Jika Tak Perbuatan Pidana, Pakar Forensik Minta Polisi Tak Ragu Kembalikan Jasad 4 Keluarga Kalideres

Reza Indragiri Amriel (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, meminta polisi tak ragu mengembalikan jasad 4 keluarga Kalideres jika kematiannya bukan karena perbuatan pidana.

Menurut Amriel, jika bukan perbuatan pidana, maka Humas Polda Metro Jaya tak usah ragu-ragu mengumumkan ke publik dan memulangkan jenazah empat keluarga Kalideres itu ke keluarganya.

Reza menyebut polisi harus memastikan terlebih dahulu penyebab kematian empat orang itu apakah karena perbuatan pidana atau bukan pidana.

“Pokok terpenting dalam kasus ini adalah Ditreskrimum Polda Metro Jaya (PMJ) memastikan apakah para empat orang dimaksud meninggal dunia akibat perbuatan pidana atau bukan perbuatan pidana,” jelas Reza lulusan UGM dan Universitas Melbourne ini, Selasa (29/11/2022).


“Jika kemungkinan kedua adalah temuannya (bukan perbuatan pidana), maka Humas PMJ tidak usah ragu-ragu mengumumkannya ke publik dan memulangkan jenazah ke keluarga mereka,” katanya.

Baca Juga :

Ritual Budianto Ternyata Diikuti 3 Keluarga Kalideres Lainnya, Pakai Mantra dan Kemenyan

Reza mengatakan polisi tetap perlu menyampaikan ke publik jika penyebab kematian sekeluarga itu tidak diketahui pasti.

Menurutnya, tidak terungkapnya penyebab kematian dalam kasus itu bukan berarti kerja polisi gagal.

“Demikian pula apabila tidak bisa ditentukan secara definitif penyebab kematian mereka, Ditreskrimum dan Humas PMJ tetap perlu menyampaikannya ke masyarakat,” katanya.

“Penyebab kematian yang tidak bisa didefinitifkan bukan merupakan kegagalan kerja kepolisian,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia membeberkan salah satu spekulasi yang dapat diuji adalah sekeluarga tersebut secara sengaja atau terencana mencapai kematian mereka sendiri.

Indikasinya, sebagaimana kondisi dalam rumah yang rapi, permintaan agar PLN memutus aliran listrik, dan posisi jenazah yang tertata.

“Rencana keluarga yang akan mengkremasi jenazah juga menambah dasar bagi spekulasi bunuh diri,” jelasnya.

“Di dalam masyarakat yang mempraktikkan kremasi, kematian adalah transisi dari satu format kehidupan ke kehidupan yang lain,” ujarnya.

Menurutnya, dalam masyarakat yang menganut kremasi, apabila seseorang dalam format kehidupannya saat ini merasa tidak mampu lagi melakukan dharma, dia memiliki justifikasi moral untuk menempuh bunuh diri sebagai jalan menuju format kehidupannya yang baru.

“Dengan format baru tersebut, ia berharap akan lebih kuasa melakukan dharma,” tambahnya lagi. (ikror/pojoksatu)