POJOKSATU.ID - Wah, ada kabar yang lagi ramai jadi perbincangan publik nih!

Pemerintah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengalokasikan anggaran internet tahun 2026 sebesar Rp2,5 miliar.

Tapi yang bikin kaget, di dalamnya ternyata termasuk langganan aplikasi populer seperti CapCut dan Canva.

Kok bisa? Nah, ini yang kemudian memancing berbagai reaksi, terutama dari warganet yang langsung ramai berkomentar di media sosial.

Baca Juga: Keren! Pertamina Sulap UMKM dan Limbah Jadi Prestasi PROPER Emas

Ada yang heran, ada juga yang mencoba memahami dari sisi kebutuhan digital pemerintah daerah.

Berdasarkan informasi yang beredar, anggaran Rp2,5 miliar tersebut tidak hanya untuk kebutuhan jaringan internet semata.

Anggaran ini akan digunakan untuk mendukung operasional digital di 18 dinas, 5 badan, 2 kantor, serta 16 kecamatan di lingkungan Pemkab Blora.

Artinya, cakupannya cukup luas.

Baca Juga: Gubernur DKI Beberkan Alasan Lebaran Betawi Diselenggarakan di Lapangan Banteng

Mulai dari pelayanan administrasi, komunikasi internal, hingga kebutuhan konten publikasi dan informasi ke masyarakat.

Nah, di sinilah peran aplikasi seperti CapCut dan Canva mulai terlihat.

“Loh, kok aplikasi edit masuk anggaran pemerintah?” mungkin itu yang ada di benak banyak orang.

Tapi kalau dipikir-pikir, di era digital seperti sekarang, kebutuhan konten visual memang jadi bagian penting dari komunikasi pemerintah.

Bayangkan saja, setiap dinas kini dituntut aktif di media sosial.

Informasi harus cepat, menarik, dan mudah dipahami masyarakat.

Di sinilah Canva digunakan untuk desain grafis, sementara CapCut dipakai untuk editing video pendek yang informatif.

Jadi, sebenarnya bukan sekadar “gaya-gayaan”, melainkan bagian dari strategi komunikasi publik yang lebih modern dan efektif.

Baca Juga: Rekening Merah TPG Penerima Baru Belum Berubah? Ini Penjelasan Lengkap Proses Pembuatan Rekening Guru ASN dan Non ASN

Eh tapi, tetap saja, transparansi anggaran jadi hal yang wajib, ya!

Beberapa pihak menilai langkah ini bisa dimaklumi jika memang penggunaannya jelas dan terukur.

Namun, tak sedikit juga yang meminta agar pemerintah lebih terbuka dalam merinci alokasi anggaran tersebut.

“Yang penting jelas peruntukannya, jangan sampai mubazir,” tulis salah satu komentar warganet.

Baca Juga: Keren! Pertamina Sulap UMKM dan Limbah Jadi Prestasi PROPER Emas

Di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana transformasi digital di pemerintahan semakin nyata.

Dulu, mungkin anggaran hanya fokus pada infrastruktur fisik. Sekarang? Digitalisasi jadi prioritas.

Apalagi sejak pandemi, banyak layanan publik yang beralih ke sistem online. Mulai dari pengurusan dokumen hingga sosialisasi kebijakan. Semua butuh dukungan internet yang stabil dan tools digital yang memadai.

Meski begitu, tetap penting bagi pemerintah daerah untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Jangan sampai anggaran besar justru menimbulkan persepsi negatif.

Ke depan, publik tentu berharap ada penjelasan lebih rinci terkait penggunaan anggaran ini.

Transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas harus berjalan beriringan.

Ya, bagaimanapun juga, di era serba digital ini, kebutuhan akan teknologi memang tak bisa dihindari.

Tinggal bagaimana pengelolaannya saja apakah tepat sasaran atau justru jadi polemik berkepanjangan.

Hmm, menurut kamu gimana?***