Ini Penyebab Aremania Terkunci di Stadion Kanjuruhan dalam Video yang Viral, Jelas Banget

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo beberkan penyebab Aremania terkunci di Stadion Kanjuruhan seperti dalam video yang viral di media sosial

POJOKSATU.id, MALANG – Saat tragedi Kanjuruhan Malang, viral di media sosial Aremania terkunci tak bisa keluar.

Aremania tak bisa keluar dari Stadion Kanjuruhan karena pintu terkunci sehingga tidak bisa dibuka.

Akibatnya, terjadi penumpukan dan Aremania berdesak-desakan di sejumlah pintu keluar stadion.

Dalam video yang viral itu, terlihat sejumlah suporter lemas sampai kemudian pingsan.


Kapolri Jenderal Listyo Prabowo pun memaparkan kronologi lengkap penyebab Aremania terkunci dalam stadion Kanjuruhan.

Listyo menyatakan, jalannya pertandingan sampai usai berjalan lancar meski pertandingan tetap digelar pukul 20.00 WIB.

BACA: Nah kan Terbongkar, Alasan PT LIB Tolak Majukan Laga Arema FC vs Persebaya karena Duit

Sebelumnya Polres Malang meminta pertandingan Arema FC vs Persebaya dimajukan jadi pukul 15.00 WIB tapi ditolak PT LIB.

Namun usai wasit meniup peluit panjang, tumbuhlah bibit tragedi Kanjuruhan Malang.

Hal itu dimulai dari reaksi Aremania yang turun ke lapangan.

Melihat hal itu, polisi langsung bertindak dengan melakukan pengamanan kepada pemain dan official Persebaya.

Tak sampai 5 menit di ruang ganti pemain, penggawa Green Force, julukan Persebaya Surabaya itu langsung ‘diungsikan’ dengan menggunakan kendaraan taktis Barakuda.

Meskipun, kata Listyo, proses evakuasi membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.

BACA: Sudah 6 Tersangka Kanjuruhan Disaster tapi Kapolri Bilang Bisa Tambah, Tebak Siapa

“Karena sempat terjadi kendala dan hambatan karena memang terjadi pengadangan,” ujarnya di Mapolres Malang, Kamis malam 6 Oktober 2022.

Akan tetapi, proses evakuasi yang dipimpin Kapolres Malang saat itu tetap bisa berjalan lancar.

Sementara di lapangan, jumlah suporter yang turun dari tribun semakin banyak.

Kondisi itulah yang membuat petugas yang melakukan pengamaman mulai melakukan kegiatan penggunaan kekuatan.

“Seperti yang kita lihat, ada yang menggunakan tameng, termasuk pada saat mengamankan kiper Arema FC Adilson Maringa,” terang Listyo.

 

Gas Air Mata dan Pintu Terkunci

Dengan kondisi makin banyak suporter turun ke lapangan dan jumlah personil yang jauh tidak sebanding, beberapa anggota polisi akhirnya menembakkan gas air mata.

BACA: PSSI Lolos dari Daftar Tersangka Kanjuruhan Disaster, Kok Bisa ?

Tembakan gas air mata itu pula yang membuat penonton menjadi panik.

Terutama penonton yang ada di tribun yang kemudian berlarian dengan maksud secepatnya keluar dari stadion Kanjuruhan Malang.

Nahas, tidak semua pintu stadion Kanjuruhan ‘siap’ menerima jumlah suporter yang banyak dan berdesakan itu.

Sementara, sejumlah pintu keluar stadion ternyata malah terkunci. Yakni di pintu 3, 10, 11, 12, 13 dan 14.

Proses pembukaan pintu itu juga cukup lama dan hanya bisa dibuka selebar 1,5 meter saja.

Itupun setelah dibuka secara paksa karena para penjaga pintu tidak berada di tempat.

BACA: Ini Peran 6 Tersangka Kanjuruhan Disaster, Termasuk Dirut PT LIB dan 3 Polisi

Hal itu pula yang membuat terjadinya penumpukan suporter, berdesakan dan tak bisa keluar selama hampir 20 menit lamanya.

Kombinasi gas air mata dan banyaknya suporter menumpuk dan berdesakan pun berakibat fatal.

Banyak korban yang mengalami patah tulang, serta trauma di kepala dan leher.

“Sebagian besar yang meninggal dunia mengalami asfiksia atau kadar oksigen dalam tubuh berkurang,” papar Listyo.

Inilah yang kemudian memicu banyaknya korban meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan Malang.

Dalam rilis resmi terbaru, disebutkan korban meninggal dunia berjumlah 131 orang.

BACA: Tersangka Kanjuruhan, Ini Identitas Polisi Perintahkan Tembak Gas Air Mata dalam Stadion

Sementara 29 orang lainnya mengalami luka berat dan 440 orang mengalami luka ringan.

Sampai sejauh ini, Mabes Polri sudah menetapkan 6 orang tersangka Kanjuruhan.

Tapi Kapolri menyatakan, jumlah tersangka bisa bertambah karena proses investigasi masih terus berjalan. (AdeGP/pojoksatu)