Dobrak Paradigma, Emil Dardak Sebut Gaya Kepemimpinan Ganjar Pranowo Jadi Angin Segar Bagi Dunia Politik Tanah Air

Emil Dardak Sebut Gaya Kepemimpinan Ganjar Pranowo sederhana dan menjangkau semua kalangan

POJOKSATU.id, JAKARTA- Sosok Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dinilai sebagai pemimpin yang mampu mendobrak paradigma dunia politik yang selama ini terlalu serius dan gontok-gontokan.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, saat menjadi narasumber dalam talkshow bertajuk ‘Leading With Style’ bersama Ganjar, yang diselenggarakan PermataBank di The Ritz-Carlton Hotel, Jakarta Selatan.

Menurut Emil, citra dunia politik tanah air yang santai, sederhana dan mampu menjangkau semua kalangan, termasuk generasi milenial itu bermula dari kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Kalau dulu kan pejabat itu identik dengan power gitu ya, terus tiba-tiba muncul Pak Jokowi yang sangat humble, sederhana, merubah mindset tentang leadership,” kata Emil saat talkshow pada Rabu (30/11/2022).


BACA : Jawab Keresahan Generasi Milenial, Ini Tips Pemimpin Masa Kini Versi Ganjar Kepada Ratusan Anak Muda

Kemudian Emil melanjutkan, kancah politik tanah air terdapat angin sejuk ketika nama Ganjar Pranowo muncul sebagai calon presiden yang digadang-gadang bakal maju dalam pilpres 2024 mendatang.

Emil mengatakan, kehadiran Ganjar mampu meyakinkan generasi milenial bahwa politik itu dapat menjadi asyik jika pemimpinnya juga mampu merangkul seluruh kalangan dengan baik dan gaya komunikasi yang luwes.

“Lalu muncul pemimpin-pemimpin termasuk Pak Ganjar di Jawa Tengah dan kemudian membuat saya dan teman-teman anak-anak muda yang berpikir politik itu kan kotor, sadis, tusuk-tusukan akhirnya tidak berpikir seperti itu lagi,” ucap Emil.

Hal tersebut pun membuat Emil mengakui bahwa ia banyak terinspirasi dari gaya kepemimpinan Ganjar yang lebih kawakan dalam dunia politik.

“Bukan karena beliau (Ganjar) ada di samping saya, jadi memang beliau ada di politik sebelum saya. Saya kan latar belakangnya orang kantoran gitu ya, maka kita harus mengakui,” ungkap Emil. (ade/pojoksatu)