POJOKSATU.ID — Internet rakyat di wilayah Maluku dan Papua menjadi sorotan penting dalam upaya menjembatani ketimpangan digital di Indonesia.
Meskipun berada di ujung timur, cakupan konektivitas terus berkembang, namun masih menyisakan tantangan besar terkait pemerataan, infrastruktur, dan akses kualitas.
Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet di Maluku dan Papua mencapai sekitar 69,26 persen dari populasi wilayah tersebut.
Artinya, hampir 7 dari 10 penduduk sudah terhubung ke internet.
Baca Juga: 10 Kuliner Jawa Tengah Paling Wajib Dicoba! Legendaris, Murah, dan Selalu Bikin Rindu
Sebuah capaian yang cukup signifikan mengingat tantangan geografis yang dihadapi oleh wilayah kepulauan dan pegunungan.
Meski begitu, kontribusi pengguna internet dari Maluku dan Papua terhadap total pengguna nasional masih kecil, yaitu sekitar 3,71 persen.
Salah satu masalah utama adalah infrastruktur.
Walau proyek BTS 4G dikembangkan, terutama di Papua, penetrasi di lapangan tidak selalu sebanding.
Baca Juga: Heboh Intel Kodim Walk Out dari Polres Kubar, Ada Apa dengan Kasus Sabu 17,61 Gram?
Riset juga menunjukkan bahwa jumlah menara BTS di Maluku dan Papua relatif kecil dibanding wilayah lain.
Sementara proyek infrastruktur terus berjalan, kompleksitas geografis pulau-pulau terpencil dan daerah pegunungan menjadi hambatan utama distribusi layanan berkualitas.
Selain itu, menurut kebijakan broadband dan penelitian infrastruktur, fixed broadband (koneksi kabel) di wilayah timur Indonesia sangat rendah dibanding Jawa atau wilayah barat lain.
Hal ini memperlihatkan bahwa banyak rumah di Maluku dan Papua masih bergantung pada koneksi seluler yang kualitas dan kecepatannya bisa beragam.
Baca Juga: Ricuh Gelar Perkara Narkoba Kubar, Intel Kodim Walk Out dan Kasus Berujung Dilimpahkan ke BNNP
Meski menghadapi tantangan, penggunaan internet rakyat di Maluku dan Papua meningkat signifikan.
Telkomsel mencatat selama momen Ramadan dan Idulfitri 2024, trafik data di wilayah tersebut naik 8,55 persen dibanding hari biasa.
Rinciannya, akses e-commerce naik 324 %, media sosial tumbuh 249 %, video streaming 252 %, dan browsing 319 % selama periode tersebut.
Lonjakan ini menunjukkan bahwa masyarakat di Maluku dan Papua semakin aktif memanfaatkan layanan digital, dari hiburan hingga transaksi daring.
Namun, kemajuan ini masih diwarnai kesenjangan signifikan.
Infrastruktur seluler mungkin sudah hadir, tetapi kualitas dan kecepatan internet tidak merata.
Beberapa wilayah pegunungan Papua, misalnya, memiliki penetrasi jauh di bawah rata-rata seperti Papua Pegunungan yang tingkat penetrasinya bahkan tercatat 42,57 persen.
Beban biaya juga menjadi persoalan. Menurut analisis, biaya fixed broadband di luar Jawa, terutama di wilayah timur, jauh lebih tinggi relatif terhadap pendapatan masyarakat setempat.
Selain itu, literasi digital menjadi kendala meski koneksi tersedia, tidak semua masyarakat bisa memanfaatkan layanan secara optimal karena keterbatasan pengetahuan teknis atau pendidikan digital.
Baca Juga: Namanya Terseret 2 kali, Bobby Nasution Tak Kunjung Diperiksa KPK
Meskipun demikian, potensi besar tetap terbuka.
Peningkatan trafik dan penggunaan digital saat libur besar menunjukkan bahwa masyarakat Maluku dan Papua siap menyerap layanan digital secara aktif. Jika infrastruktur terus ditingkatkan.
Terutama di kawasan 3T (tertinggal, terdepan, terluar), maka akselerasi transformasi digital bisa semakin nyata.
Kolaborasi antara pemerintah, operator seluler, dan penyedia layanan digital bisa menjadi kunci.
Baca Juga: Misi G20 Selesai! Gibran Mendarat di Jakarta, Aura Wapres Muda Makin Menonjol
Investasi di BTS, penyediaan jaringan tetap (fixed broadband), serta program literasi digital bisa mempercepat pemerataan akses berkualitas.
Dengan demikian, internet rakyat di Maluku dan Papua bukan hanya tentang koneksi, tetapi juga tentang pemberdayaan ekonomi dan sosial.***

