BOGOR.POJOKSATU.id - Realita rupiah melemah semakin membuat banyak reaksi dari masyarakat. Hingga hari ini, rupiah masih bertahan di kisaran Rp18.000 per dolar AS, level terburuk sepanjang sejarah mata uang Garuda.
Di tengah kekhawatiran yang meluas, pernyataan mengejutkan justru datang dari orang nomor satu di Indonesia.
Saat meresmikan 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, 16 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto berkata, "Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, nggak usah kau khawatir. Mau dolar berapa ribu kek, kalian di desa-desa nggak pakai dolar."
Pernyataan itu langsung memantik perdebatan. Benarkah warga desa benar-benar aman dari guncangan nilai tukar?
Baca Juga: Tak Hanya Kurangi Emisi, PT ANI Kembalikan Habitat Burung Langka di Kawasan Industri Bekasi
Dolar Tidak Dipakai, tapi Harganya Tetap Terasa
Secara harfiah, Prabowo tidak salah. Warga di pelosok desa memang tidak pernah memegang lembaran dolar dalam transaksi sehari-hari.
Mereka membayar beras, sayur, dan bensin dengan rupiah. Namun di sinilah letak kerancuannya, tidak memakai dolar bukan berarti tidak terdampak dolar.
Faktanya, meski warga desa tidak pernah menyentuh selembar uang dolar pun, dampak pelemahan rupiah tetap merayap masuk ke dapur mereka, lewat jalur yang lebih senyap melalui naiknya harga barang.
Baca Juga: Pertamina Investigasi Insiden Mobil Tangki Terbakar di Tol Cisumdawu, Stok BBM Dipastikan Aman
Sebagian besar kebutuhan pokok dan sarana produksi pertanian di Indonesia masih bergantung pada impor yang dibayar menggunakan dolar AS. Ketika rupiah melemah, semua rantai itu ikut bergetar:
- Kedelai impor naik: harga tempe dan tahu melonjak, padahal keduanya adalah protein murah andalan masyarakat desa.
- Pupuk impor mahal: biaya tanam petani membengkak, sementara harga jual gabah belum tentu ikut naik.
- Pakan ternak impor terkerek: peternak ayam dan sapi kecil merugi, atau terpaksa mengurangi populasi ternak.
- BBM dan LPG tertekan: ongkos transportasi barang naik, dan ujungnya harga di pasar kecamatan ikut naik.
- Obat-obatan impor lebih mahal: beban kesehatan warga miskin bertambah, di saat yang sama daya beli mereka sedang tergerus.
Kenaikan biaya ini tidak muncul tiba-tiba di warung desa. Ia bergerak perlahan melalui rantai panjang: dari pelabuhan, ke gudang, ke distributor, ke truk, ke pasar kecamatan, ke kios tani lalu akhirnya sampai di meja makan warga desa dalam wujud harga yang lebih mahal.
Baca Juga: Nilai Barang Bukti Rp17,5 Miliar, Deretan Mobil Mewah Kasus Pemerasan Wamen Silmy Karim Buat Melongo
Pakar Ekonomi: Mereka Hidup dalam Sistem yang Dipengaruhi Dolar
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai pernyataan Prabowo memang bertujuan menenangkan psikologi publik. Namun ia menegaskan, ketenangan publik tidak boleh dibangun dengan penyederhanaan masalah.
"Masyarakat desa memang tidak memakai dolar di pasar, warung, sawah, atau kandang ternak. Meski begitu, mereka tetap hidup dalam sistem harga nasional yang sangat dipengaruhi dolar," ujarnya, Minggu, 17 Mei 2026.
Senada, pengamat ekonomi lain mengingatkan bahwa persoalan utamanya bukan soal siapa yang memegang dolar. Nilai tukar tetap memengaruhi harga pupuk, bahan bakar, pakan ternak, obat-obatan, mesin pertanian, hingga sebagian bahan pangan yang dikonsumsi setiap hari oleh warga desa.
Artinya, masyarakat desa tetap terkena dampaknya meski tidak pernah melihat dolar secara fisik.



