POJOKSATU.ID - Pojoksatu dan Magang Hub hadir dalam hidup saya bukan lewat seminar resmi atau pameran karier, melainkan dari obrolan santai di sebuah warung kopi.

Saat itu, saya baru lulus dan masih mencari arah setelah menyelesaikan studi.

Tidak pernah terbayang bahwa percakapan ringan bersama teman-teman justru menjadi pintu masuk menuju pengalaman profesional yang membentuk mental, kreativitas, dan cara saya memandang industri media digital.

Baca Juga: Bukan Sekadar Sisa Anggaran! Ini Kegunaan Saldo Anggaran Lebih untuk Pengaman Keuangan Negara Saat Krisis

MagangHub membuka kesempatan bagi fresh graduate seperti saya untuk merasakan langsung dinamika dunia kerja.

Di PT Pojoksatu Indonesia, saya tidak hanya belajar membuat konten, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, tekanan, kerja tim, dan bagaimana bertahan di tengah ritme industri media yang cepat dan dinamis.


Lulusan Baru dengan Rasa Penasaran yang Besar

Nama saya Restu Putra Madestan, lulusan Komunikasi Digital dan Media IPB University.

Baca Juga: Jangan Diam Saja! Setiap Orang Punya Kesempatan Perbaiki Data di Kemensos, Ini Cara dan Pentingnya Pemutakhiran

Sejak awal kuliah, saya memang tertarik dengan dunia kreatif dan produksi konten. Namun, minat saja tidak cukup tanpa pengalaman nyata.

Program dari Magang Hub yang saya ikuti sebagai peserta batch 1 diperuntukkan bagi fresh graduate.

Saat mengetahui informasi ini dari teman-teman yang mendapatkannya melalui media sosial, saya langsung tertarik.

Baca Juga: April 2026 Dimulai! 20 Ribu Peserta Siap Ikuti Pelatihan Vokasi di 33 Balai Kemnaker Seluruh Indonesia

Waktu itu kami sedang nongkrong di warkop, membahas masa depan setelah lulus.

Di tengah candaan, muncul pembahasan tentang peluang magang di perusahaan media melalui Magang Hub.

Saya merasa ini kesempatan untuk mencoba hal baru.

Ekspektasi saya sederhana mendapatkan pengalaman di perusahaan media sebagai content creator dan, jika memungkinkan, melanjutkan karir di bidang tersebut.


FGD yang Menguji Mental dan Kepercayaan Diri

Tahap seleksi dilakukan melalui wawancara dengan sistem Focus Group Discussion.

Baca Juga: Bukan Sekadar Sisa Anggaran! Ini Kegunaan Saldo Anggaran Lebih untuk Pengaman Keuangan Negara Saat Krisis

Bagi saya, ini pengalaman pertama diwawancarai dalam format seperti itu.

Kami duduk bersama kandidat lain yang ternyata memiliki portofolio dan pengalaman yang menurut saya jauh lebih kuat.

Tantangan terberat bukan hanya menjawab pertanyaan pewawancara, tetapi mengelola rasa minder ketika mendengar jawaban kompetitor lain yang terdengar lebih matang.

Baca Juga: Jangan Diam Saja! Setiap Orang Punya Kesempatan Perbaiki Data di Kemensos, Ini Cara dan Pentingnya Pemutakhiran

Beberapa pertanyaan juga datang secara acak dan cukup mengejutkan.

Rasanya seperti shock therapy. Saya dipaksa berpikir cepat dan tetap tenang.

Namun justru dari situ saya belajar.

Baca Juga: Jangan Diam Saja! Setiap Orang Punya Kesempatan Perbaiki Data di Kemensos, Ini Cara dan Pentingnya Pemutakhiran

Mendengarkan jawaban orang lain memberi saya insight baru.

Saya menyadari bahwa dunia kerja bukan hanya soal siapa yang paling berpengalaman, tetapi siapa yang mampu beradaptasi dan menunjukkan potensi.


Menjadi Content Creator di Ruang Redaksi Digital

Ketika akhirnya diterima dan bergabung di PT Pojoksatu Indonesia sebagai content creator, saya mulai memahami realita dunia media.

Tugas utama saya adalah mengedit konten resmi Pojok Satu untuk diunggah di Instagram dan TikTok, serta mengelola dan mengembangkan akun baru bernama Siasah di kedua platform tersebut.

Setiap hari saya berhadapan dengan footage, headline, narasi, dan algoritma.

Baca Juga: Identitas Peserta TKA Salah di DNS? Guru Tidak Perlu Panik, Ini Penjelasan Mekanisme Perbaikan Data Saat Cetak Sertifikat Hasil TKA 2026

Saya belajar bahwa mengedit bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal sensitivitas isu, akurasi pesan, dan dampak terhadap audiens.

Sebagai perusahaan media, ritme kerja di PT Pojoksatu Indonesia cukup dinamis.

Jam kerja yang tidak selalu teratur menjadi hal yang wajar.

Baca Juga: Identitas Peserta TKA Salah di DNS? Guru Tidak Perlu Panik, Ini Penjelasan Mekanisme Perbaikan Data Saat Cetak Sertifikat Hasil TKA 2026

Awalnya saya kaget, tetapi lama-kelamaan saya beradaptasi. Saya mulai memahami bahwa fleksibilitas adalah bagian dari budaya kerja media.


Proyek UGC dan Gelombang Komentar Negatif

Salah satu proyek paling berkesan adalah ketika saya mengerjakan konten UGC terkait satu tahun kepemimpinan Bupati Bogor, Rudy Susmanto.

Konten tersebut menarik perhatian besar, termasuk komentar negatif dari warganet.

