POJOKSATU.ID - Terkadang, satu informasi sederhana bisa menjadi awal dari perjalanan besar yang tak pernah kita rencanakan.
Begitulah awal pertemuan saya dengan Pojoksatu dan program MagangHub, dua nama yang awalnya hanya saya lihat di layar.
Namun perlahan berubah menjadi pintu menuju pengalaman yang membuka banyak kemungkinan baru.
Dari rasa penasaran yang sederhana, perjalanan ini tumbuh menjadi ruang belajar sekaligus ruang untuk saya dapat mengenal potensi diri saya lebih dalam.
Awal Mula Bergabung Bersama Pojoksatu melalui Program MagangHub
Perkenalkan, saya Deva Syauqi Khairunnisa, seorang fresh graduate yang baru saja lulus di bulan agustus tahun kemarin.
Sejak masa kuliah, saya memiliki minat di bidang desain grafis. Ketertarikan itu tumbuh karena saya aktif mengikuti organisasi dan kepanitiaan, serta kerap memilih PDD (Publikasi, Desain, dan Dokumentasi).
Dari pengalaman tersebut, saya mulai menyadari bahwa mungkin inilah bidang yang ingin saya tekuni dan jadikan sebagai langkah awal dalam perjalanan karier saya.
Saya pertama kali mengetahui program MagangHub Nasional bukan dari pencarian khusus, melainkan saat membaca sebuah berita yang membahas program tersebut.
Dari situ, rasa penasaran saya mulai tumbuh. Di tengah perasaan putus asa karena beberapa kali melamar pekerjaan namun belum mendapatkan hasil, saya akhirnya memberanikan diri untuk mencoba mendaftar MagangHub.
Baca Juga: Presiden Trump Umumkan Operasi Militer Besar-besaran Serang Iran, Hancurkan Rudal dan Angkatan Laut
Setelah mencari tahu lebih lanjut, saya memilih mendaftar di Pojoksatu yang saya ketahui merupakan portal berita online, dan mengambil posisi sebagai Media Sosial Spesialis.
Keputusan sederhana itu menjadi titik balik yang membuka kembali harapan dan semangat saya untuk melangkah.
Melewati Tahap Demi Tahap hingga Akhirnya Diterima
Proses seleksi yang saya jalani terasa cukup menantang sekaligus mendebarkan.
Setelah mendaftar sebagai Media Sosial Spesialis di Pojoksatu melalui program MagangHub, saya melewati beberapa tahapan, mulai dari seleksi administrasi hingga wawancara.
Pada tahap ini, saya tidak hanya ditanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan bekerja dalam tim, menghadapi deadline, serta beradaptasi dengan ritme kerja media yang cepat dan dinamis.
Tantangan terbesarnya justru datang dari dalam diri saya sendiri. Rasa tidak percaya diri sempat muncul karena ini adalah pengalaman profesional pertama saya setelah lulus.
Saya terus bertanya dalam hati, apakah saya benar-benar siap? Namun, saya mencoba melawan keraguan itu dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Hingga akhirnya, tahapan demi tahapan berhasil saya lewati dan saya ditetapkan sebagai peserta magang.
Saat menerima kabar tersebut, perasaan saya campur aduk, senang, bangga, sekaligus takut.
Senang karena kesempatan itu akhirnya datang, tetapi juga takut karena ini adalah pengalaman pertama saya benar-benar terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya.
Hari Pertama Saya Bekerja di Pojoksatu
Hari pertama bekerja di Pojoksatu menjadi momen yang tidak akan saya lupakan.
Alih-alih merasa percaya diri, saya justru dipenuhi rasa takut, takut jika saya tidak mampu memenuhi ekspektasi, takut jika hasil kerja saya tidak sesuai standar.
Baca Juga: Gabungan AS dan Israel Serang Iran, 5 Lokasi Sasaran Ledakan, Termasuk Kantor Ayatollah Khamenei
Perasaan itu semakin terasa ketika saya ditempatkan di divisi Pojok Seleb dan langsung dipercaya untuk memegang sebuah campaign tentang film.
Tantangannya cukup besar karena campaign tersebut tergolong baru, sehingga saya belum memiliki gambaran yang jelas tentang konsep dan arah konten yang harus dibuat.
Saya sempat kebingungan menentukan visual, hingga gaya penyampaian yang tepat.
Di hari pertama itu, saya hanya mampu menyelesaikan satu konten.
Meski terasa kurang maksimal di mata saya sendiri, mentor saya memahami bahwa saya masih dalam tahap adaptasi dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme kerja.
