POJOKSATU.ID - Generasi muda menjadi kelompok paling rentan terdampak ketakutan ekonomi digital yang menyebar luas di media sosial.

Di tengah derasnya arus informasi tentang ancaman krisis, PHK massal, dan kenaikan harga, anak muda menjadi audiens yang paling sering terpapar konten viral bernada cemas dan spekulatif.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, anak muda hidup hampir sepenuhnya di ruang digital.

Informasi ekonomi tidak hanya datang dari berita resmi, tetapi juga dari potongan video singkat, unggahan anonim, hingga opini tanpa konteks yang beredar cepat di lini masa.

Baca Juga: Ekonomi Tak Benar-Benar Lumpuh, Tapi Rasa Takut yang Menyetop Aktivitas Ketika Panik 7 Hari

Akibatnya, rasa cemas terbentuk bukan dari pengalaman langsung, melainkan dari paparan narasi yang berulang.

Ketakutan soal PHK menjadi salah satu isu paling dominan.

Banyak konten viral menggambarkan dunia kerja sebagai ruang yang tidak aman, penuh ketidakpastian, dan mudah runtuh sewaktu-waktu.

Bagi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja atau sedang merintis karier, narasi ini memicu kecemasan berlebih tentang stabilitas hidup mereka.

Baca Juga: Pesawat ATR 400 Hilang Kontak, Inilah Deretan Kasus Hilang Kontak Paling Menggegerkan di Indonesia Kembali Disorot

Selain ancaman kehilangan pekerjaan, isu kenaikan harga dan biaya hidup juga memperkuat rasa takut.

Anak muda yang belum memiliki aset atau tabungan besar merasa masa depan ekonomi mereka semakin sempit.

Ketika narasi krisis terus muncul di media sosial, rasa optimisme perlahan tergeser oleh kekhawatiran jangka panjang.

Psikolog sosial menilai ketakutan ekonomi digital berdampak langsung pada pengambilan keputusan anak muda.

Banyak yang menunda pindah kerja, mengurungkan rencana menikah, bahkan memilih menahan konsumsi meski kebutuhan sebenarnya masih dapat terpenuhi.

Keputusan-keputusan ini diambil bukan semata karena kondisi ekonomi riil, tetapi karena rasa takut yang terbentuk secara kolektif.

Fenomena ini juga memengaruhi kesehatan mental.

Doomscrolling, atau kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita buruk, membuat anak muda merasa terjebak dalam situasi yang tampak gelap dan tidak memiliki jalan keluar.

Baca Juga: TPG Guru Tak Cair Bukan Karena Jam Mengajar, Ini Faktor Administrasi yang Sering Terabaikan

Kecemasan finansial berubah menjadi tekanan psikologis yang berdampak pada produktivitas dan kepercayaan diri.

Di sisi lain, ketakutan ekonomi digital juga membentuk pola konsumsi baru.

Anak muda cenderung lebih berhati-hati, memilih menyimpan uang, dan menghindari pengeluaran yang dianggap tidak mendesak.

Meski terlihat bijak, pola ini jika terjadi secara massal dapat memperlambat perputaran ekonomi, terutama di sektor yang bergantung pada konsumsi generasi muda.

Baca Juga: Bukan Ditentukan BKPSDM, Penempatan PPPK Paruh Waktu dan Penuh Waktu Nias Selatan Ditentukan Oleh OPD

Pakar komunikasi digital menilai algoritma media sosial berperan besar dalam memperparah situasi.

Konten yang memicu emosi kuat, terutama rasa takut, lebih mudah mendapatkan perhatian dan dibagikan.

Tanpa disadari, ketakutan menjadi komoditas digital yang terus direproduksi.

Yang jarang disadari, generasi muda sebenarnya tidak selalu menghadapi krisis nyata.

Banyak indikator ekonomi masih bergerak, lapangan kerja tetap ada, dan aktivitas usaha berjalan.

Namun, ketika persepsi negatif mendominasi ruang digital, anak muda bertindak seolah krisis sudah terjadi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal literasi informasi dan ketahanan mental generasi muda.

Tanpa kemampuan menyaring informasi dan menjaga jarak dari narasi berlebihan, ketakutan digital berpotensi menggerus optimisme generasi produktif.

Pada akhirnya, generasi muda bukan hanya korban ekonomi, tetapi juga korban narasi.

Baca Juga: Efek Domino Makan Bergizi Gratis, Bermula di Sekolah, Memperkaya UMKM dan Petani Lokal

Ketika rasa takut terus dibiarkan tumbuh di ruang digital, masa depan yang seharusnya penuh peluang justru dibayangi kecemasan yang belum tentu sepenuhnya nyata.***