POJOKSATU.ID - Program Internet Rakyat resmi menggandeng OREX SAI Inc. perusahaan patungan asing antara NTT DOCOMO dan NEC Corporation.
Bersama PT Solusi Sinergi Digital Tbk (SURGE) untuk membangun jaringan 5G Fixed Wireless Access (FWA) di Indonesia.
OSEX SAI mendirikan entitas lokal PT OREX SAI Indonesia pada pertengahan 2025 guna mengelola operasi.
Termasuk penyediaan Radio Unit (RU) pertama dengan sertifikasi resmi untuk pita frekuensi n50 (1,4 GHz).
Kolaborasi ini dianggap sebagai langkah cepat dan praktis untuk menjembatani kesenjangan digital, terutama di daerah sulit dijangkau fiber optik.
Teknologi berbasis Open RAN memungkinkan pembangunan jaringan broadband dengan biaya dan waktu relatif lebih efisien.
Namun di balik kemudahan dan janji akses murah muncul pertanyaan penting.
Seberapa besar ketergantungan Indonesia pada teknologi dan vendor asing?
Dan, apakah kita benar-benar siap mandiri membangun infrastruktur telekomunikasi sendiri?
Dengan peran utama OREX SAI (dan oleh karena itu NTT DOCOMO NEC) dalam seluruh aspek teknis.
Mulai dari core network, radio unit, hingga manajemen jaringan Indonesia sejatinya menggantungkan fondasi konektivitas masa depan pada perusahaan asing.
Beberapa risiko inheren ketergantungan ini:
Suku cadang pemeliharaan: Ketika perangkat rusak atau butuh upgrade, pasokan spare-part, perangkat lunak (software), atau layanan teknis kemungkinan besar bergantung pada vendor asing dengan implikasi biaya tinggi dan waktu tunggu panjang.
Keamanan data kontrol jaringan: Infrastruktur asing bisa membawa risiko keamanan dan kerentanan terhadap intervensi eksternal sebuah isu kritis di era persaingan geopolitik dan perang siber global.
Kedaulatan teknologi: Ketergantungan jangka panjang berarti Indonesia sulit mengembangkan ekosistem telekomunikasi mandiri membuat kita tetap penonton dalam transformasi teknologi global.
Baca Juga: Update Terbaru Korban Galodo Sumbar, 90 Meninggal Dunia, 85 Orang Masih Hilang
Dalam kondisi global penuh persaingan dan dinamika geopolitik, ketergantungan seperti ini bisa menjadi celah strategis bagi kepentingan asing.
Bukan hanya soal bisnis, tapi juga kedaulatan digital dan nasionalisme teknologi.
Saat ini, pilihan jalur cepat menggandeng vendor asing memang memberikan keuntungan nyata penyebaran cepat, biaya lebih murah, dan akses lebih luas.
Namun, jika kita hanya bergantung pada solusi impor tanpa membangun kapasitas dalam negeri (SDM, riset, manufaktur, regulasi), maka keberlanjutan dan kemandirian digital akan sulit tercapai.
Baca Juga: Cegah Pungli dan Utamakan Lansia, Jatijajar Depok Pastikan BLTS Rp900 Ribu Utuh ke Penerima
Idealnya, kolaborasi seperti ini harus diiringi transfer teknologi pelatihan SDM lokal, lokal-content devices, perakitan pembuatan suku cadang di Indonesia, serta roadmap jangka panjang menuju kemandirian.
Tanpa itu kita bisa terus bergantung.
Kerjasama antara SURGE dan OREX SAI tak lepas dari konteks internasional Jepang, melalui NTT DOCOMO dan NEC, memperluas ekspansi teknologi ke Asia Tenggara.
Dalam peta geopolitik modern di mana telekomunikasi jaringan digital menjadi infrastruktur strategis.
Baca Juga: Dari Lelang Spektrum ke Pelanggan Rumah Tangga, Untung Siapa di Proyek Internet Rakyat?
Siapa penguasa teknologinya bisa menentukan dominasi data, ekonomi digital, dan bahkan keamanan nasional.
Artinya keputusan untuk bergantung pada vendor asing bukan hanya soal efisiensi atau biaya, tapi juga soal kedaulatan digital dan posisi Indonesia di tengah persaingan teknologi global.
Internet murah dan merata adalah kebutuhan nyata dan program Internet Rakyat bisa memberikan harapan.
Namun publik harus kritis jangan terkecoh retorika murah dan cepat tanpa memperhatikan siapa yang mengendalikan teknologi, pemeliharaan, dan masa depan jaringan.
Indonesia memang butuh solusi cepat kini, tapi juga harus menjaga kedaulatan digital jangka panjang.
Agar kita tidak sekadar menjadi pasar atau konsumen, melainkan pembangun, pemilik, dan pengendali infrastruktur nasional.***

