POJOKSATU.ID - Perum Bulog bersiap melakukan langkah strategis besar pada 2026 dengan memperluas peran bisnis dan logistiknya ke pasar internasional.
Tidak lagi semata mengurusi cadangan beras nasional, Bulog diproyeksikan menjadi tulang punggung logistik pangan lintas negara yang mendukung program Kementerian Haji dan Umrah serta Kementerian Perdagangan.
Langkah ekspansi ini menjadi bagian dari transformasi Bulog sebagai badan usaha milik negara yang adaptif terhadap kebutuhan global.
Pemerintah melihat Bulog memiliki infrastruktur, pengalaman, dan jaringan distribusi yang memadai untuk menopang kebutuhan logistik skala besar, termasuk penyediaan pangan bagi jemaah haji dan umrah Indonesia di luar negeri.
Baca Juga: Skema ASN Guru Madrasah Swasta Disiapkan Kemenag, Ini 3 Aspek Utama yang Perlu Dibenahi
Dalam konteks penyelenggaraan haji dan umrah, kebutuhan konsumsi pangan jemaah Indonesia di Arab Saudi setiap tahun mencapai ratusan ribu ton.
Selama ini, sebagian besar pasokan masih bergantung pada mekanisme impor dan pihak ketiga.
Melalui perluasan peran Bulog, pemerintah ingin memastikan rantai pasok pangan yang lebih efisien, terkontrol, serta berorientasi pada kualitas dan ketahanan pangan nasional.
Bulog direncanakan tidak hanya berperan sebagai penyedia beras, tetapi juga komoditas pangan strategis lain seperti gula, minyak goreng, daging olahan, hingga produk turunan pangan yang memiliki standar internasional.
Baca Juga: Noel Koar-Koar Soal Purbaya, Tapi Menkeu Cuman Respons 'Diemin Aja Lah'
Skema ini dinilai sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem halal global.
Sementara itu, dukungan Bulog terhadap Kementerian Perdagangan difokuskan pada penguatan ekspor dan penetrasi pasar internasional.
Pada 2026, Bulog ditargetkan menjadi agregator komoditas pangan nasional yang mampu menembus pasar Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika.
Peran ini sekaligus membuka peluang bagi petani dan pelaku usaha pangan lokal untuk masuk dalam rantai pasok global.
Penguatan peran Bulog di pasar internasional juga dinilai strategis dalam menjaga stabilitas harga dalam negeri.
Dengan pengelolaan stok dan distribusi yang lebih fleksibel lintas negara, Bulog memiliki ruang lebih luas untuk mengatur pasokan saat terjadi gejolak harga atau krisis pangan global.
Pemerintah menegaskan bahwa ekspansi ini tetap mengedepankan prinsip ketahanan pangan nasional.
Baca Juga: SKTP Guru Non ASN Terbit 4 Februari 2026, Ini Prediksi Jadwal Pencairan TPG!
Prioritas utama Bulog tetap menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan di dalam negeri.
Ekspansi global dilakukan secara bertahap dengan pengawasan ketat agar tidak mengganggu pasokan domestik.
Transformasi Bulog menuju pemain logistik pangan internasional juga diikuti dengan modernisasi sistem manajemen, digitalisasi rantai pasok, serta peningkatan kerja sama dengan BUMN dan mitra global.
Dengan langkah ini, Bulog diharapkan menjadi instrumen strategis negara dalam diplomasi pangan dan ekonomi.
Jika rencana ini berjalan sesuai target, 2026 akan menjadi titik balik sejarah Bulog.
Baca Juga: SKTP Guru Non ASN Terbit 4 Februari 2026, Ini Prediksi Jadwal Pencairan TPG!
Dari lembaga pengelola cadangan pangan nasional, Bulog bertransformasi menjadi aktor penting yang menghubungkan kepentingan pangan, ibadah, dan perdagangan Indonesia di panggung internasional.***

