensi tersebut, pemerintah melalui berbagai instansi pangan menggencarkan Gerakan Pangan Murah di banyak daerah.
Program ini menghadirkan bahan pokok dengan harga lebih terjangkau langsung kepada masyarakat.
Biasanya digelar di lapangan terbuka, kantor desa, hingga pusat keramaian agar mudah diakses warga.
Komoditas yang dijual pun lengkap, mulai dari:
- Beras
- Minyak goreng
- Gula pasir
- Telur ayam
- Cabai dan bawang
- Produk pangan lokal
Tujuannya sederhana tapi krusial: memastikan masyarakat tetap bisa membeli kebutuhan pokok tanpa rasa takut kehabisan.
Secara psikologis, panic buying muncul karena rasa tidak pasti.
Baca Juga: Belanja Pegawai Masih Aman, PPPK Semarang Dipastikan Tidak Kena PHK
Ketika satu orang membeli banyak, orang lain ikut-ikutan.
Akhirnya stok di pasar terlihat menipis meski sebenarnya pasokan masih tersedia.
Nah loh, di sinilah masalahnya.
Fenomena ini bisa menyebabkan:
- Harga naik tidak wajar
- Distribusi terganggu
- Kelompok rentan kesulitan membeli pangan
- Spekulasi pasar meningkat
Baca Juga: Hari Pertama Masuk Sekolah di Kota Bandung, Siswa Halal Bihalal dan Bangun Lagi Semangat Belajar
Karena itu, Gerakan Pangan Murah bukan sekadar program ekonomi, tapi juga strategi menjaga stabilitas sosial.
Meski pemerintah menyiapkan stok dan distribusi, keberhasilan menjaga stabilitas pangan tetap bergantung pada perilaku masyarakat.
Ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan:
1. Belanja sesuai kebutuhan
Tidak perlu menimbun bahan pokok berlebihan.
2. Pantau informasi resmi
Jangan mudah percaya kabar kenaikan harga yang belum tentu benar.
3. Manfaatkan program pangan murah
Selain hemat, juga membantu menjaga keseimbangan pasar.
4. Dukung pangan lokal
Konsumsi produk lokal membantu petani tetap bertahan saat musim kering.
Kadang memang sulit menahan rasa khawatir, apalagi kalau berita soal kemarau ekstrem terus bermunculan.
Tapi faktanya, sistem pangan nasional sudah dirancang dengan cadangan dan intervensi harga.
El Nino memang tantangan nyata, tetapi bukan berarti krisis pasti terjadi.
Justru melalui langkah antisipasi seperti Gerakan Pangan Murah, pemerintah berusaha memastikan rantai pasok tetap berjalan.
Menariknya, program ini juga menjadi momentum edukasi masyarakat bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga pola konsumsi yang bijak.
Jadi, daripada panik dan borong berlebihan, lebih baik tetap tenang dan belanja secukupnya.
Baca Juga: Gaji PPPK Terancam Aturan Baru 2027! Pemkab Majalengka Akui Belanja Pegawai Sudah Over 30 Persen
Toh, ketika distribusi terjaga dan masyarakat kompak, harga pangan pun bisa tetap stabil.
Ya, kadang solusi terbesar bukan pada seberapa banyak stok yang kita simpan, tapi seberapa bijak kita menyikapi situasi.***

