POJOKSATU.id - Dosen Program Studi Biologi FMIPA Universitas Jember (UNEJ) menemukan 2 jenis tanaman pra sejarah 65 juta tahun lalu di Ijen Geopark, Banyuwangi.

2 jenis tanaman prasejarah tersebut ditemukan tepatnya ditemukan di wilayah Erek-erek Geoforest.

Setelah dilakukan penelitian, kedua tanaman jenis paku-pakuan tersebut yakni Cyathea Contaminas dan Cyathea Orientalis.

Baca Juga: Peserta UTBK 2026 Wajib Cek! Jadwal Sesi Siang Berbeda, Terlambat Langsung Gugur

Yang cukup mencengangkan, jenis tanaman paku pohon atau paku tiang dari marga Cyathea ini tergolong tanaman zaman prasejarah karena diperkirakan sudah ada di bumi semenjak 65 juta tahun yang lalu!

Kedua tanaman prasejarah tersebut ditemukan tumbuh subur di Erek-erek Geoforest yang berada di ketinggian antara 1.600 hingga 1.700 Mdpl.

Wilayah penemuan tanaman prasejarah tersebut berada dalam kawasan Perhutani Wilayah Barat Banyuwangi.

Menurut salah satu peneliti FMIPA UNEJ, Prof. Hari Sulistyowati, timnya bahkan menemukan banyak paku pohon yang tingginya mencapai enam hingga sepuluh meter seperti pohon kelapa.

Kondisi ini dimungkinkan karena lingkungan Erek-erek Geoforest yang masih alami, kelembaban tinggi, kanopi pohon yang rapat dan limpahan sumber air.

Kelestarian hutan di wilayah Erek-erek juga karena kondisi topografinya yang seperti dibentengi bentang alam Gunung Rante.

Baca Juga: Ramai Dipakai untuk Konsultasi Kesehatan, Seberapa Aman ChatGPT dan AI Lainnya?

Prof. Hari Sulistyowati menduga, bentang alam ini yang melindungi wilayah Erek-erek dari letusan Gunung Ijen purba pada masa lalu.

Karena itu, kawasan tersebut kondisinya masih sangat terjaga dan rimbun seperti ribuan tahun yang lalu.

"Ketika kami memulai riset di Erek-erek Geoforest, kami takjub dengan kondisi alamnya, seperti sedang masuk ke hutan di era dinosaurus," ungkap Prof. Hari Sulistyowati dilansir pojoksatu.id dari laman resmi Unej, Selasa 21 April 2026.

Peneliti Biologi FMIPA UNEJ mulai meneliti di Ijen Geopark semenjak tahun 2020 silam.

Keberadaan paku pohon yang masuk tumbuhan purba beserta lingkungan pendukungnya ini tentu saja menarik untuk dikaji.

Baca Juga: Polling MBG Siapapun Bisa Bersuara, Apakah Sudah Tepat Sasaran?

Saat ini para ahli Biologi FMIPA UNEJ terus meneliti. Seperti yang dilakukan oleh dua dosen, Fuad Bahrul Ulum dan Dwi Setyati.

Keduanya berusaha mendeskripsikan dan meneliti morfologi paku pohon.

Mulai dari tinggi batang, warna sisik, bentuk spora hingga bagaimana perkembangbiakannya.

Baca Juga: Dana BOSP Kini Bisa untuk Gaji PPPK Paruh Waktu Berdasarkan SE Mendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026

Diharapkan hasil penelitian akan menambah khazanah pengetahuan mengenai tumbuhan paku pohon yang merupakan fosil hidup karena bentuknya yang hampir tidak berubah sejak zaman prasejarah.

Prof Hari menyebut, pihaknya juga melakukan penelitian kekayaan sumber daya alam lainnya di Erek-erek Geoforest.

Mulai dari lingkungan, tanaman hingga hewan yang ada di kawasan tersebut.

Baca Juga: Longsor TPST Bantargebang Tewaskan 7 Orang, Eks Kadis LH Jakarta Ditetapkan Tersangka

"Karena memang sungguh luar biasa sehingga bisa menjadi sumber pengetahuan dan peluang riset lanjutan," imbuh Wakil Dekan I FMIPA ini.

Tidak heran jika kemudian wilayah Erek-erek Geoforest tergolong High Conservation Value (HCV) atau Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT).

KBKT adalah konsep identifikasi nilai biologis, ekologis, sosial, atau budaya yang sangat signifikan di suatu wilayah.

KBKT digunakan untuk melindungi keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, dan kebutuhan masyarakat. Begitu pentingnya sehingga semua pihak harus turut menjaga kelestariannya.

"Karena itu, kondisi Erek-erek Geoforest harus kita jaga bersama, sebab harta yang tak ternilai bagi wilayah Tapal Kuda," tandas Prof. Hari Sulistyowati.***