POJOKSATU.ID - “Awalnya masih aktif, tiba-tiba hilang…” kalimat ini makin sering terdengar di lingkungan kampus.

Bukan karena drop out (DO), bukan juga cuti resmi. Tapi benar-benar hilang begitu saja.

Fenomena mahasiswa “menghilang diam-diam” kini jadi cerita sunyi yang jarang dibahas, tapi nyata terjadi.

Dan yang bikin miris, salah satu penyebab utamanya adalah tunggakan UKT.

Baca Juga: Krisis UKT Melanda Mahasiswa, Dari PTN hingga PTS, Lalu Apa Langkah Pemerintah?

Duh… berat banget, ya.

Di balik data angka tunggakan yang terus meningkat, ternyata ada sisi lain yang lebih dalam soal mental, rasa malu, dan tekanan yang nggak semua orang bisa lihat.

Beberapa mahasiswa memilih pergi tanpa pamit.

Tidak lagi masuk kelas, tidak menghubungi dosen, bahkan menghindari teman-temannya.

Baca Juga: Viral Ahmad Sahroni Relakan Gaji DPR Rp67 Juta per Bulan, Semua Disumbangkan untuk Rakyat

Seolah lenyap dari kehidupan kampus.

“Bukan nggak mau lanjut, tapi malu…,” ungkap seorang mahasiswa yang memilih berhenti tanpa pemberitahuan.

Nah, di sinilah letak persoalannya. UKT bukan cuma soal biaya, tapi juga harga diri.

Banyak mahasiswa yang merasa gagal ketika tidak mampu membayar kuliah.

Apalagi kalau berasal dari keluarga dengan harapan besar.

Tekanan itu pelan-pelan menumpuk, sampai akhirnya… memilih diam dan menghilang jadi jalan keluar.

Eh, tapi ini bukan solusi, lho.

Sayangnya, tidak semua kampus memiliki sistem deteksi dini untuk mahasiswa yang mulai “menghilang”.

Baca Juga: Duh! Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Diselidiki, Ada Dugaan Penculikan?

Akibatnya, banyak kasus baru terdeteksi setelah mahasiswa benar-benar tidak aktif dalam waktu lama.

Padahal, kalau ditelusuri sejak awal, mungkin masih bisa dicari jalan keluarnya.

Fenomena ini juga diperparah dengan minimnya ruang curhat.

Mahasiswa sering merasa sendirian menghadapi masalah finansial.

Baca Juga: Viral Penumpang Bawa Toa di Kereta, Suasana Tenang Mendadak Jadi Rame

Takut dinilai, takut dianggap lemah, bahkan takut mengecewakan orang tua.

Akhirnya? Dipendam sendiri.

“Capek harus pura-pura baik-baik saja,” kata seorang mahasiswa lainnya.

Waduh… nyesek banget dengarnya.

Di sisi lain, dosen dan teman-teman sering kali tidak menyadari perubahan tersebut.

Absensi yang kosong dianggap biasa, padahal bisa jadi itu sinyal bahaya.

Pengamat pendidikan menyebut fenomena ini sebagai “silent dropout” kondisi di mana mahasiswa berhenti tanpa proses administratif yang jelas.

Dan ini bukan sekadar angka, tapi soal masa depan yang terhenti diam-diam.

Pemerintah sebenarnya sudah memiliki program bantuan seperti KIP Kuliah dan berbagai beasiswa.

Baca Juga: Duh! Tiba-Tiba Disuruh Tanda Tangan, Besoknya Langsung Di-PHK Tanpa Peringatan

Tapi faktanya, tidak semua mahasiswa bisa mengakses atau memenuhi syarat.

Di sinilah pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi.

Kampus diharapkan tidak hanya fokus pada administrasi, tapi juga membangun sistem pendampingan yang lebih peka.

Misalnya, dengan konseling aktif, monitoring kehadiran, hingga pendekatan personal kepada mahasiswa yang mulai jarang terlihat.

Baca Juga: Waduh! Sertifikat IPAS dan SLHS MBG 2026 Marak Ditemukan, Asli atau Mainan?

Karena, ya ampun, satu pesan sederhana seperti “kamu nggak apa-apa?” bisa jadi sangat berarti.

Selain itu, perlu juga edukasi bahwa meminta bantuan bukanlah hal yang memalukan.

Justru itu langkah berani untuk bertahan.

Fenomena mahasiswa menghilang ini jadi pengingat keras bahwa pendidikan bukan cuma soal akademik, tapi juga soal kemanusiaan.

Di balik bangku kosong di ruang kelas, mungkin ada cerita yang tak pernah terucap.

Dan di balik diamnya seorang mahasiswa, bisa jadi ada perjuangan yang luar biasa berat.

Jadi, kalau ada teman yang tiba-tiba hilang… coba cari tahu. Siapa tahu, dia sedang butuh didengar, bukan dihakimi.

Karena kadang, yang mereka butuhkan bukan solusi besar cukup satu hal sederhana tidak merasa sendirian.***