Awalnya saya cukup tertekan melihat hate comment bermunculan. Namun saya mencoba pendekatan berbeda.

Baca Juga: Guru Panen di Bulan Maret 2026, 3 Kali Pencairan dalam Sebulan

Saya melaporkan situasi tersebut dengan cara yang lebih cair, bahkan menandai akun bupati dengan gaya bahasa yang lebih santai dan gen Z agar suasana tidak semakin panas.

Dari pengalaman ini saya belajar bahwa menjadi content creator di media berarti siap menghadapi respons publik yang beragam.

Kritik, bahkan hujatan, adalah bagian dari dinamika ruang digital.

Yang terpenting adalah bagaimana kita merespons secara profesional tanpa memperkeruh keadaan.

Tantangan Fisik dan Sensitivitas Isu

Saat menjalani magang, saya juga sedang dalam masa pemulihan akibat patah kaki.

Baca Juga: Semester 1 2026 Dibuka! Program Magang Nasional Targetkan 100 Ribu Peserta, Ini Keistimewaan Batch 4

Ketika ada tugas yang mengharuskan turun lapangan, mobilitas saya menjadi kendala. Ada rasa tidak enak karena tidak bisa bergerak seaktif tim lain.

Namun kondisi tersebut justru melatih saya untuk memaksimalkan peran di balik layar.

Saya lebih fokus pada proses editing, penyusunan narasi, dan pengemasan konten.

Baca Juga: Identitas Peserta TKA Salah di DNS? Guru Tidak Perlu Panik, Ini Penjelasan Mekanisme Perbaikan Data Saat Cetak Sertifikat Hasil TKA 2026

Selain itu, mengedit isu-isu sensitif juga menjadi tantangan tersendiri.

Saya harus sangat berhati-hati dalam memilih footage agar tidak menyinggung pihak tertentu.

Saya belajar bahwa satu potongan gambar bisa mengubah persepsi publik. Ketelitian menjadi hal yang mutlak.


Lingkungan Kerja yang Sehat dan Kolaboratif

Selama magang, saya tidak pernah merasa sendirian. Mentor dan tim sangat terbuka.

Baca Juga: Guru Panen di Bulan Maret 2026, 3 Kali Pencairan dalam Sebulan

Jika ada kesalahan, kami membahasnya bersama.

Tidak ada budaya saling menyalahkan. Setiap revisi menjadi ruang belajar, bukan ajang mencari siapa yang salah.

Kami melakukan evaluasi bersama dan tidak segan mengakui kesalahan serta meminta maaf jika memang diperlukan.

 

Lingkungan seperti ini membuat saya berkembang tanpa rasa takut.


Skill yang Bertumbuh dan Pola Pikir yang Berubah

Secara teknis, kemampuan editing saya meningkat signifikan. Saya juga semakin terasah dalam menulis naskah konten dan berkomunikasi.

Baca Juga: Semester 1 2026 Dibuka! Program Magang Nasional Targetkan 100 Ribu Peserta, Ini Keistimewaan Batch 4

Kreativitas menjadi kemampuan yang paling terasa berkembang karena setiap hari saya dituntut untuk menemukan sudut pandang baru.

Dari sisi soft skill, saya menjadi lebih disiplin dan mampu mengatur waktu dengan lebih baik.

Kepercayaan diri saya juga meningkat, terutama ketika harus tampil in-frame.

Baca Juga: Semester 1 2026 Dibuka! Program Magang Nasional Targetkan 100 Ribu Peserta, Ini Keistimewaan Batch 4

Perubahan pola pikir terbesar adalah soal jam kerja dan ritme industri. Di perusahaan media, waktu tidak selalu berjalan sesuai jadwal konvensional.

Saya belajar bahwa fleksibilitas dan kesiapan menghadapi perubahan adalah kunci bertahan.


Tetap pada Tujuan, dengan Perspektif yang Lebih Matang

Pengalaman ini tidak mengubah arah karir saya, karena sejak awal saya memang ingin menjadi content creator.

Baca Juga: Semester 1 2026 Dibuka! Program Magang Nasional Targetkan 100 Ribu Peserta, Ini Keistimewaan Batch 4

Namun Magang Hub memberi saya gambaran nyata tentang bagaimana menjadi content creator yang bertanggung jawab, peka terhadap isu, dan mampu bekerja dalam tim.

Saya tidak lagi melihat profesi ini sekadar soal membuat konten yang viral, tetapi tentang bagaimana menghadirkan informasi yang relevan, dikemas kreatif, dan tetap etis.


Refleksi dan Langkah Selanjutnya

Dari warkop hingga ruang redaksi digital, perjalanan saya di MagangHub batch 1 bersama PT Pojoksatu Indonesia menjadi fase penting dalam hidup saya sebagai lulusan baru.

Saya belajar bahwa kesempatan bisa datang dari mana saja, bahkan dari obrolan santai yang tidak direncanakan.

Saya juga belajar bahwa keterbatasan fisik, tekanan publik, dan rasa minder bukan alasan untuk berhenti berkembang.

Baca Juga: Masih Bingung Cara Upload SPTJM TKA SD SMP 2026? Ini Panduan Lengkap Agar Tidak Ditolak Sistem dan Gagal Gladi

Semua itu justru menjadi bagian dari proses pendewasaan.

Kedepan, saya ingin terus berkembang sebagai content creator yang tidak hanya kreatif, tetapi juga bertanggung jawab. Saya percaya, setiap pengalaman adalah bekal.

Dan bagi saya, Magang Hub adalah salah satu bekal terbaik untuk melangkah lebih jauh di industri media digital.***