POJOKSATU.ID - PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), salah satu pengembang township terbesar di Indonesia, mencatat perjalanan kinerja dan strategi bisnis yang dinamis dari 2024 hingga awal 2026.

Perusahaan ini bukan hanya mencatat rekor laba dan target pencapaian, tetapi juga menunjukkan ketahanan bisnis di tengah tantangan pasar properti nasional yang berubah cepat.

Sepanjang tahun 2024, BSDE mencatat laba bersih mencapai Rp4,36 triliun, melonjak sekitar 124 persen dari periode sebelumnya.

Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan usaha dan efisiensi operasi, terutama dari segmen penjualan real estat yang kuat.

Baca Juga: Data PTK PPPK Paruh Waktu Sudah Benar Tapi Status Masih Honorer di Info GTK, Ini Penjelasan Alur Verval NIP dan Solusi Agar Tidak Salah Langkah

Pendapatan usaha perusahaan pada 2024 juga meningkat signifikan, mencapai sekitar Rp13,8 triliun.

Pencapaian ini menjadi momentum penting, karena memperkuat posisi BSDE sebagai pengembang properti papan atas di Indonesia dan memberikan dasar kuat bagi strategi pertumbuhan berikutnya.

Memasuki tahun 2025, BSDE menghadapi headwinds di pasar properti yang lebih moderat.

Pada Kuartal I 2025, laba bersih emiten turun drastis hingga sekitar 77,7 persen, dengan laba hanya Rp320,62 miliar.

Baca Juga: Mahfud MD Bongkar Kekacauan Pertamina Soal Oplos Pertamax, Ternyata Blending Masih Boleh Dilakukan!

Penurunan ini sejalan dengan turunnya pendapatan usaha perseroan menjadi Rp2,7 triliun, terutama dipengaruhi oleh pelambatan penjualan unit properti dan lahan. 

Namun, meski terjadi koreksi kinerja awal tahun, indikator marketing sales justru menunjukkan daya serap pasar yang masih kuat.

Pada Kuartal I 2025, BSDE mencatat marketing sales sekitar Rp2,34 triliun, tumbuh sekitar 9 persen tahunan. 

Pada semester I 2025, BSDE mencatat pendapatan usaha Rp6,39 triliun dan laba bersih sekitar Rp1,28 triliun, turun dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini terjadi seiring kelemahan di segmen real estat, meski segmen hunian dan komersial masih menjadi kontributor utama. 

Hingga Kuartal III 2025, pendapatan usaha tercatat sekitar Rp8,76 triliun, turun hampir 13 persen year-on-year.

Meski demikian, BSDE mencatat marketing sales mencapai Rp7,10 triliun, setara 71 persen dari target tahunan, menunjukkan permintaan pasar yang tetap terjaga. 

Baca Juga: Kabar Baik Guru ASN dan PPPK, THR TPG 100 Persen Berpeluang Cair Februari 2026, Ini Dasar Aturan dan Strateginya

Salah satu pencapaian paling penting adalah laporan terkini bahwa BSDE membukukan prapenjualan (marketing sales) Rp10,04 triliun sepanjang 2025, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp10 triliun dan tumbuh sekitar 3 persen dari posisi tahun sebelumnya.

Segmen residensial menjadi kontributor terbesar, disusul komersial dan penjualan lahan. 

Pencapaian ini memberi sinyal positif terhadap ketahanan permintaan pasar, meskipun terjadi fluktuasi dalam kinerja keuangan tahun berjalan.

BSDE dikenal dengan pengembangan township besar seperti BSD City, yang menawarkan beragam produk residensial, komersial, dan mixed-use.

Baca Juga: Insinerator Disegel Total, Ritase Sampah Bandung ke Sarimukti Berpotensi Dikurangi 20 Persen

Strategi bisnis BSDE mencakup diversifikasi portofolio produk, inovasi proyek baru, dan penguatan brand melalui landbank strategis yang luas.

Keberagaman portofolio ini membantu perusahaan mengelola risiko ketika segmen tertentu mengalami perlambatan.

Direktur BSDE, Hermawan Wijaya, secara konsisten menegaskan bahwa strategi prapenjualan yang kuat, dikombinasikan dengan portofolio produk yang beragam, menjadi kunci untuk mempertahankan posisi di pasar yang kompetitif.

Melampaui target prapenjualan 2025 memberikan landasan optimistis bagi BSDE memasuki 2026.

Pergerakan suku bunga nasional dan stabilitas ekonomi menjadi faktor penting dalam prospek properti.

Ketahanan marketing sales serta kemampuan perusahaan menyesuaikan go-to-market strategy dipandang sebagai kekuatan untuk menghadapi siklus industri berikutnya.

Selain itu kemajuan proyek yang sedang berjalan seperti perkembangan kawasan komersial, ritel, dan hunian premium menjadikan BSDE tetap relevan di pasar.

Dalam konteks pemulihan ekonomi dan permintaan properti yang menyebar di berbagai wilayah, BSDE berada pada posisi strategis untuk memenangkan pasar.***