Hari Guru : DPR RI Singgung Soal Tiga Dosa Pendidikan yang Terus Berulang, Catat Nih

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian

POJOKSATU.id, JAKARTA-  Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian turut menyambut peringatan ‘Hari Guru Nasional’ yang jatuh pada hari ini, Jumat 25 November 2022.

Ia berharap guru menjadi teladan bagi siswa-siswi bangsa Indonesia dan ‘Hari Guru menjadi momentum untuk bangkit.

Ia pun mengutip ucapan Ki Hadjar Dewantara yang menyebut:

‘Di depan memberi teladan, di tengah membangun kemauan, di belakang memberi dukungan moral adalah peran guru’.


“Terimakasih para guru yang bukan hanya telah memberikan ilmu pengetahuan, tapi menjadi panutan akan keunggulan moral, etika, serta karakter kepada peserta didik,” kata Hetifah kepada Pojoksatu.id, Jumat (25/11/2022).

Menurutnya, guru yang terus menyuntikkan semangat berinovasi dalam proses pembelajaran akan melahirkan siswa yang kreatif dan berkarya positif.

Apalagi, dengan Kurikulum Merdeka membuka ruang bagi guru untuk mengeksplorasi ide kreatif dan ini kesempatanya di ‘Hari Guru’.

BACA : Non ASN Tidak Lulus PPPK Ikut Seleksi CPNS 2023, Prioritas Guru dan Nakes

Di ‘Hari Guru’ ini, politisi Partai Golkar itu juga menyinggung soal kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi yang semakin merebak di dunia pendidikan.

“Tiga dosa pendidikan yang terus berulang menunjukkan bahwa pelajar Indonesia darurat moral dan etika,” ujarnya.

Hetifah mengatakan, selain harus menunjukkan teladan yang baik terhadap siswa, guru juga harus memastikan bahwa siswa juga menjalankan adab yang baik di lingkungan sekolah.

“Guru menjadi sosok pelindung dan pengarah bagi siswa,” tambah legislator asal Kaltim tersebut.

Kendati demikian, Hettifah mengapresiasi dan penghormatan bagi seluruh guru yang berkorban di pelosok negeri, namun menjadi utang besar bagi negara.

“Banyak sekali cerita tentang guru Indonesia yang berkorban untuk mengajar hingga pedalaman dengan fasilitas dan dana yang tidak memadai,”tuturnya.

Menurut anak buah Airlangga Hartarto itu, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa dan teladan yang sesungguhnya.

“Namun, ini menjadi PR besar bagi negara yang belum bisa memastikan seluruh guru terjamin hak dan kesejahteraannya,” pungkasnya. (Mufit/Pojoksatu)