Perlahan, rasa takut itu mulai berubah menjadi motivasi. Keesokan harinya, saya mencoba bekerja lebih terstruktur dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Hasilnya, saya mampu membuat dua hingga tiga konten dalam sehari.
Dari pengalaman sederhana itu, saya belajar bahwa tidak ada proses yang instan, tetapi dengan kemauan untuk mencoba dan berusaha, kemampuan kita bisa berkembang lebih cepat dari yang dibayangkan.
Tantangan Baru Saat Harus Beradaptasi dengan Divisi yang Berbeda
Setelah kurang lebih satu bulan berada di divisi Pojok Seleb dan mulai terbiasa dengan ritme kerjanya, saya kembali dihadapkan pada perubahan.
Saya dipindahkan ke divisi lain dengan tanggung jawab yang berbeda, yaitu mengedit konten sekaligus memegang akun Instagram.
Perpindahan ini menjadi tantangan baru bagi saya, karena artinya saya harus kembali belajar dari awal dan memahami pola kerja yang berbeda dari sebelumnya.
Jika di divisi sebelumnya saya lebih banyak berfokus pada konten berita dan campaign hiburan, di posisi saya yang baru ini saya justru membuat konten yang berfokus pada penggalangan dana untuk donasi warga di Sumatera yang saat itu terdampak musibah banjir bandang.
Tanggung jawab tersebut terasa berbeda secara emosional, karena konten yang saya buat bukan sekadar informatif, tetapi juga harus mampu menggugah empati dan kepedulian audiens.
Baca Juga: IPM Tembus 75,58: Bupati Bandung Klaim 74 Persen Visi-Misi Terealisasi
Proses adaptasi ini tentu tidak mudah. Saya perlu memahami cara menyampaikan pesan yang tepat, memilih visual yang sesuai, serta menjaga sensitivitas terhadap situasi yang sedang terjadi.
Setelah program penggalangan dana tersebut selesai, saya kembali dipercaya untuk memegang tanggung jawab baru.
Hingga saat ini, saya ditempatkan sebagai editor akun Pojoksatu dan berfokus pada pembuatan konten original.
Peran ini kembali menantang saya untuk terus berkembang, dan berpikir lebih kreatif.
Ketika Kerja Keras Berbuah Hasil
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi saya terjadi saat masih berada di divisi Pojok Seleb.
Salah satu konten yang saya buat berhasil mencapai 33,3 juta tayangan di TikTok.
Saat pertama kali melihat angka tersebut, saya sempat tidak percaya. Konten yang awalnya saya pikir biasa saja, namun mendapatkan respons luar biasa dari audiens.
Baca Juga: Djatgo Hadirkan GASPOL, Waktu Kirim Jakarta Medan Dipangkas Jadi 3–4 Hari
Sebagai seorang Media Sosial Spesialis, ada rasa bangga dan bahagia tersendiri ketika melihat konten yang kita buat mampu menjangkau jutaan orang dan menghasilkan engagement yang baik.
Bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang bagaimana ide, konsep, dan usaha yang kita susun ternyata bisa diterima dengan sangat positif.
Momen itu menjadi pengingat bagi saya bahwa proses belajar, kerja keras, dan keberanian mencoba memang bisa membuahkan hasil yang tak terduga.
Refleksi dari Sebuah Proses Bertumbuh
Pengalaman bekerja di Pojoksatu menjadi fase yang sangat berarti dalam perjalanan awal karier saya.
Dari sini, saya belajar bahwa dunia kerja tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga mental yang kuat, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar.
Setiap perpindahan divisi, setiap revisi konten, hingga setiap target yang harus dicapai, mengajarkan saya untuk lebih disiplin, bertanggung jawab, dan percaya pada proses.
Saya juga memahami bahwa rasa takut dan ragu adalah hal yang wajar, terutama saat berada di lingkungan baru.
Namun, jika dihadapi dengan keberanian dan kemauan untuk berkembang, perasaan itu justru bisa menjadi dorongan untuk melangkah lebih jauh.
Pengalaman ini membentuk saya menjadi pribadi yang lebih tangguh, lebih terbuka terhadap kritik, dan lebih peka terhadap peran media dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Ke depan, semua pelajaran yang saya dapatkan selama mengikuti program MagangHub di Pojoksatu akan saya terapkan dalam setiap langkah karier saya.
Baik dalam hal profesionalisme, kreativitas, maupun etika kerja, saya ingin terus berkembang dan memberi dampak positif melalui apa yang saya kerjakan.
Karena pada akhirnya, setiap proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh tidak hanya membentuk kemampuan, tetapi juga membentuk karakter.***

