Ini Peran 6 Tersangka Kanjuruhan Disaster, Termasuk Dirut PT LIB dan 3 Polisi

Direktur PT LIB Akhmad Hadian Lukito salah satu dari 6 tersangka Kanjuruhan
Direktur PT LIB Akhmad Hadian Lukito salah satu dari 6 tersangka Kanjuruhan

POJOKSATU.ID, JAKARTA – Ada enam tersangka Kanjuruhan Disaster yang baru saja diumumkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kamis (6/10) malam.

Keenam tersangka itu termasuk Direktur PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) selaku operator BRI Liga 1 2022/23, Akhmad Hadian Lukita.

Menurut Kapolri, para tersangka ini dianggap melakukan perbuatan pidana sebagaimana diatur dalam pasal 359 dan 360 KUHP juncto pasal 103 juncto pasal 52 UU RI Nomor 11 tahun 2022 tentang Keolahragaan.

Lalu apa saja kesalahan yang mereka perbuat sehingga jadi pesakitan? Berikut rincian peran para tersangka Kanjuruhan Disaster :


1. Akhmad Hadian Lukita (AHL), Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru

Peran AHL dalam tragedi Kanjuruhan sehingga ditetapkan tersangka karena dianggap tidak melakukan verifikasi stadion sebelum pertandingan.

BACA JUGA : Prediksi Bola Malam Ini, Liga Europa : Roma vs Betis, Arsenal vs Bodo Glimt, dan Freiburg vs Nantes

Setiap stadion yang digunakan untuk sebuah pertandingan, harus mempunyai sertifikasi layak fungsi.

Pada saat Stadion Kanjuruhan digunakan untuk laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10) lalu, ternyata belum memiliki sertifikat layak fungsi. Belum diverifikasi.

Penggunaan stadion itu hanya mengandalkan hasil verifikasi tahun 2020 lalu.

Hal ini cukup mengejutkan mengingat Stadion Kanjuruhan sudah enam kali digunakan Arema FC di Liga 1 musim ini. Termasuk pada saat tragedi terjadi.

2. Abdul Haris (AH), Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan

Pelaksana dan koordinator pertandingan dalam pasal 3 disebutkan Panpel bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kejadian.

BACA JUGA : Prediksi Bola Malam Ini, Liga Europa : Malmo vs Union Berlin, Omonia vs Man United dan Sturm Graz vs Lazio

Setidaknya ada tiga kesalahan panpel dalam tragedi Kanjuruhan. Pertama, tidak ada dokumen keselamatan dan keamanan stadion.

Kemudian mengabaikan permintaan pihak keamanan, dan terjadi penjualan tiket yang melampaui kapasitas. Dari 38 ribu tempat duduk, dijual tiket sebanyak 42 ribu.

3. Suko Sutrisno (SS), Security Officer

Security Officer dalam hal ini Suko Sutrisno juga masuk daftar tersangka Kanjuruhan disaster karena tidak membuat dokumen penilaian risiko.

BACA JUGA : Kronologi Lengkap dan Identitas Siswa MTSN 19 Korban Tembok Roboh, Lagi Bermain

SS juga memerintahkan steward untuk meninggalkan pintu stadion.

Seharusnya steward stanby di pintu stadion sehingga bisa dilakukan upaya buka semaksimal mungkin.

4. Kompol Wahyu SS, Kabag Ops Polres Malang

Sebagai Kabag Ops Polres Malang, Wahyu SS sebenarnya mengetahui aturan FIFA tentang larangan penggunaana gas air mata.

Namun ia tidak mencegah atau melarang pemakaian gas air mata di stadion dan pada saat pengamanan tidak mengecek kelengkapan yang dibawa personel.

5. AKP Hassarman, Danki 3 Brimob Polda Jatim

Memerintahkan anggotanya melakukan penembakan gas air mata

6. AKP Bambang Sidik Ahmadi, Kasat Samapta Polres Malang

Memerintahkan anggotanya melakukan penembakan gas air mata.

Seperti diketahui, tragedi Kanjuruhan Malang usai laga Arema vs Persebaya akhir pekan lalu, menyebabkan 131 nyawa melayang dan ratusan lainnya luka-luka.

Menurut Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, keenam tersangka Kanjuruhan Disaster dijerat dengan Pasal 359 dan 360 kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) tentang kelalaian yang menyebabkan kematian, dan Pasal 103 ayat 1 UU nomor 11 Tahun 2022 tentang keolahragaan.

“Berdasarkan gelar perkara dan alat bukti permulaan yang cukup, maka ditetapkan saat ini enam tersangka,” ujar Kapolri. (medil/pojoksatu)