Tak Tercapai Kata Damai, 2 Pelajar Penendang dan Pemukul Nenek di Tapsel Ditetapkan Tersangka

Pelajar di Tapsel Sumut yang menendang nenek-nenek di pinggir jalan (ist)

POJOKSATU.id, SIDEMPUAN – Dua (2) pelajar berseragam pramuka penendang dan pemukul nenek di Tapanuli Selatan (Tapsel) Sumut ditetapkan tersangka penganiayaan.  Ada sekitar 8 pelajar dalam rombongan itu sebenarnya.

Video viral pemukulan dengan kayu serta penendangan hingga nenek ini terjengkang ke aspal beredar di media sosial di berbagai platform baik Twitter, Instagram dan Facebook.

“Pada hari Selasa kemarin kami sudah melakukan pemeriksaan terjadap terlapor, khususnya dua pelajar yang ada dalam video yang melakukan penganiayaan dengan didampingi oleh Bapas (Balai Pemasyarakatan), sehingga kami menaikkan status terlapor jadi tersangka,” ujar Kapolres Tapsel AKBP Imam Zamroni lewat video yang diunggah di akun Instagram Polres Tapsel, @official.polrestapsel, Rabu (23/11/2022).

AKBP Imam mengatakan pada Kamis (24/11/2022) atau hari ini, Polres Tapsel akan melimpahkan berkas perkara ke Kejaksaan Negeri Padang Sidempuan.


Kapolres mengatakan, pihaknya telah mencoba mempertemukan antara orangtua para pelaku dengan keluarga korban. Namun, dua hari melakukan pertemuan, belum ada kesepakatan antara kedua pihak.

Baca Juga :

Nenek yang Ditendang Pelajar di Tapsel Disulangi Makan Kapolres : Mari Makan Mienya Inang

“Selama proses pelengkapan berkas perkara, kami melaksanakan proses diversi, mempertemukan, musyarawah dari pihak keluarga terlapor dan korban yang kami lakukan selama dua hari, dari Selasa dan hari ini,” jelasnya.

“Hasilnya belum ada titik kesepakatan di antara kedua belah pihak,” kata AKBP Imam lagi.

Sementara itu, Menko Polhukam Mahfud Md mengatakan perbuatan sekelompok pelajar yang menendang nenek di Tapanuli Selatan ini merupakan tindakan biadab dan brutal.

Mahfud mengatakan para pelajar yang belum dewasa tetap dapat dihukum.

Mahfud menjelaskan pelaku yang belum dewasa bisa dikenai hukuman setengah dari ancaman hukuman normal. Menurutnya, tindakan pelajar yang menendang nenek tersebut adalah biadab.

“Anak-anak itu sangat biadab, masa nenek renta begitu diejek dan ditendang secara brutal. Untuk anak yang belum dewasa secara pidana, ancaman hukumannya adalah setengah dari ancaman hukuman normal,” kata Mahfud, Minggu (20/11/2022).

Mahfud menyampaikan adakalanya memberikan hukuman merupakan bagian dari pendidikan.

Mahfud MD melihat kelakuan para pelajar itu sudah menggejala sehingga perlu ada tindakan tegas agar tidak ditiru oleh anak-anak lainnya.

“Kita memang harus mendidik, tak harus selalu menghukum. Tetapi adakalanya juga menghukum itu merupakan bagian dari pendidikan,” tegasnya.

“Lebih-lebih kelakuan seperti ini sudah menggejala sehingga harus ada contoh tindakan tegas agar anak-anak lain menghentikan dan tidak berani melakukan hal yang sama,” jelas Mahfud MD. (ikror/pojoksatu)